Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 4

Antaji memiliki nilai yang sangat fantastis. Jika ingin menjualnya dengan cepat, satu-satunya cara adalah melalui rumah lelang. Jadi, apakah Pandu melihat perhiasan itu muncul di daftar lelang? Anita tidak langsung menjawab. Dia justru bertanya balik, "Apa kamu pergi ke rumah lelang?" Pandu tertegun sejenak. Tatapannya tampak menghindar, butuh beberapa detik baginya untuk menjawab, "Aku ... aku ingin membelikanmu beberapa perhiasan baru." Anita berpikir, 'Membelikan perhiasan untukku, atau untuk Julia?' Julia baru saja memberinya kejutan yang luar biasa, tentu saja pria itu harus memberikan imbalan yang setimpal. Anita sudah berhasil menguasai emosinya. Suaranya terdengar sangat tenang saat berkata, "Aku nggak menjualnya, aku mendonasikannya." Ketika mendengar itu, Pandu menghela napas tak berdaya, lalu menggenggam tangan istrinya. "Anita, aku tahu kalau kamu sangat baik hati. Tapi kalau ingin berdonasi, kamu bisa menggunakan barang lainnya. Jangan yang satu ini." Setelah mengatakan ini, Pandu mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya, lalu meletakkannya di hadapan Anita. Kotak beludru hitam itu terbuka, menampilkan kalung Antaji. Kilau permatanya masih memukau seperti sedia kala. "Aku sudah membelinya kembali. Ini adalah bukti cintaku padamu. Kamu nggak boleh melepaskannya." Setelah berkata demikian, Pandu kembali memakaikan kalung itu ke leher Anita dengan tangannya sendiri. Anita menatap kalung yang telah kembali ke pemilik aslinya itu, lalu tersenyum getir dalam hati. Dia berpikir, 'Pandu, oh Pandu ... aktingmu benar-benar luar biasa.' Dia baru saja bergegas pulang dari pelukan wanita lain, tetapi sekarang dia sudah bisa mengucapkan kata-kata cinta yang begitu manis, seolah tidak terjadi apa-apa. Malam harinya, saat Anita baru saja akan terlelap, ponsel Pandu tiba-tiba berdering. Pria itu segera mematikan layarnya, lalu menepuk-nepuk punggung Anita dengan lembut untuk menidurkannya kembali. Namun, beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali berdering. Setelah berulang kali terjadi, Pandu mengerutkan kening. Karena takut suara itu akan mengganggu tidur istrinya, dia terpaksa mengangkat telepon tersebut. Di dalam kamar yang sunyi, suara dari ujung lain telepon terdengar sangat jelas. "Pandu! Ayo keluar bermain! Kami semua sudah berkumpul, hanya menunggumu saja." Pandu menolak tanpa berpikir panjang, "Aku harus menemani Anita tidur. Aku akan menutup teleponnya." "Hei, hei, tunggu dulu! Jangan menjadi budak istrimu terus! Sudah berapa lama kamu nggak berkumpul bersama dengan teman-temanmu ini?" "Benar. Orang lain akan melupakan teman begitu mendapatkan istri, tapi kamu benar-benar memutuskan hubungan dengan teman begitu mendapatkan istri! Kamu keterlaluan!" Suara di ujung lain terdengar sangat gaduh. Pandu menutupi mikrofon ponselnya sambil berkata, "Sudah, diam kalian. Aku sudah mengatakan kalau nggak ada yang lebih penting di dunia ini selain istriku. Aku ingin menemaninya." Meski Pandu sudah berkata demikian, orang-orang di telepon tetap tidak menyerah. Mereka bergantian membujuk Pandu, bertekad untuk menyeret pria itu keluar malam ini. Di tengah perdebatan itu, Anita yang terbangun akhirnya bersuara, "Pergilah berkumpul dengan mereka. Kalian sudah lama nggak bertemu." Pandu tampak sangat enggan. Namun, karena istrinya yang meminta, dia akhirnya mengajukan syarat, "Kalau begitu kamu harus ikut. Kalau kamu nggak pergi, aku juga nggak akan pergi." Orang-orang di telepon segera ikut membujuk, "Anita, bagaimana kalau kamu ikut bersenang-senang dengan Pandu? Sekali-kali keluar untuk mencari suasana baru akan menyenangkan!" "Ya, Anita. Kami mohon ikutlah. Kalau kamu nggak ikut, Pandu nggak akan mau datang." Akhirnya, setelah Anita mengangguk setuju, barulah Pandu bersedia beranjak keluar rumah. Begitu pintu ruang pribadi dibuka, Pandu melihat teman-temannya sedang asyik memeluk belasan wanita di sisi kiri dan kanan mereka. Pandu langsung mengerutkan kening, lalu berbalik hendak pergi. Teman-temannya segera tersadar, lalu buru-buru mengusir para wanita di samping mereka. "Pergilah, pergilah! Cepat pergi dari sini!" Setelah semua wanita itu pergi, teman-temannya menghela napas, lalu merangkul bahu Pandu. "Pandu, kamu benar-benar nggak berubah setelah bertahun-tahun ini. Selain Anita, nggak ada wanita lain yang boleh mendekatimu." Pandu mendorong mereka dengan wajah merendahkan, lalu menepuk bahunya, seolah sedang membersihkan debu yang sebenarnya tidak ada. "Aku ini pria beristri, aku harus memberikan rasa aman pada Anita. Bagaimana kalian bisa memahaminya? Dasar para pria lajang." Seketika itu juga, seisi ruangan tertawa riuh dan menggoda Anita. Meskipun ini adalah acara kumpul bersama teman, tatapan Pandu hanya tertuju pada Anita sejak awal hingga akhir. Jika ada yang menyalakan rokok, dia akan langsung memberikan tatapan mengancam hingga orang itu mematikan rokoknya. Dia berkata, "Anita nggak suka bau asap rokok." Jika ada yang menawarinya minum, dia akan menggeleng dengan tegas tanpa ragu, lalu berujar, "Anita nggak suka bau alkohol di tubuhku." Jika ada yang bernyanyi terlalu keras, dia akan mengernyitkan kening sambil memberi perintah, "Matikan, Anita suka ketenangan." Pandu menolak semua ajakan temannya dengan wajah dingin, hanya fokus mengupas buah untuk Anita. Tangannya dengan lincah memainkan pisau buah, hingga semangkuk potongan buah yang rapi disodorkan dengan nada membujuk ke hadapan istrinya. "Anita, makanlah." Ketika menyadari bahwa gaun yang dikenakan Anita cukup tipis, sementara suhu AC cukup rendah, Pandu segera melepaskan jasnya, lalu menyampirkannya ke bahu istrinya. "Anita, apa sekarang sudah lebih baik? Apa kamu masih merasa dingin?" Teman-teman Pandu kembali bersorak dan berkomentar dengan iri, "Pandu, kamu memang pantas mendapatkan istri sehebat ini!"

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.