Bab 23
Bagi seseorang yang sudah terpojok tanpa harapan apa pun, kemunculan Cassandra tidak ubahnya cahaya di tengah kegelapan, satu-satunya penyelamat bagi orang yang hampir tenggelam!
Oscar menatapnya dengan linglung. Dia tidak bertanya apa-apa, hanya berkata satu kalimat, "Asal kamu menyelamatkan anak perempuanku, seumur hidup aku akan mengabdi untukmu!"
Bahkan kalau syaratnya adalah menyuruhnya mati saat itu juga, dia akan menerimanya tanpa ragu.
Cassandra tersenyum. "Aku nggak butuh kamu mengabdi untukku. Aku hanya mau tujuh puluh persen saham perusahaanmu. Kamu tetap jadi bosnya, mau dijalankan bagaimana aku nggak ikut campur. Uang aku yang keluar, kamu hanya perlu mengembangkan perusahaannya."
Apakah ini bisa disebut durian runtuh?
Perusahaannya yang sudah bangkrut itu sebenarnya tidak ada yang mau beli. Semua orang menganggap itu bisnis rugi yang tidak layak.
Namun gadis muda di depannya ini, sekali bicara langsung memberi syarat yang begitu menguntungkan dan kepercayaan yang begitu berharga!
Oscar tidak percaya, mengira dirinya sedang bermimpi, bahkan mengira gadis ini sedang bercanda.
Cassandra melihat keraguannya, lalu langsung menariknya masuk ke bank. Begitu saldo dicek, jumlahnya 120 miliar lebih, tidak kurang sedikit pun!
Kalau begitu, apalagi yang perlu dia ragukan?
Oscar menyeka air matanya, lalu mengangguk kuat-kuat. "Baik!"
"Ambil. Sembuhkan dulu penyakit anakmu baru urus karier. Uangnya pakai saja sesukamu, semua aku yang tanggung."
Setelah berkata begitu, Cassandra langsung menyelipkan kartu itu ke tangan Oscar. Dia meninggalkan nomor telepon, lalu berbalik pergi dengan santai. "Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu."
Dari awal kemunculannya sampai pergi, seperti dewa turun ke bumi lalu menghilang kembali, bahkan tidak sampai lima menit!
Selain sebuah nomor telepon, Oscar bahkan tidak tahu siapa nama atau marganya!
Dia pun kembali menangis.
Pria paruh baya bertubuh besar itu, saat ini menangis seperti seorang anak kecil.
Dia sudah memohon bantuan di mana-mana, tapi tidak mendapat sepeser pun. Gadis muda ini datang tanpa menghina, tanpa memanfaatkan keadaannya. Yang ditinggalkannya justru adalah sejumlah besar uang dan harapan untuk hidup kembali!
Beberapa saat kemudian, di mata Oscar yang semula penuh keputusasaan dan kelelahan, kini tergantikan oleh cahaya keteguhan yang lahir kembali.
Saat ini Cassandra tidak tahu, kalau tindakannya yang terlihat santai hari ini telah sepenuhnya memenangkan hati Oscar!
Di masa depan, perusahaan yang di mata semua orang hampir mustahil bangkit kembali itu, justru akan bangkit dengan daya hidup yang kuat dan agresif. Keadaannya berbalik, berakar dalam, dan tidak mungkin lagi digoyahkan!
Hingga akhirnya menjadi grup besar yang membuat banyak orang iri dan cemburu, bahkan menjadi kartu andalan bisnis di tangan Cassandra yang tidak pernah habis digunakan!
Tentu saja, itu semua adalah cerita di kemudian hari.
Saat ini, suasana hati Cassandra sangat baik.
Orang yang seharusnya direkrut Faldano di kehidupan sebelumnya, kini justru dia tarik ke pihaknya. Inilah yang disebut menempuh jalan musuh, hingga musuh tidak punya jalan lagi!
Syarat yang dia berikan pada Oscar juga jauh lebih baik ratusan bahkan ribuan kali dibandingkan yang pernah ditawarkan Faldano. Sekalipun nanti Faldano ingin merekrutnya lagi, itu sudah mustahil.
Cassandra bersenandung kecil, berjalan santai kembali ke tempat janji dengan Victor.
Awalnya dia mengira bos besar itu belum datang. Namun dari jauh, dia sudah melihat sosok tinggi ramping yang berdiri tegak bak pohon pinus, sangat mencolok.
Jelas sudah menunggunya cukup lama.
Cassandra terkejut dan langsung berlari menghampirinya. "Kak Victor, sudah menunggu lama ya? Maaf sekali, tadi ada sedikit urusan di jalan."
Victor melirik jam.
Bagus sekali.
Terlambat lima menit.
Di seluruh Kota Lumora, dari kalangan bangsawan sampai elite bisnis, tidak terhitung orang yang ingin mengajaknya makan. Tidak satu pun berani terlambat sedetik pun.
Victor melirik Cassandra lagi. Gadis kecil itu tampak polos, bahkan ada sedikit rasa hati-hati di matanya saat menatapnya.
Rasa sebal yang sempat muncul pun langsung lenyap.
"Ayo."
Begitu bos besar berbicara, Cassandra seolah mendapat amnesti.
Barusan dia memang terlalu santai sampai lupa waktu. Untung saja tidak sampai membuat bos besar marah dan langsung pergi.
Keduanya pun berjalan berdampingan masuk ke restoran.
Restoran ini bernama Restoran Mutiara, sangat terkenal di seluruh Kota Lumora. Konon para kokinya merupakan keturunan juru masak istana. Keahlian memasaknya luar biasa, siapa pun yang pernah mencicipinya pasti tidak akan melupakannya.
Namun mereka punya satu aturan yang tidak pernah berubah, setiap hari hanya melayani sembilan puluh sembilan tamu.
Begitu jumlah itu terlampaui, siapa pun yang datang, sekalipun orang penting tetap tidak akan diterima.
Bukan tidak ada yang pernah mencoba mencari masalah, tapi pemilik misterius di balik Restoran Mutiara memiliki latar belakang yang sangat kuat. Angin dari segala arah pun tidak akan mampu menggoyahkannya.
Cassandra menoleh ke kiri dan kanan. Di dalam restoran tidak terlihat satu pun tamu, hanya para pelayan yang berdiri rapi dan sopan di kedua sisi.
Dia tidak bertanya lebih jauh, langsung mengikuti Victor masuk ke dalam.
Namun adegan itu kebetulan terlihat jelas oleh Agatha yang sedang lewat!
Agatha tertegun sejenak, lalu refleks mencengkeram lengan Faldano sambil menunjuk ke arah Restoran Mutiara. "Kak Faldano, barusan aku sepertinya melihat Kakak masuk ke restoran itu dengan seorang pria. Kelihatannya cukup akrab ...."
Begitu mendengar nama Cassandra, Faldano langsung mengernyit.
"Kamu nggak salah lihat?"
"Mungkin saja ... bagaimanapun Kakak tunangan Kak Faldano, mana mungkin dia bermesraan dengan pria lain? Pasti aku salah lihat ...."
Ucap Agatha dengan ekspresi serba salah di wajahnya.
Untung saja Cassandra tidak mendengar perkataan itu. Kalau tidak, dia pasti sudah mencibir dan berkomentar, wah, benar-benar wanita munafik kelas kakap!
Alis Faldano berkerut semakin dalam. Dia melangkah lebar menuju Restoran Mutiara.
Agatha tersenyum puas.
"Kak Faldano jangan marah, tunggu aku!"
Hampir bersamaan dengan Cassandra melangkah masuk ke pintu restoran, Faldano langsung menerobos masuk dengan wajah penuh amarah dan mencengkeram pergelangan tangannya.
"Benar-benar nggak disangka, wanita murahan sepertimu berani diam-diam kencan dengan pria lain di belakangku?"
"..."
Sialan, dunia musuh memang sempit!
Cassandra berbalik dan merasa konyol. "Faldano, kamu sepertinya salah paham besar dengan diri sendiri, ya? Kamu siapanya aku? Memangnya kamu berhak membentakku?"
Dasar pria bermuka dua! Dia sendiri kencan seharian dengan Agatha tanpa merasa bersalah, tapi malah berdiri di posisi moral tinggi untuk menuduhnya?
Mendengar itu, Faldano refleks mengira Cassandra sedang cemburu. Amarahnya sedikit mereda, lalu dia berkata dengan nada tidak bisa ditolak, "Ikut aku pergi."
"..."
Cassandra benar-benar tertawa karena kesal. Senyumnya langsung menghilang, lalu dia memaki tanpa ampun, "Huh, aku ingin sekalian tanya dengan tukang ramal dan tukang duplikat kunci di kolong jembatan. Kamu bisa meramal nggak? Kamu itu benda apa? Bisa diduplikat kuncinya nggak? Apakah kamu pantas? Kentut!"
Begitu makian itu keluar, Faldano bahkan belum sempat mencerna maksudnya, tiba-tiba pria yang berdiri di samping Cassandra membalikkan badan.
Dari punggungnya saja sudah terasa familier. Saat wajahnya terlihat jelas, Faldano langsung membeku.
"Pa ... Paman ...."
Victor tadi baru saja menerima telepon sehingga tidak sempat memedulikannya. Tidak disangka, belum sampai satu menit, bocah ini malah berani bersikap arogan dan menekan orang di hadapannya?
"Kamu datang cari masalah denganku?"
Victor melirik Faldano dengan pandangan merendahkan. Tatapannya dingin, tajam, seolah bisa menembus hati orang.
Faldano langsung gemetar.
Dia mana berani!
Meski Victor hanya beberapa tahun lebih tua darinya, sejak kecil sampai sekarang, orang yang paling dia takuti justru paman yang terlihat santai dan seolah mudah diajak bicara ini. Kenyataannya, dia berhati dingin dan kejam!
Melihat Faldano langsung ciut, pandangan Victor turun, jatuh ke pergelangan tangan Cassandra yang kemerahan.
"Kalau nggak berani cari masalah, kenapa tanganmu belum dilepas?"