Bab 7
"Dia benar-benar mati kali ini?"
Jensen tertawa ringan, nada bicaranya seperti mengejek.
Dia tak menyangka Nindya berani bersekongkol dengan Yanne untuk menipunya.
Hanya gara-gara rumah tua itu?
Dia mengerutkan kening, lalu memasukkan alamat rumah Yanne ke navigasi mobil.
"Sudah, jangan berpura-pura. Aku tahu dia bersamamu."
"Dia cuma mau cerai, dan aku setuju. Suruh dia angkat telepon!"
Mengingat tingkah Nindya akhir-akhir ini yang makin keterlaluan, Jensen memutuskan begitu bertemu nanti akan langsung menandatangani surat cerai.
Dia ingin melihat sendiri, bagaimana Nindya bisa hidup tanpa dirinya.
[Bajingan! Kamu benar-benar bajingan!]
Dari gagang telepon terdengar raungan marah Yanne, membuat mata Jensen diselimuti bayangan kelam.
[Nindya sudah meninggal! Dia benar-benar meninggal!]
[Segera datang ke sini! Butuh tanda tangan keluarga inti untuk proses kremasi, hanya kamu yang bisa ... ]
Yanne menyebutkan sebuah alamat, lalu langsung menutup telepon.
Jantung Jensen bergetar keras, pa

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link