Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 8

Pikiran Reza dipenuhi oleh Nara hingga dia sama sekali tidak menyadari. Baru sekarang dia melihatnya dengan jelas seluruh jerih payah yang dia kumpulkan selama tiga tahun, hancur tanpa sisa. Dalam sekejap, semua keraguan, rasa bersalah, dan penyesalan lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah amarah yang meluap-luap. Reza tiba-tiba teringat setiap malam panjang saat dia menunggu Nara pulang. Setiap lembar tiket itu adalah wujud kerinduannya, penopang harapan yang membuatnya mampu bertahan. Namun kini, semua itu berubah menjadi abu tak bernilai seperti sampah, hancur oleh sikap Nara yang menurutnya keras kepala dan tak terkendali. "Ini perbuatanmu?" Suara Reza terdengar datar. Namun nalar dalam kepalanya sudah putus, digantikan aura dingin yang sarat kemarahan. "Ya." Nara selalu berani bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. "Kenapa?" Reza menekan dengan nada cepat dan menekan. "Kenapa?" ulang Nara dengan nada datar. Melihat ekspresi Reza yang tampak begitu terluka, bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis penuh ejekan. "Reza, kamu benar-benar munafik. Kamu mau menipu siapa bersikap seperti itu?" "Kamu boleh saja membohongi diri sendiri dan menyangkal perubahan hatimu, tapi kamu kira aku buta?" "Kalau memang kamu sudah nggak mencintaiku, lalu untuk apa semua kenangan ini masih kamu simpan? Untuk menyakiti siapa?" Rasa panas menyerbu pelupuk matanya. Nara menggigit bibirnya kuat-kuat, mengucapkan setiap kata dengan tegas dan jelas, "Aku ... merasa ... muak." "Cukup!" Dada Reza naik turun hebat. Dia meraih kursi di sampingnya dan menghantamkannya ke lemari kaca. Di tengah suara kaca yang pecah berhamburan, urat di pelipisnya menegang keras. "Nara, kamu sudah kelewat batas!" "Di ruang bawah tanah itu penuh ular dan tikus. Aku mau kamu benar-benar merasakan apa arti jijik yang sesungguhnya!" Reza mengayunkan tangannya dengan dingin, dan beberapa pelayan langsung menyeret Nara ke arah basement. "Reza, apa hakmu memperlakukanku seperti ini? Lepaskan aku!" Nara meronta tak percaya, tetapi yang dia dapatkan hanyalah sosok Reza yang menjauh tanpa sedikit pun emosi. Tenaga para pelayan sangat kuat. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Nara, dan salah satu dari mereka menekan suaranya, penuh kebencian, "Berhenti berteriak! Selama tiga tahun kamu nggak ada, Nona Cyntia-lah nyonya di rumah ini!" Salah satu dari mereka mengambil pil berwarna pink, lalu tanpa berkata apa-apa membuka rahang Nara dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Uhuk!" Nara masih pusing akibat tamparan tadi, dan telinganya berdengung. Kini, sesuatu tiba-tiba masuk ke tenggorokannya. Dia langsung terbatuk keras, berusaha memuntahkannya. "Apa yang kalian masukkan ke mulutku!" "Tentu saja barang bagus dari Nona Cyntia!" Seorang pelayan menjambak rambut Nara dengan kasar, lalu menendangnya sekali. "Telan!" Pintu basement ditutup dengan dentuman keras. Bahkan cahaya bulan pun tak mampu menembus masuk. Kegelapan menekan dari segala arah, disertai suara tikus dan serangga yang berlarian. Namun Nara sudah tak punya tenaga untuk merasa takut. Napasnya tersengal. Di sekujur tubuhnya muncul bentol merah yang bengkak. Rasa gatal yang menggila membuatnya menggeliat kesakitan di lantai. Sesak napas datang tiba-tiba, seolah dadanya diremas kuat-kuat. "Reza ... " Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan ponselnya. Punggungnya basah oleh keringat dingin. Namun dari seberang, yang terdengar hanya nada sambung yang dingin dan kosong. Akhirnya panggilan tersambung. Suara Reza terdengar datar dan tanpa emosi. "Minta maaf pada Cyntia. Kalau nggak, aku nggak akan membiarkan kamu keluar." "Cyntia ... memberiku obat ... " Nara terkulai di lantai, bibirnya bergetar saat mencoba mengucapkan kata-kata itu. Namun Reza tidak memercayainya. Nada suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun. "Berhenti memfitnah Cyntia." Sebelum sambungan terputus, Nara masih sempat mendengar suara Cyntia yang manja dan lembut. "Dokter, aku sudah membuka bajuku. Tolong bantu oleskan obatnya." Tut ... tut ... Genggaman Nara melemah, dan ponsel hampir terlepas dari tangannya. Sesaat sebelum kesadarannya tenggelam sepenuhnya, sebuah kenangan menerobos masuk. Reza yang dulu, memeluknya dengan panik sambil menenangkan dengan suara lembut. Hari itu Nara tak sengaja melukai jarinya dengan pisau buah. Reza bahkan lebih panik daripada dirinya. Saat mengobati lukanya, jemari pria itu gemetar hebat. Pria itu akhirnya berkata dengan suara serak, "Maaf, Sayang ... Aku janji, aku nggak akan pernah membiarkanmu merasakan sakit lagi." Saat menutup mata, pandangannya kosong dan tak berfokus, dan sebuah air mata perlahan mengalir tanpa suara.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.