Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 9

Wulan seketika menjadi waspada. "Zoya! Apa yang mau kamu lakukan?" "Apa yang mau kulakukan?" Zoya tertawa seperti orang gila. "Tentu saja ... memberimu hadiah besar!" Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia benar-benar menerobos aula leluhur. Dengan kekuatan penuh, dia menjatuhkan seluruh plakat leluhur Keluarga Yandika yang ada di altar. Lalu dia mengeluarkan korek api yang sudah disiapkan sebelumnya dan menyalakan tirai yang menjuntai. Kain kering itu langsung terbakar, dan api dengan cepat menjalar ke seluruh ruangan. "Kamu gila!" Wulan mencoba menerobos masuk untuk menghentikannya, tetapi asap tebal membuatnya terbatuk-batuk dan sesak. Melihat wajah Wulan yang panik, Zoya tersenyum penuh kepuasan. Saat Wulan lengah, Zoya mengambil sebuah vas yang berat di dekatnya dan menghantamkannya dengan keras ke belakang kepala Wulan. Pandangan Wulan menjadi gelap, dan kesadarannya hilang total. Ketika dia tersadar kembali, dia mendapati dirinya dan Zoya berlutut di lantai dingin aula utama Keluarga Yandika dengan tangan terikat ke belakang. Athalla duduk di kursi utama, wajahnya pucat seperti besi, marah tak tertahankan. "Katakan! Siapa yang membakar aula leluhur ini?" Zoya langsung menangis histeris sambil menunjuk ke Wulan. "Dia, Bu! Wulan yang membakarnya! Aku melihatnya sendiri! Dia balas dendam karena Ibu terus menekannya untuk mempunyai anak, dan balas dendam pada Fajar. Itu kenapa dia membakar aula leluhur!" Wulan melihat sikap Zoya yang penuh keyakinan itu dan merasa sangat jijik. Dia mengangkat kepala, suaranya agak serak karena asap, tapi tetap tenang. "Aku nggak mau banyak bicara. Di aula itu ada kamera CCTV." Mendengar itu, Athalla segera memerintahkan kepala pelayan, "Cepat! Tampilkan rekamannya! Aku ingin melihat siapa yang berani melakukan ini!" Mendengar ada kamera CCTV, wajah Zoya langsung pucat. Dengan panik, dia menoleh ke arah Fajar, meminta pertolongan. Fajar menangkap tatapan itu. Dia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba melangkah maju dan memotong ucapan kepala pelayan yang hendak pergi. "Nggak perlu diselidiki lagi." Seluruh perhatian di ruangan itu langsung tertuju padanya. Dengan ekspresi tenang, Fajar menatap Athalla. Nada suaranya mantap, tanpa sedikit pun keraguan. "Baru saja aku melewati aula leluhur dan melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri. Orang yang membakar tempat itu adalah Wulan." Wulan mendongak tajam, menatapnya dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Dia sempat berpikir, di hadapan fakta yang seharusnya bisa dibuktikan, setidaknya kali ini Fajar akan bersikap adil. Namun dia tidak menyangka ... Fajar justru secara terang-terangan melindungi Zoya, dan tanpa ragu menimpakan kesalahan sebesar itu pada dirinya, di depan semua orang. "Fajar ... " Suara Wulan bergetar hebat. "Coba ulangi sekali lagi apa yang baru saja kamu katakan?" Fajar menundukkan pandangan, sengaja menghindari tatapan Wulan. Suaranya tetap tenang, namun setiap kata yang keluar terasa setajam pisau, menghancurkan pertahanan terakhir di hati Wulan. "Aku bilang, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamulah yang membakar aula leluhur." "Kurang ajar!" Athalla meledak dalam amarah. Dengan tubuh gemetar hebat, dia menunjuk Wulan. "Wulan! Kamu sudah benar-benar melampaui batas! Hari ini kamu berani membakar aula leluhur, apa besok kamu juga berani membunuh orang dan membakar rumah ini?" "Pengawal! Seret dia keluar!" bentaknya tanpa ampun. "Ikat dia di halaman! Biarkan dia berlutut sehari semalam! Tanpa seizinku, nggak ada seorang pun boleh melepaskannya! Aku ingin lihat, masih beranikah dia bersikap liar seperti ini!" Wulan diseret dengan kasar ke halaman dan diikat pada tiang batu yang dingin. Angin malam yang dingin menerpa tubuhnya yang hanya tertutup pakaian tipis, menusuk hingga ke tulang. Luka-luka di punggung, lengan, dan kakinya, yang bahkan belum sepenuhnya pulih, kembali terasa perih luar biasa akibat ikatan kasar dan hawa dingin yang menggigit, seolah-olah kembali robek. Dengan pandangan kabur, dia menatap ke arah aula yang masih terang benderang. Di sana, Fajar sedang berbicara pelan untuk menenangkan Zoya yang ketakutan. Dia tampak begitu hati-hati dan lembut seolah dunia hanya milik mereka berdua. Sementara Wulan diperlakukan layaknya seorang pendosa yang dibuang tanpa ampun, dipaksa menanggung hukuman yang sama sekali bukan miliknya. Kesadarannya perlahan terkikis oleh dingin yang menggigit dan rasa sakit yang tak tertahankan. Hingga akhirnya, pandangannya menggelap, dan dia kembali terjatuh dalam ketidaksadaran. Saat dia terbangun lagi, aroma antiseptik memenuhi hidungnya. Lampu putih rumah sakit terasa menyilaukan. Di sisi ranjang, Fajar duduk diam, seolah sudah lama menunggu. "Tampaknya hukuman kali ini cukup untuk mengingatkanmu," katanya datar. "Mulai sekarang, bersikaplah lebih baik. Jangan lagi membuat Ibu marah."

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.