Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 9

Aroma cairan disinfektan menusuk hidung. Seorang perawat bergumam, "Akhirnya bangun juga! Kok bisa sampai menelan obat alergi? Dosisnya besar lagi, dan baru ketahuan belakangan. Waktu kamu dibawa masuk, kondisimu sudah sangat parah!" "Kalau terlambat sedikit, nyawamu bisa melayang!" Nara merasa sangat lelah, dan tenaganya hampir habis, tapi dia tetap tersenyum tipis sambil mengucap terima kasih. Tatapannya melewati perawat itu dan tertuju pada Reza yang baru saja masuk, menegaskan ekspresi tenangnya. Reza berhenti sejenak, diam beberapa detik, lalu menegur dengan serius, "Seharusnya kamu bilang langsung lewat telepon." "Aku sudah bilang Cyntia yang melakukannya." Nara menatap Reza tanpa ragu. Tanpa diduga, Reza mengangguk pelan, lalu menambahkan, "Dia nggak sengaja." "Dia melihat emosimu nggak stabil dan ingin membuatmu tenang. Niatnya baik, hanya saja dia salah mengambil obat." "Tapi aku sudah menghukumnya." Nara tidak mengalihkan pandangannya, suaranya serak. "Dihukum bagaimana?" Reza mengerutkan alis. "Gaji magangnya aku potong setengah hari." Nara sejak awal sudah menduga Reza akan berpihak, tapi dia tak menyangka pria itu bisa memanjakan Cyntia sampai sekonyol ini. "Apa itu sudah cukup?" Nara tertawa dingin. Kulitnya yang terbuka dipenuhi lepuhan bernanah akibat alergi. "Reza, aku hanya sedikit menghindar, tapi kamu malah memaksaku meminta maaf padanya." "Sementara itu, atas perintah Cyntia, para pelayan bebas memukuliku. Aku hampir mati di ruang bawah tanah setelah dipaksa menelan obat alergi. Dan semua itu dianggap lunas hanya dengan gaji setengah hari, seolah nggak pernah terjadi apa-apa?" "Reza, aku ingin tahu. Ini hukuman atau justru perlakuan manja padanya?" "Kesalahanmu yang memicu semuanya," jawab Reza dingin, tatapannya datar, tanpa emosi. "Cyntia sama sekali nggak bersalah, tapi kamu terus mengusiknya." "Aku percaya padanya. Dengan kebaikan dan kelembutannya, dia nggak mungkin sengaja menyakitimu. Kamu yang seharusnya menanggung akibatnya." "Sekali lagi, minta maaf padanya." Nara menolak. Beberapa hari berikutnya, dia tetap tinggal di rumah sakit seorang diri. Satu-satunya cara dia melihat Reza hanyalah lewat unggahan Cyntia di media sosial. Di foto itu, tangan Cyntia dengan cat kuku manis menggenggam lengan Reza yang rapi dan dingin, seolah menunjukkan keakraban mereka. Keterangannya berbunyi. [Karena tahu aku lagi sedih, kamu izin nggak kerja dan mengajakku jalan-jalan biar pikiranku lebih ringan] Mereka menonton hamparan bunga yang mekar indah, dan berjalan di bawah kembang api yang membentang di langit. Mereka menyaksikan pesta di atas kapal pesiar, dan membuat permohonan di bawah hujan meteor malam hari. Seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, perjalanan mereka cukup romantis sekaligus mewah. Saat perjalanan mereka hampir usai, Nara menarik koper dan berdiri di gerbang keberangkatan. Tiba-tiba, pengumuman terdengar di speaker, dan dia menerima pesan dari Reza. [Besok aku pulang, kita bicarakan baik-baik.] Mungkin itu permintaan damai, mungkin juga tanda pertengkaran akan berlanjut. Namun Nara tak peduli lagi. Dia mengirim email ke email kantor Reza. Di dalamnya, tersimpan semua bukti yang dia temukan beberapa hari terakhir tentang wajah asli Cyntia yang licik dan jahat. Lalu dia mencabut kartu ponselnya, memotongnya menjadi dua, dan membuangnya ke tempat sampah. Reza, hubungan kita sampai di sini saja. Kita tak akan bertemu lagi.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.