Bab 7
"Dokter, apa kamu di rumah?"
Suara Cyntia terdengar lirih, selembut kucing yang sedang mencari perlindungan.
Nara tertegun dan menoleh.
Dia melihat Cyntia dengan santai memasukkan kode dan masuk.
Gerakannya begitu lancar. Jelas ini bukan kali pertama dia datang ke sini.
Sungguh menggelikan. Nara hampir tertawa karena marah.
Ini rumahnya. Rumah yang seharusnya hanya miliknya dan Reza.
"Kok kamu bisa tiba-tiba datang ke sini?"
Reza sempat terdiam sesaat, perhatiannya tanpa sadar tertarik ke arah Cyntia.
Cyntia mengendus hidungnya, lalu membungkuk dalam-dalam dengan sikap yang tampak sungguh-sungguh. Dengan suara tercekat, dia berkata, "Aku datang untuk minta maaf, Kak Nara. Maafkan aku."
"Tadi itu cuma permainan tantangan. Semua orang sudah kebanyakan minum. Kupikir hanya sekadar kecupan, dan nggak akan jadi masalah. Aku benar-benar nggak menyangka kamu akan seserius ini menanggapinya ... "
Dia mengangkat sepasang boneka tanah liat kecil yang terlihat lucu dan dibuat dengan rapi. Bibirnya terkatup rapat seolah menahan emosi. "Ini hadiah yang aku buat sendiri. Sepasang, supaya lengkap. Anggap saja sebagai doa agar kamu dan Reza bisa bersama sampai tua."
Ucapan itu tepat mengenai perasaan Reza.
Cyntia tampak patuh dan manis. Dibandingkan dengan Nara, raut tidak senang di wajah Reza justru semakin jelas.
Cyntia berlari kecil menghampiri Nara. Sambil terus mengucap, "Kak Nara, tolong maafkan aku." Dia memaksa Nara menerima hadiah itu, jemarinya mencengkeram seolah tidak memberi ruang untuk menolak.
Menghadapi sikap pura-pura polos yang penuh kepalsuan itu, Nara merasa muak. Dia menepis tangan Cyntia dan memiringkan tubuh, berusaha menghindar.
Tanpa Nara sadari, Cyntia justru terjatuh ke belakang seolah didorong dengan tenaga besar.
"Ah ... "
Teriakan kaget terdengar bersamaan dengan suara boneka tanah liat yang pecah menghantam lantai.
Pinggang Cyntia membentur sudut lemari kaca, air matanya langsung mengalir deras seperti untaian mutiara. "Sakit ... "
Seakan menanggung ketidakadilan yang luar biasa, dia terisak keras. "Kak Nara, padahal aku nggak mempermasalahkan tamparanmu, aku juga sudah minta maaf ... kenapa kamu masih tega mendorongku ... "
Reza mengepalkan tangan, lalu dengan cepat mengangkat Cyntia ke dalam pelukannya untuk menenangkan. Setelah itu, dia menatap Nara dengan raut penuh kekecewaan, rahangnya mengeras. "Nara, kamu keterlaluan."
"Apa sebenarnya salah Cyntia sampai kamu menjadikannya pelampiasan amarahmu?"
Air mata gadis di pelukannya seolah menghantam dada Reza. Dia menarik napas dalam, lalu dengan nada tegas memerintah, "Minta maaf pada Cyntia. Sekarang."
"Nggak mungkin."
Nara mengangkat dagunya, lehernya jenjang dan angkuh. Sorot matanya dingin, memantulkan kedekatan Reza dan Cyntia, tanpa sisa kehangatan sedikit pun. "Aku nggak serendah itu untuk melakukan perbuatan tercela. Hubungan kalian berdua saja sudah nggak jelas, sementara aku, tunanganmu, bahkan nggak diberi penjelasan apa pun."
"Dan sekarang kamu malah memintaku meminta maaf padanya? Sungguh menggelikan."
"Jangan terus menghindar, Reza," kata Nara tegas. "Katakan yang sebenarnya. Apa kamu mencintai Cyntia?"
Suara Nara jelas dan menghantam telinga Reza tanpa ampun.
Gejolak emosinya seolah disiram air es, membuat dadanya dipenuhi kegelisahan. Dia sadar, jika terus mengelak, dia benar-benar bisa kehilangan Nara.
Itu sesuatu yang tak sanggup dia terima. Namun ketika menunduk dan melihat Cyntia dalam pelukannya, keraguannya kembali mencengkeram. Setelah terdiam cukup lama, bibirnya akhirnya bergerak ragu. "Aku ... "
"Hah?" Cyntia tiba-tiba menunjuk ke arah belakang, suaranya bergetar antara tangis dan keterkejutan. "Kak ... Nara, kenapa tiket pesawatnya dibakar?"
Kalimat itu belum sepenuhnya selesai, tetapi napas Reza sudah terhenti. Tubuhnya menegang, lalu dia menoleh perlahan.