Bab 10
Mendengar kata-kata Fajar, Wulan justru merasa semuanya terdengar begitu menggelikan.
Pelajaran?
Mengingatkannya supaya jera?
Kesalahan apa yang sebenarnya sudah dia perbuat?
Hal apa yang seharusnya dia sesali dan jadikan pelajaran?
Apakah kesalahannya adalah memercayai uluran tangannya saat dulu Fajar datang sebagai penyelamat? Ataukah karena dia jatuh cinta pada Fajar, memilih menikah dengannya, atau yang paling fatal, karena dia terlambat menyadari siapa Fajar sebenarnya?
Namun Wulan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya memejamkan mata, tak mau menatapnya lagi.
Fajar memandang sikap diam dan penolakannya, seolah tak lagi peduli pada apa pun. Alisnya sedikit berkerut, tetapi pada akhirnya dia tetap tidak mengatakan apa-apa. Dengan alasan pekerjaan, dia berbalik dan meninggalkan ruangan itu begitu saja.
Hari-hari berikutnya, Wulan menjalani masa pemulihan seorang diri di rumah sakit, dengan ketenangan yang nyaris dingin.
Sesekali, pesan singkat dari Zoya masuk ke ponselnya berisi kalimat basa-basi yang disertai foto-foto Zoya dan Fajar sedang berlibur.
Cahaya matahari, pasir putih, laut biru. Wajah Fajar tetap datar seperti biasa, tetapi saat berdiri di sisi Zoya, sikapnya tampak jauh lebih santai.
Zoya menambahkan keterangan yang manis namun menusuk. [Kak Fajar bilang aku sempat terlalu syok, jadi dia secara khusus mengajakku berlibur untuk menenangkan diri. Kak Wulan, istirahatlah dengan baik. Jangan khawatirkan kami.]
Wulan menatap foto-foto itu tanpa gelombang emosi sedikit pun. Hatinya tenang, terlalu tenang.
Dia tidak membalas satu kata pun, dan ponselnya langsung dimatikan. Tidak melihat berarti tidak perlu merasa apa-apa.
Hari demi hari berlalu seperti itu, hingga pada suatu pagi, dia akhirnya menerima telepon dari ayahnya.
[Semua proses perceraian sudah selesai. Secara hukum, kamu dan Fajar sudah nggak memiliki hubungan apa pun lagi.]
[Soal pihak Keluarga Yandika, aku akan mengabari mereka. Mulai sekarang, kamu sudah bebas. Mau pergi ke mana pun terserah kamu. Tapi satu hal, jangan pernah kembali ke Kota Arunika.]
Bebas ...
Wulan menggenggam ponselnya erat-erat. Mendengar kata itu, ada sesuatu yang seolah menabrak dadanya pelan, namun dalam.
Dia menutup panggilan, lalu melangkah ke jendela.
Hari ini, rumah utama Keluarga Yandika tampaknya sedang kosong. Sepertinya ada acara, dan semua orang keluar bersamaan.
Wulan memandangi bangunan megah yang indah di luar, namun baginya tak ubahnya sangkar raksasa. Di matanya, kilat tekad melintas singkat namun tajam.
Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi sebuah nomor.
"Halo, aku ingin membeli sepuluh ton bom."
Setelah semuanya diatur, Wulan berganti pakaian sederhana. Dia tidak membawa apa pun selain paspor. Tanpa koper, tanpa kenangan, dia naik taksi menuju bandara.
Di ruang tunggu keberangkatan, sambil menatap pesawat-pesawat yang lepas landas dan mendarat di kejauhan, dia kembali menyalakan ponselnya.
Di layar, tampak rekaman pengawas rumah besar itu.
Wulan menatap bangunan yang telah menjadi tempatnya bertahan selama tiga tahun, yang dipenuhi tekanan, luka, dan kenangan pahit. Perlahan, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum dingin yang lepas dan tanpa penyesalan.
Dia menekan satu tombol di ponselnya.
Pada saat yang sama, dari arah rumah besar Keluarga Yandika di sisi lain kota, terdengar dentuman berat yang mengguncang malam.
Tak lama kemudian, nyala api menjulang tinggi, asap tebal membubung ke udara, mewarnai separuh langit dengan cahaya merah menyala.
Guncangannya bahkan samar-samar terasa hingga ke bandara.
Ruang tunggu mendadak ricuh. Orang-orang berdiri, panik, menatap ke arah suara ledakan itu.
Wulan menatap layar ponselnya. Gambar kamera pengawas berubah menjadi buram, lalu mati. Wajahnya tetap kosong, tanpa emosi.
Dia berdiri, berjalan ke samping tempat sampah, dan tanpa ragu-ragu melemparkan ponsel yang telah dipasang program khusus itu ke dalamnya.
Setelah itu, dia berbalik. Dengan tiket dan paspor di tangan, dia melangkah menuju gerbang keberangkatan, menaiki penerbangan tercepat menuju tempat yang jauh.
Tanpa menoleh kembali.
Pesawat menembus awan, terbang tinggi ke langit. Di bawah sana, Kota Arunika kian mengecil, perlahan menghilang dari pandangannya.
Wulan bersandar di dekat jendela pesawat, menatap hamparan awan putih dan langit biru yang membentang luas di luar sana. Dia menarik napas dalam-dalam.
Mulai saat ini, dunia terbuka selebar-lebarnya di hadapannya. Mulai hari ini, Wulan hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Dia akan menjadi seekor burung yang terbang bebas, liar, lepas, dan tak seorang pun mampu mengikat sayapnya.