Bab 8
Melihat Wulan bersikap seolah menerima semuanya, tatapan Fajar menjadi semakin dingin. Dia menatap para pengawal dan memerintahkan, "Masukkan dia ke aula leluhur! Biar dia merenungkan kesalahannya! Jangan biarkan dia keluar tanpa izin dariku!"
"Aku nggak mau!" Wulan mundur selangkah dengan cepat, tatapannya penuh tekad. "Aula leluhur yang kumuh itu nggak akan bisa menahanku lagi!"
Dia langsung berbalik dan berlari.
"Tangkap dia!" perintah Fajar.
Para pengawal segera bergerak maju untuk mengadangnya.
Wulan berjuang sekuat tenaga. Dengan panik dan tanpa berpikir panjang, dia terus mundur untuk melarikan diri, tetapi malah menabrak seorang pelayan yang mendorong troli penuh gelas sampanye.
"Brak!"
Suara benturan keras disertai pecahan kaca bergema.
Wulan kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan keras ke lantai, hingga tubuhnya seketika dibanjiri oleh ratusan pecahan kaca yang tajam.
"Ah!"
Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menjerit kesakitan.
Darah segar segera mengalir dari tubuhnya, membasahi lantai dan pecahan kaca yang berkilauan.
Dia menatap tubuhnya yang penuh darah dan serpihan kaca, lalu menatap wajah Fajar yang tiba-tiba berubah pucat, sebelum kesadarannya perlahan-lahan tenggelam dalam kegelapan...
Saat dia sadar kembali, dia sudah berada di rumah sakit.
Tubuhnya penuh perban, dan setiap gerakan menimbulkan rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang.
Asisten Fajar berdiri di samping tempat tidur, suaranya terdengar kaku dan formal. "Nona Wulan, mengingat Anda mengalami cedera dan dijahit cukup banyak kali ini, Pak Fajar menyatakan bahwa urusan Anda dengan Nona Zoya dianggap selesai. Dia berharap ke depannya, Anda bisa ... "
"Keluar." Wulan menutup matanya dan memotong ucapan asisten itu dengan suara serak dan lelah.
Asisten itu terdiam sejenak, dan akhirnya pergi meninggalkannya dalam hening.
Wulan berbaring di ranjang, menatap langit-langit, hatinya terasa beku dan hampa.
Selesai?
Dengan menggunakan seluruh rasa sakit dan luka di tubuhnya untuk menutupi sedikit luka di kulit Zoya?
Sungguh ... adil.
Wulan tidak menangis lagi, tidak marah lagi, hanya menanggung semua rasa sakit itu sendiri, menunggu tubuhnya perlahan-lahan sembuh.
Setelah dia keluar dari rumah sakit, Keluarga Yandika mengadakan jamuan makan.
Di meja makan, Athalla tetap menunjukkan wajah yang dingin pada Wulan, kata-kata dan nada bicaranya tetap menekankan soal keinginan untuk memiliki cucu.
"Sudah tiga tahun, perutmu masih nggak menunjukkan tanda-tanda apa pun! Kami mengambil kamu jadi mantu sebenarnya untuk apa?" kata Athalla sambil mendorong sebuah kotak brokat ke arah Wulan. Di dalamnya terdapat jimat permata putih, lambang kesuburan dan harapan untuk memiliki anak. "Ini ambil, dan berdoa setiap hari dengan tulus! Jangan sampai aku kecewa lagi!"
Wulan menatap jimat permata itu, tapi tidak menunjukkan sedikit pun niat untuk meraihnya.
Wulan sama sekali tidak ingin punya anak, apalagi melahirkan anak untuk Keluarga Yandika.
Setelah makan, dia mengambil kotak itu dan berniat langsung membawanya ke aula leluhur untuk disimpan. Lebih baik dia tidak melihatnya sama sekali.
Begitu dia sampai di pintu aula, Zoya muncul dari samping dan mengadangnya.
"Oh, bukankah ini sang menantu terhormat Keluarga Yandika? Mulai berdoa supaya cepat punya anak, ya?" Zoya mengejek. "Aku beri tahu, aku nggak akan membiarkanmu melahirkan anak sebelum aku! Cucu pertama Keluarga Yandika hanya bisa lahir dariku!"
Wulan malas menanggapi dan berusaha melewati Zoya untuk masuk ke dalam aula.
Melihat Wulan mengabaikannya, Zoya semakin marah. Dia merampas kotak itu dari tangan Wulan dan membantingnya ke lantai dengan keras.
"Prang!" Jimat permata putih di dalamnya hancur berkeping-keping.
Wulan menatap serpihan-serpihan yang berserakan di lantai. Hatinya sama sekali tidak bergetar, bahkan ada sedikit rasa lega.
Bagaimanapun, dia memang tidak ingin menyimpannya.
Zoya tidak menyangka reaksi Wulan akan begitu datar, seolah serangannya nggak ada apa-apanya. Rasa tak puas langsung membakar dadanya.
Zoya menatap Wulan dengan sorot mata keji dan licik. "Wulan, kamu kan sudah tahu kalau sebenarnya yang Fajar cintai itu aku. Dia menikahimu hanya untuk jadi perisai bagiku. Kalau misalnya ... aku bakar aula leluhur ini, lalu bilang ke semuanya kalau kamu yang melakukannya ... menurutmu Fajar akan percaya siapa? Dan kira-kira ... apa yang akan dia lakukan padamu?"