Bab 5
Anita tetap diam sepanjang waktu. Setelah menemani suaminya sejenak, dia merasa tak sanggup lagi meneruskan sandiwara ini.
"Ini sudah larut, aku akan pulang duluan," kata Anita.
Pandu sontak ikut berdiri, hendak beranjak pergi, tetapi teman-temannya segera menahannya.
"Kesehatan Anita sedang nggak begitu baik, dia memang harus banyak beristirahat. Tapi kita sudah lama nggak berkumpul, jadi kamu nggak boleh pergi secepat ini!"
"Benar, biarkan Anita pulang untuk tidur dengan nyenyak. Kamu harus menemani kami bersenang-senang di sini."
Anita menarik tangannya dari genggaman Pandu, lalu berujar perlahan, "Sopir akan mengantarkanku. Kamu bisa tetap di sini."
Begitu kalimat itu selesai, dia langsung berbalik dan melangkah pergi.
Anita berjalan begitu cepat hingga Pandu tak sempat menghentikannya.
Tak lama setelah mobil melaju, tangan Anita menyentuh sebuah ponsel di saku jas yang dia kenakan. Ini bukan miliknya.
Ponsel dengan pelindung ponsel berwarna hitam ini milik Pandu.
Anita mengernyitkan kening, lalu meminta sopir untuk memutar balik.
Begitu mobil berhenti di depan bar, Anita melihat Julia turun dari sebuah taksi.
Wanita itu terus memeriksa riasannya melalui layar ponsel, lalu berjalan dengan terburu-buru menuju ruang pribadi tanpa memperhatikan jalan.
Tanpa sadar, Anita meremas ponsel di genggamannya, lalu mulai mengikuti langkah Julia.
Benar saja, langkah Julia terhenti tepat di depan ruangan tempat Pandu berada.
Begitu pintu terbuka, Julia langsung berlari ke pelukan pria itu.
Pandu melingkarkan lengan di pinggangnya dengan sigap, lalu membelai rambutnya dengan penuh kasih. "Kenapa kamu datang secepat ini?"
Julia bersandar di bahunya sambil tersenyum manja. "Aku merindukanmu! Begitu menerima teleponmu, aku langsung ke sini."
Pandu terkekeh pelan. "Kalau begitu, ini hadiahnya."
Pria itu mendaratkan ciuman panas di bibir Julia. Dalam sekejap, keduanya telah larut dalam cumbuan yang membara.
"Sudah, sudah! Jangan pamer kemesraan di sini!"
Teman-teman Pandu sama sekali tidak terkejut. Sebaliknya, mereka justru tertawa dan menggoda keduanya.
Anita berdiri tertegun di balik celah pintu. Ketika menyaksikan pemandangan itu, dia merasa sekujur tubuhnya mendingin.
Ternyata ... semua orang mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Julia.
Selama ini, mereka semua hanya sedang berakting di hadapannya.
"Pandu, sekarang Julia sudah di sini. Bagaimana kalau kita memulai permainan yang sedikit lebih berani?"
Teman-teman Pandu menaikkan alis sambil menyeringai. Mereka bertepuk tangan, memanggil kembali para wanita yang sempat diusir tadi dari ruangan sebelah.
Tak butuh waktu lama, hampir setiap pria di sana sudah memangku seorang wanita.
Permainannya sederhana, yaitu memutar botol minuman. Siapa pun yang ditunjuk oleh mulut botol harus memilih antara kebenaran atau tantangan.
Setelah beberapa putaran, botol itu akhirnya berhenti tepat di depan Pandu.
Sorakan riuh memenuhi ruangan, suasana pun mencapai puncaknya.
"Pandu, kapan terakhir kali kamu melakukannya?"
Orang yang bertanya tersenyum mesum, sementara semua orang di sana paham apa maksudnya.
Pandu menaikkan alis, lalu menjawab dengan nada tenang yang provokatif, "Kemarin, di dalam mobil."
Jawaban itu langsung memicu kehebohan.
"Sialan! Hebat sekali! Ceritakan bagaimana rasanya!"
Wajah Julia sudah memerah karena malu. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Pandu. Pria itu menyunggingkan senyum simpul, lalu mengucapkan kata demi kata, "Dia melayaniku dengan sangat baik. Benar-benar ... nikmat."
"Hahahaha! Sialan, bukannya aku sudah mengatakan sejak lama kalau bunga liar jauh lebih harum daripada bunga di rumah!"
"Benar, Pandu. Untuk pria dengan status seperti kita, siapa yang nggak memiliki simpanan di luar?"
"Asal disembunyikan dengan baik, kamu bisa bersenang-senang seumur hidup. Anita nggak akan pernah mengetahuinya."
Setelah mengatakan ini, teman-teman Pandu mulai menciumi pasangan di samping mereka, sementara tangannya yang mulai meraba-raba.
Ketika mendengar nama Anita disebut, senyum di wajah Pandu mendadak sirna. Wajahnya menjadi muram dan serius. "Jangan berani-berani membuat keributan di depan Anita. Kalau sampai terjadi ... kalian akan tahu sendiri akibatnya."
"Ya, ya! Anita nggak akan mengetahuinya!"
Setiap kata itu menusuk telinga Anita tanpa terlewat satu pun.
Di dalam sana, suara tawa meledak berulang kali. Namun, di luar sini, dunia Anita seakan sudah membeku. Kakinya terasa mati rasa. Dia melangkah pergi seperti mayat hidup yang kehilangan jiwanya.
Sopir yang melihat ada yang tidak beres, segera menghampiri, bahkan berniat masuk untuk melapor pada Pandu. Namun, Anita segera mencegahnya.
"Kamu nggak perlu mengantarkanku. Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Satu hal lagi, jangan memberi tahu Pandu kalau aku pernah kembali ke sini," perintah Anita.
Anita menyuruh sopir itu pergi sendirian. Kemudian, dia berjalan menyusuri jalanan sepi yang tanpa orang.
Tiba-tiba, hujan turun dengan derasnya. Namun, dia seolah tidak merasakannya.
Air hujan yang dingin justru membuatnya makin sadar akan kenyataan yang pahit.
Anita tidak tahu sudah berapa lama dia berjalan.
Sangat lama, terasa jauh lebih lama dibandingkan saat dia berusia 17 tahun di malam berhujan, ketika dia terkilir dan Pandu menggendongnya pulang ....
Ternyata ketulusan hati memang bisa berubah secepat kilat.