Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 2

Melihat mata Nadia yang memerah, jantung Darian tiba-tiba terasa seperti terhenti sekejap. Namun detik berikutnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang santai namun memikat. "Sayang ... kalau aku nggak menikahimu, apa kamu mau bikin aku melajang seumur hidup?" Darian melepaskan tangan yang semula melingkari pinggang Nadia, dan menggenggam tangan Nadia yang dingin, lalu menempelkannya ke dada sendiri. "Maafkan aku, Sayang ... aku sudah salah sampai kamu harus menanyakan hal seperti ini padaku. Aku nggak memberimu rasa aman yang cukup." Darian menarik tangan Nadia, membimbingnya menelusuri dadanya hingga turun, hingga akhirnya berhenti di area ritsleting celana panjangnya. "Sayang ... coba sentuh ini. Cuma kamu yang dia respons." Merasakan gairah pria itu, Nadia seperti tersengat listrik dan segera menarik tangannya kembali. Dia mundur dengan panik hingga punggungnya menempel di wastafel. "Aku mengerti." "Di sini terlalu pengap, ayo kita keluar." Darian tersenyum rendah, lalu dengan santai menggenggam tangan Nadia, menariknya berjalan keluar. Namun Darian tidak membawanya kembali ke ruang VIP, melainkan menahan Nadia di kursi belakang mobil, menekannya di bawah tubuhnya. "Sayang ... kamu harus memadamkan api yang kamu nyalakan ... " Nafas hangat pria itu menyentuh telinganya, membuat tubuh Nadia sedikit gemetar. Bibir hangat Darian menyentuh lehernya, sementara kancing di dada Nadia mulai terbuka. Hati Nadia bergejolak. Saat dia hendak mendorong Darian, tiba-tiba ponsel berbunyi nyaring di dalam mobil. Awalnya Darian tidak berniat menjawab, tapi Nadia mengambil ponsel yang terjatuh di sampingnya dan menyerahkannya ke arah Darian. "Jawab saja ... takutnya itu penting." Darian hendak menolak, tapi begitu matanya menangkap layar ponsel, ekspresinya langsung berubah drastis. "Baik, aku menurutimu, Sayang." Setelah itu, Darian mencium dahi Nadia dengan lembut sebelum keluar dari mobil. Melalui kaca mobil, Nadia melihat Darian menjawab telepon dengan senyum hangat di wajahnya. Beberapa saat kemudian, Darian kembali membuka pintu dan menatap Nadia dengan tatapan sedikit menyesal. "Sayang ... ada urusan penting di kantor. Biar aku suruh sopir mengantarmu pulang, ya?" Nadia tersenyum tipis dan menggeleng. "Nggak perlu. Aku mau jalan-jalan sebentar dulu, nanti aku naik taksi sendiri." Darian membelai kepala Nadia dengan lembut. "Oke, sayang." "Pulang lebih awal ya. Begitu sampai rumah, jangan lupa kirim pesan ke aku." Nadia mengangguk, kemudian turun dari mobil. Dia berdiri sebentar, menatap mobil Darian yang menjauh, lalu menghentikan taksi yang lewat. "Ikuti Maybach itu," katanya. Menurut Nadia, orang yang bisa membuat Darian tersenyum begitu lembut dan membuatnya tak sabar untuk segera pergi, hanyalah tunangannya. Sopir tak banyak bertanya. Dia langsung menginjak pedal gas dan mengikuti mobil Darian. Mobil Maybach itu berhenti dengan tenang di depan sebuah apartemen mewah. Melihat gedung yang sudah familier, Nadia merasa sedikit bingung. Belum sempat dia mencerna pikirannya, Darian sudah turun dari mobil. Dia bersandar di pintu mobil, matanya memancarkan antisipasi yang tak bisa disembunyikan. Beberapa saat kemudian, sosok wanita cantik dan anggun berlari masuk ke pelukannya. Mereka berdua berpelukan erat, dan Darian mencium kening wanita itu. Pengendalian diri dan kelembutan yang terlihat di matanya adalah sesuatu yang belum pernah dilihat Nadia sebelumnya. Melihat kemesraan mereka, hati Nadia terasa seperti disayat perlahan, sakitnya menusuk setiap bagian dirinya. Namun detik berikutnya, ketika dia menatap wajah wanita itu dengan jelas, tubuhnya seakan tersambar petir. Tunangan Darian bukan orang lain ... tetapi gadis yang selama ini dia bantu dan biayai sejak lama ... Elita Zaraya. Lima belas tahun lalu, ketika sedang berlibur, Nadia bertemu seorang gadis kecil yang memunguti sampah untuk dimakan. Gadis itu baru berusia 8 tahun, badannya kurus seperti anak kucing kecil. Nadia merasa iba, dan karena mereka memiliki nama belakang yang sama, dia pun mulai menanggung biaya hidup gadis itu selama lebih dari sepuluh tahun. Sejak liburan itu berakhir, Nadia tidak pernah bertemu lagi dengan Elita. Mereka hanya berkomunikasi secara daring. Seiring bertambahnya usia gadis itu, kebutuhan biaya hidupnya juga semakin besar, dan Nadia tak pernah menaruh curiga sedikit pun. Bahkan ketika mengetahui Elita datang ke Perida untuk sekolah, Nadia meminjamkan apartemennya agar gadis itu bisa tinggal sementara. Agar tidak mengganggu kehidupan Elita, Nadia jarang menghubunginya, namun Elita selalu senang membagikan kisah hidupnya. Nadia tak pernah menyangka bahwa tunangan Darian ternyata adalah Elita. Namun sebelum sempat mencerna semuanya, Maybach yang ada di depannya sudah menjauh. Nadia segera menyuruh sang sopir mengejar. Maybach itu memasuki sebuah rumah tua. Darian turun lebih dulu, lalu dengan sopan membuka pintu untuk Elita. Ayah dan ibu Darian sudah menunggu di depan rumah, dan begitu melihat keduanya keluar, wajah mereka dipenuhi senyum hangat. "Om, Tante, maaf hari ini aku merepotkan kalian lagi ya." "Anak ini ... masih memanggil om dan tante? Kamu sudah harus panggil kami ayah dan ibu." Nadia berdiri tak jauh dari sana, menyaksikan kebahagiaan keluarga itu. Wajahnya tetap dingin dan tak tersentuh. Selama tiga tahun berpacaran, Nadia belum pernah bertemu dengan orang tua Darian. Setiap kali dia mengungkit keinginan itu, Darian selalu berkata, "Tunggu saja, nanti ada waktu yang tepat." Ternyata, yang dia tunggu bukan waktu yang tepat, melainkan orang yang tepat. Hati Nadia terasa seperti disobek perlahan. Dia ingin maju dan menuntut penjelasan, tetapi sadar dirinya bahkan tidak memiliki hak untuk itu. Sambil menahan sakit di dadanya, dia diam-diam menunggu tidak jauh dari sana. Hingga malam semakin larut, dia akhirnya melihat mereka lagi. Elita bersandar di pelukan Darian, sementara Darian menundukkan wajah menatapnya dengan tatapan penuh kelembutan. Setelah kembali ke dalam mobil, Darian mengeluarkan sebuah kalung berlian dan meletakkannya di leher Elita. Nadia langsung mengenalinya. Itu adalah kalung berlian berkualitas tinggi. Di pergelangan tangannya sendiri, juga ada sebuah gelang, hanya saja terbuat dari berlian kecil. Itu adalah hadiah tambahan dari kalung itu. Dia berdiri terpaku, dilanda perasaan campur aduk antara ingin menangis dan tertawa. Tubuhnya terasa nyeri seolah terbelah, namun di celah-celah rasa sakit itu, hatinya perlahan menenangkan diri. Hubungan tiga tahun itu akhirnya benar-benar berakhir di malam itu. Dia berbalik ingin pergi, tapi kakinya terasa seberat timah dan tak bisa digerakkan sama sekali. Sementara Darian, yang duduk di kursi pengemudi, melihat dengan jelas sosok yang sangat familier melalui kaca depan.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.