Bab 7
Fajar menatap tangannya yang kosong dan langsung mengejar Wulan dengan tatapan gelap.
"Wulan!" Dia menyusulnya di samping mobil, menggenggam pergelangan tangannya. "Jangan macam-macam! Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang ketiga. Rumah utama sudah menyiapkan pesta dan mengundang banyak tamu. Ikut aku pulang."
Ulang tahun pernikahan?
Wulan merasa seolah mendengar hal yang sangat konyol, lalu tersenyum sinis.
Fajar baru saja menariknya keluar dari neraka, dan sekarang malah menyuruhnya menghadiri pesta ulang tahun pernikahan?
Tanpa menunggu jawaban Wulan, Fajar dengan tegas menuntunnya masuk ke mobil.
Saat mereka tiba di rumah utama Keluarga Yandika, lampu-lampu tampak menyala terang, pesta tengah berlangsung, dan gelas bersulang bersahutan.
Dalam sesi pemberian hadiah, Fajar menyerahkan beberapa set perhiasan mahal yang tak ternilai harganya kepada Wulan di depan semua tamu. Hal itu langsung memancing decak kagum para hadirin.
"Pak Fajar benar-benar memanjakan istrinya!"
"Iya, siapa sangka pria sependiam dan sedingin Pak Fajar bisa turun dari takhtanya seperti ini?"
"Nona Wulan lahir di keluarga hebat, dan cantiknya luar biasa. Meskipun sifatnya keras, tapi justru menarik! Sementara itu, istri putra kedua, Zoya, berasal dari keluarga yang biasa saja, dan suaminya juga nggak bisa diandalkan. Perbandingannya jauh sekali."
Suara bisik-bisik di sekitar terdengar samar, namun Wulan mendengarnya dengan wajah tanpa ekspresi, seolah yang mereka bicarakan bukanlah dirinya.
Sementara itu, Zoya yang berdiri di sudut dan mendengar perbandingan itu, wajahnya seketika memerah. Dia menatap Wulan dengan penuh kebencian, lalu berbalik meninggalkan ruang pesta.
Wulan tidak menghiraukannya. Kebetulan, seorang pelayan menumpahkan minuman ke gaun panjangnya, jadi dia bangkit untuk kembali ke kamar mengganti pakaian.
Namun, begitu dia mengenakan gaun baru dan bersiap menuruni tangga, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Tangga marmer yang licin itu ternyata telah dilumuri minyak bening.
Kalau tadi dia tidak memperhatikan dan langsung menginjaknya, akibatnya bisa sangat fatal.
Seketika, rasa dingin menembus hatinya, diikuti oleh amarah yang membara luar biasa.
Wulan segera memerintahkan orang untuk menyelidikinya.
Hasilnya pun cepat keluar. Pelakunya adalah Zoya.
Dengan tatapan dingin, Wulan langsung melangkah menuju kamar Zoya untuk menuntut pertanggungjawaban.
Ketika dia sampai di depan pintu kamar Zoya dan hendak mendorong pintu, dia mendengar suara Zoya berbicara di telepon dengan suara ditekan.
"Siapa suruh mereka membandingkan aku dengan Wulan! Aku memang ingin dia jatuh dari tangga, dan jadi cacat! Aku mau lihat apakah dia masih bisa bersikap sombong dan apakah Kak Fajar masih mau sama wanita cacat seperti itu!"
Wulan tidak bisa menahan diri lagi dan langsung menerobos masuk.
Dalam tatapan terkejut Zoya, Wulan mengangkat tangannya dan menamparnya dengan keras.
"Zoya! Kamu benar‑benar jahat dan keji!"
Tanpa menunggu reaksi Zoya, mata Wulan menangkap sebuah tongkat dekoratif di sudut ruangan. Dia langsung mengambil tongkat itu, mengerahkan seluruh tenaganya, dan menghantamkannya ke arah kedua kaki Zoya dengan keras.
"Ah!"
Zoya menjerit kesakitan, dan terdengar pula suara tulangnya yang retak.
"Wulan! Kamu gila! Berani-beraninya kamu memukulku? Kak Fajar nggak akan membiarkan ini!" Zoya menjerit kesakitan sambil mengumpat.
Wulan menatap dingin, lalu menendang dada Zoya, hingga wanita itu terpental keluar dari pintu balkon yang terbuka lebar.
"Byur!"
Zoya terjatuh dengan keras ke kolam renang yang dingin di lantai bawah, menimbulkan percikan air yang besar.
"Tolong ... tolong ... !" Dia berusaha mengapung sekuat tenaga, tapi karena tulang kakinya patah, dia sama sekali tidak bisa berenang.
Ruang pesta seketika menjadi kacau balau.
Tak lama kemudian, Zoya berhasil ditarik keluar oleh beberapa orang. Tubuhnya lemas seperti ikan mati, dan dia terbaring di lantai dalam keadaan memalukan.
Fajar yang mendengar kabar itu segera berlari ke tempat kejadian. Begitu melihat pemandangan itu, wajahnya langsung menjadi kelam dan dingin seperti air.
Dia melirik sekilas Zoya yang basah kuyup, gemetaran, dan menangis tersedu-sedu, lalu matanya langsung menatap tajam ke arah Wulan yang berdiri di tangga dengan ekspresi tenang.
"Wulan! Kamu berulah lagi?!" Suaranya terdengar penuh kemarahan yang tertahan.
Zoya segera meraih kaki Fajar, dan menangis mengadu, "Kak ... aku nggak tahu di mana aku menyinggung Kak Wulan. Dia tiba-tiba masuk, mematahkan kakiku, lalu menendangku ke kolam renang ... Pasti dia masih menyimpan dendam karena terakhir kali kamu mengirimnya ke penjara ... "
Fajar menatap Wulan dengan tatapan dingin. "Apa yang dia katakan benar?"
Wulan menatap balik, suaranya tenang dan jelas. "Salah! Alasan aku bertindak sekejam itu padanya adalah karena ... "
"Cukup!" Fajar memotongnya dengan suara keras, tak ingin mendengar penjelasannya sama sekali. "Apa pun yang dia katakan atau lakukan padamu, kamu nggak boleh menggunakan cara sekejam itu! Lagi pula, selama ini, yang sombong, sewenang-wenang, dan menimbulkan masalah justru kamu! Apa yang bisa Zoya lakukan padamu? Dengan mengandalkan status keluargamu dan kelonggaran dari aku, apa kamu berhak memperlakukan orang lain seenaknya?"
Melihat tatapan Fajar yang penuh prasangka dan ketidakpercayaan, dan mendengar tuduhan terbalik yang dilontarkannya, Wulan merasa seakan hatinya ditusuk oleh jutaan jarum sekaligus, hingga hampir membuatnya sesak.
Lalu apa gunanya dia menjelaskan lebih lanjut?
Di mata Fajar, dia selalu salah, sementara Zoya selalu benar.
Dia menyeringai dan menunjukkan senyum yang sangat menyedihkan. "Fajar, terserah kamu mau berpikir apa. Aku nggak peduli."