Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3

Nadia berdiri di pinggir jalan. Matanya sembap dan memerah, tetapi setetes air mata pun sudah tak mampu jatuh lagi. Tiba-tiba, beberapa berandalan berjalan sempoyongan ke arahnya. "Hei, cantik, sendirian saja nangis di sini? Dibuang pacar, ya?" Berandalan lainnya langsung ikut tertawa mengejek. "Iya, iya. Sedih sekali nangisnya. Sini biar kita temani main sebentar. Dijamin langsung senang lagi!" Setelah itu, beberapa orang langsung mengepungnya, menarik tangan Nadia dan hendak membawanya pergi. Di dalam mobil, Darian tiba-tiba menginjak rem. Dari kursi samping terdengar suara Elita yang dipenuhi kebingungan. "Darian, kamu kenal perempuan itu?" Rasa kesal bercampur nyeri terpantul di mata Darian. Dia terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara rendah ... "Nggak." Dia segera menyalakan mobil dan melaju pergi. Namun saat kendaraan itu melewati Nadia, pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan mata Nadia yang memerah. Dalam sekejap mata mereka saling menatap, dan hati Nadia bergetar hebat. Dia hanya bisa menatap Darian yang menjauh, merasakan hatinya seakan berlubang besar, darah mengalir deras keluar, sakitnya begitu dalam hingga berubah menjadi mati rasa. Belum sempat dia mencerna semuanya, para berandalan itu sudah menyeretnya ke arah hutan. Nadia meronta dan berteriak minta tolong, tetapi sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya. Darah langsung merembes dari sudut bibirnya. Pandangannya menghitam, dan tubuhnya ambruk ke tanah. Namun mereka sama sekali tidak berniat berhenti. Nadia diseret lagi menuju bagian hutan yang lebih dalam. Kulitnya yang terbuka tergores batu-batu tajam, meninggalkan jejak darah yang mengerikan di tanah. Menahan rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang, Nadia memaksa dirinya tetap sadar, matanya sibuk mencari apa pun yang bisa dia gunakan untuk melawan. Akhirnya, dia meraba sebuah batu. Saat salah satu pria membungkuk mendekat, dia menghantamkan batu itu ke kepala pria tersebut hingga darah langsung mengucur. Namun dia sendirian. Meski memegang senjata, bagaimana mungkin dia bisa melawan beberapa pria dewasa sekaligus? Tak lama kemudian, tenaganya pun habis. Pria yang kepalanya dia hantam itu mengambil batu lain dan menghantamkannya ke arah dia. Darah mengalir dari dahinya, membuat pandangannya kabur. Sedetik sebelum kehilangan kesadaran, dia mendengar suara kain yang terkoyak. Saat terbangun kembali, yang terlihat adalah langit-langit kamar tidur yang begitu familier. Melihat dia siuman, Darian yang berjaga di sisinya semalaman segera menggenggam tangannya. "Sayang, akhirnya kamu bangun. Untung aku datang tepat waktu. Ada bagian tubuhmu yang masih terasa sakit?" Pandangan Nadia yang semula buyar perlahan kembali fokus. Dia berkedip pelan dengan susah payah, lalu tanpa sengaja bertemu dengan mata Darian yang dipenuhi kekhawatiran. Hatinya dan hidungnya terasa perih bersamaan, air mata langsung meluap tanpa bisa ditahan. "Darian, bukankah kamu seharusnya memberi penjelasan?" Dia menggigit bibirnya, suara yang keluar terdengar serak. Tatapannya yang penuh tuntutan bertemu dengan mata Darian. Bibir pria itu terkatup rapat, sorot matanya gelap dan dalam, sulit ditebak. "Sayang, kamu seharusnya paham jarak di antara kita." "Sebagai pewaris Keluarga Prasetya, aku nggak mungkin menikahi perempuan tanpa status dan kedudukan." "Elita adalah putri sulung Keluarga Zaraya. Aku perlu menikahinya, tapi aku juga nggak mau mengakhiri hubungan kita." "Tenang saja, aku nggak akan membiarkan Elita mengetahui keberadaanmu." Menghadapi tatapannya yang begitu serius, Nadia seketika terpaku. Dia menahan perih di tenggorokannya, namun tetap bersikeras bertanya ... "Darian, lalu aku ini apa? Kekasih simpananmu?" Meski sudah memutuskan untuk pergi, dia tetap ingin mendapatkan jawaban yang jelas. "Memberi label apa pun pada hubungan kita rasanya nggak tepat. Sayang, kamu hanya perlu tahu bahwa aku mencintaimu." Darian mengucapkannya dengan lembut, mengangkat tangan hendak menyentuh pipi Nadia, namun Nadia memalingkan wajahnya. Mendengar jawabannya, dada Nadia terasa seolah diikat sebongkah batu besar, diseret perlahan hingga tenggelam ke dasar. Dia memalingkan wajahnya dan berkata datar ... "Aku nggak mau menjadi orang ketiga. Jadi, kita putus saja." Mendengar itu, raut wajah Darian mengeras, sorot matanya seketika berubah tajam. Dia mencengkeram dagu Nadia, memaksanya menatap dirinya. "Sayang, jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini." "Aku sudah bilang, meski aku menikah, itu nggak akan memengaruhi hubungan kita." Nada bicaranya tenang, ekspresinya pun dingin, namun hasrat posesif di matanya justru semakin jelas. Melihat mata Nadia yang penuh perlawanan, Darian mengangkat alisnya, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. "Sepertinya kamu masih belum bisa menerima kenyataan. Kalau begitu, aku hanya bisa membuatmu ‘menyerah’ dengan caraku sendiri ... " Terdengar bunyi klik pelan saat Darian melepas ikat pinggangnya dan melemparkannya ke samping. Menyadari apa yang hendak dia lakukan, Nadia meronta sekuat tenaga, namun pergelangan tangannya sudah lebih dulu dicengkeram Darian. Seberapa pun dia berusaha, semuanya sia-sia. "Lepaskan aku!" "Sayang, jangan melawan. Aku nggak ingin melukaimu." Usai berkata demikian, Darian menundukkan kepala dan mencium bibirnya dengan lembut. "Sayang, jangan pernah meninggalkanku ... " Bisikan itu terdengar di telinganya, lembut namun dipenuhi rasa kepemilikan yang menyesakkan. Di dalam kamar, terdengar suara kain yang terkoyak, sementara Nadia memejamkan mata dengan penuh kepedihan.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.