Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 24

Wajah Victor menggelap. Aura di sekujur tubuhnya menjadi semakin liar dan sulit dikendalikan. Seperti gunung es raksasa yang menekan, membuat orang nyaris tidak bisa bernapas. Faldano menarik kembali tangannya secepat kilat. "Aku ...." Dia hendak berkata sesuatu, tapi Victor langsung menyipitkan mata dan bibir tipisnya melontarkan satu kalimat. "Masih nggak pergi?" Jadi Faldano pun benar-benar pergi. Agatha yang mengikutinya di belakang setelah mengalami tekanan aura barusan, wajahnya sudah pucat pasi dan keringat dingin bercucuran. Dia takut api kemarahan itu akan merembet padanya. Kalau sampai itu terjadi, mungkin dia tidak tahu bagaimana caranya mati. Namun baru saja mereka melangkah keluar, suara Victor kembali terdengar. "Tunggu." Keduanya berhenti, menoleh dengan perasaan campur aduk antara takut dan bingung. Lalu terdengar suara Victor yang datar dan santai. "Seleramu semakin lama semakin buruk." Apa maksudnya? Bukankah itu berarti selera Faldano benar-benar payah sampai bisa menyukai Agatha? Setelah mengatakan itu, tanpa peduli apa yang dipikirkan mereka, Victor membawa Cassandra masuk ke Restoran Mutiara. Pintu restoran ditutup. Hari ini tutup. Orang asing dilarang masuk. Karena tempat ini sudah dipesan semuanya. Sepanjang waktu, Cassandra merasa agak melayang. Bahkan tatapannya ke arah Victor semakin berbinar. Tampannya keterlaluan! Bos besar memang bos besar. Sekali turun tangan, Faldano si muka dua itu langsung berubah jadi pecundang! Agatha si kalajengking berbisa bahkan tidak berani berpura-pura lagi! Puas! Cassandra senang bukan main, sampai ingin menuangkan teh untuk Victor. Nada bicaranya pun jadi ceria. "Kakak mau makan apa? Aku yang traktir, pesan sesuka hati!" Dengan gaya super dermawan, dia mendorong menu ke arah Victor. Wajah kecilnya penuh sikap menjilat. Terlihat imut, cerdik, dan licik khas dirinya. Victor tertawa pelan. Gadis kecil ini mungkin tidak tahu, restoran ini sebenarnya miliknya. Namun dia tidak berniat membongkar fakta itu. Dia memilih beberapa menu, lalu mendorong kembali daftar menu ke arah Cassandra. Cassandra juga tidak sungkan. Dia memesan beberapa hidangan sesuai seleranya sendiri. Sekitar sepuluh menit kemudian, semua hidangan diantar satu per satu. Cassandra mencicipi dan langsung memuji. Pantasan terkenal! Enak sekali!" Tidak heran restoran ini membatasi hanya sembilan puluh sembilan tamu per hari, tapi tetap selalu ramai. Setelah makan kenyang, pelayan kembali mengantar buah dan makanan penutup. Saat Cassandra sedang makan, tiba-tiba Victor bertanya, "Kamu suka panahan?" "Suka." Cassandra mengangguk. "Waktu kecil sering diajak Ayah main. Dulu sifatku liar, naik kuda dan memanah semuanya aku suka. Beberapa tahun latihan, kemampuanku lumayan." Tidak ada yang perlu disembunyikan. Bagaimanapun, di arena gelap sebelumnya, pertandingan antara dirinya dan Nevan pasti sudah dilihat Victor. Victor mengangguk, lalu tiba-tiba berkata, "Kalau begitu, aku kasih kamu satu hadiah." Begitu kata-kata itu berlabuh, seorang pelayan masuk membawa sebuah kotak merah dengan kedua tangan. Lalu kotak itu diletakkan perlahan di atas meja makan, lalu pelayan keluar dan menutup pintu ruang VIP. Cassandra berkedip, untuk sesaat tidak paham maksud Victor. Dia melihat pria itu mengangkat dagu memberi isyarat. "Buka saja." Cassandra menyeka tangannya lalu membuka kotak itu. Di dalamnya terbaring sebuah busur dan anak panah yang luar biasa indah. Seluruhnya berwarna perak, memantulkan kilau lembut. Bahannya tampak istimewa, seolah terbuat dari kayu cendana ungu. Saat diangkat terasa ringan, tidak berat sama sekali. Namun ketika dirasakan lebih saksama, kekerasannya bahkan melebihi besi! Victor melengkungkan bibirnya dan berkata pelan, "Busur ini namanya Galaksi. Perpaduan keras dan lentur seimbang, ringan tapi daya hancurnya besar. Aku nggak memakainya. Ini untukmu." Galaksi? Nama yang sangat indah. Secara logika, Cassandra tahu dia tidak boleh menerimanya. Namun saat busur itu berada di tangannya, rasanya seolah-olah benda itu memang terlahir untuknya, sangat cocok, membuatnya enggan melepaskan. "Kalau begitu ... terima kasih, Kakak!" Cassandra menerimanya dengan lapang dada, meski di dalam hati ada rasa sungkan. Hubungan mereka sebenarnya tidak terlalu dekat, tapi pria itu begitu murah hati dan berulang kali membantunya. Bahkan busur yang diberikan ini jelas bernilai sangat mahal. Kalau suatu hari ada kesempatan, dia pasti akan membalas kebaikan itu. "Coba saja, lihat enak dipakai atau nggak." Victor menunjuk ke satu arah, sebuah hiasan kecil di dalam ruang VIP. "Jatuhkan itu." Ini perkara kecil. Cassandra mengangkat busur, mengambil anak panah dari kotaknya, sengaja berdiri agak jauh. Begitu bulu anak panah dipasang, dia langsung melepaskannya tanpa ragu! Hiasan kecil itu pun langsung jatuh. Dia bahkan sudah menahan tenaga. Kalau tidak, bukan hanya hiasannya yang jatuh, anak panah itu pasti sudah menancap dalam, menembus dinding belakang. Victor menatap Cassandra dengan puas dan memujinya. "Bagus." "Kamu mau coba juga?" Cassandra menyerahkan busur itu pada Victor dan tersenyum polos. Konon katanya Victor serba bisa. Panahan sekecil ini jelas bukan masalah baginya. Saat ini, Cassandra sedang bersemangat. Semua kekhawatiran dan rasa canggung yang biasanya dia rasakan saat bersama Victor pun terlempar entah ke mana. Siapa bilang Victor sulit didekati seperti dewa pembawa malapetaka? Menurutnya, sang bos besar ini justru cukup mudah diajak bergaul. Victor menerima busur itu, lalu menembakkan satu anak panah ke arah yang sama seperti Cassandra tadi dan dengan mantap menembus tepat mata tokoh di lukisan dinding! Akurasi itu bahkan melampaui dirinya! Benar-benar menyimpan kemampuan tersembunyi! Cassandra terkesima, hampir saja melontarkan pujian. Namun tiba-tiba Victor berbalik. Senyum tipis di wajah tampannya lenyap seketika, digantikan ekspresi dingin dan kejam, seperti dewa pembunuh dari neraka. Pada saat yang sama, anak panah tajam di tangannya diarahkan tepat ke dahi Cassandra! Cassandra terpaku. Jantungnya langsung berdegap keras. Segampang itu berubah sikap? Dalam kepanikannya, bayangan mimpi beberapa hari lalu tiba-tiba muncul di benaknya. Di dalam mimpi itu, setelah Victor tahu dia berniat merugikan Keluarga Tanadi, dia mencengkeram lehernya dengan tatapan penuh niat membunuh, dingin dan tanpa belas kasihan. Sama persis seperti sekarang. Setelah terlahir kembali, segalanya terasa berjalan mulus. Namun tidak ada satu momen pun yang membuatnya menyadari betapa dekatnya dia dengan kematian seperti saat ini, begitu dekat .... Rasa dingin menjalar dari telapak kaki. Cassandra bahkan tidak sempat berpikir atau bereaksi. Dalam kekacauan, dia hanya sempat memanggil namanya, "Victor!" Yang menjawabnya adalah Victor melepaskan tangannya dengan aura membunuh yang meledak. Anak panah bernama Galaksi itu melesat cepat ke arah dahinya ....

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.