Bab 6
Wulan menegakkan kepala dengan tiba-tiba, menatap Fajar dengan wajah penuh keterkejutan dan rasa tidak percaya. "Fajar ... apa yang kamu katakan? Kenapa? Atas dasar apa?"
Fajar membalas tatapannya. Di matanya tidak ada lagi kehangatan, hanya dingin yang menusuk. "Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang paling tahu alasannya?"
"Ternyata donor kulit kemarin nggak membuatmu jera. Sebaliknya, kamu malah semakin nekat," lanjutnya datar. "Kamu bahkan berani menyuap staf pesta dan meracuni minuman Zoya. Orang yang kamu suap sudah mengaku. Buktinya lengkap."
Dia memberi isyarat singkat ke arah para polisi. "Bawa saja. Proses dia sesuai hukum. Keluarga Yandika nggak akan melindungi siapa pun yang melanggar hukum."
"Fajar! Kamu bajingan!" Wulan gemetar hebat, suaranya melengking karena emosi. "Atas dasar apa kamu menuduhku? Hanya karena pengakuan seseorang yang bahkan nggak jelas asal-usulnya, kamu langsung menghukumku? Apa kamu masih menganggapku istrimu, atau nggak sama sekali?"
Rasa terhina dan amarah yang menumpuk membuatnya kehilangan kendali. Wulan mendorong polisi yang hendak memborgolnya, lalu berlari keluar vila tanpa menoleh lagi. Dia meloncat ke mobil sport yang terparkir di luar dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melesat pergi, secepat anak panah yang dilepaskan dari busurnya.
"Wulan! Berhenti!" Wajah Fajar mengeras. Dia segera masuk ke mobil dan mengejarnya.
Sambil memegang kemudi, dia menelepon nomor Wulan. Suaranya yang biasanya tenang kini pecah oleh amarah dan kepanikan. "Wulan! Kamu mau mati ngebut seperti itu? Hentikan mobilmu sekarang juga!"
"Berhenti? Berhenti agar kamu bisa mengirimku ke penjara? Fajar! Aku bilang padamu! Aku lebih baik mati! Aku nggak akan pernah membiarkanmu mengirimku dengan tuduhan yang nggak masuk akal itu!"
"Itu bukan tuduhan palsu! Ada saksi dan bukti!"
"Saksi dan bukti apa? Itu semua jebakan Zoya! Fajar, apa salahku sampai kamu terus-menerus menginjak-injakku dan memfitnahku seperti ini?"
Mendengar tangis putus asa Wulan di telepon dan suara mesin mobil yang meraung, Fajar mengerutkan kening, matanya gelap dan menakutkan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menekan gas dengan keras. Saat kesempatan muncul, dia menabrakkan mobilnya dengan penuh tenaga ke sisi mobil Wulan.
"Brak!"
Terdengar benturan hebat.
Mobil Wulan kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan. Bagian depan mobil langsung penyok.
Dahinya terbentur keras di setir, dan darah hangat segera mengaburkan pandangannya.
Fajar segera keluar dari mobil, melangkah cepat ke sisi mobil Wulan, dan memaksa membuka pintu.
Saat melihat Wulan penuh darah dan kesadarannya mulai kabur, jantung Fajar menegang sesaat, namun ekspresinya tetap datar tanpa emosi.
Dia tidak mengecek luka Wulan terlebih dahulu, melainkan langsung berkata pada polisi yang mengikuti. "Dia ada di sini, bawa dia."
Wulan ditarik keluar dari mobil. Darah dari dahinya menetes ke pipi, jatuh di jas Fajar dan menyebar menjadi noda merah mencolok seperti bunga yang merekah.
Wulan menatap sisi wajah Fajar yang dingin dan keras seperti es. Melihat pria itu tanpa ragu menyerahkan dirinya ke polisi, hatinya seketika hancur.
Dia langsung dilempar ke dalam sel tahanan.
Ruangan itu gelap, lembap, dan penuh dengan campuran bau apek dan antiseptik yang menusuk.
Malam itu, Zoya muncul tanpa diduga.
Dari balik jeruji besi, dia menatap Wulan yang tampak compang-camping. Wajahnya memancarkan kepuasan dan kebencian yang sama sekali tak disembunyikan.
"Kak Wulan, bagaimana rasanya di sini? Aku sengaja mengatur semuanya supaya hari-hari yang kamu habiskan di sini akan ... sangat berkesan."
Dia memberi isyarat kepada petugas penjara.
Tak lama kemudian, beberapa narapidana wanita dengan wajah garang dibawa masuk, mengelilingi Wulan dengan niat yang jelas-jelas jahat.
"Urus baik-baik istri Pak Fajar kita." Zoya tersenyum sinis sambil memberi perintah, matanya penuh dengan kepuasan. "Aku suka melihat wanita tinggi hati sepertimu diinjak-injak. Hanya dengan begitu, aku merasa akhirnya aku mengalahkanmu."
Setelah itu, dia tidak lagi menatap Wulan. Dia berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan anggun.
Kemudian, siksaan tanpa ampun dan tak berkesudahan pun dimulai.
Pukulan, tendangan, hinaan, cakaran dari para narapidana wanita itu menyerang dengan sangat kejam. Mereka sengaja menargetkan bagian-bagian lemah dan luka yang tak terlihat oleh Wulan.
Wulan meringkuk di sudut yang dingin, menggigit giginya dengan keras agar tidak mengeluarkan suara permohonan sedikit pun.
Luka di punggung yang baru saja sembuh kembali robek, dan area transplantasi kulit di lengannya dicakar hingga berdarah.
Rasa sakit, dingin, putus asa menembusnya siang dan malam, perlahan-lahan menggerogoti tubuh dan jiwanya.
Dia bahkan tidak tahu bagaimana dirinya bisa bertahan melewati semuanya.
Selama satu minggu penuh.
Saat Wulan hampir kehilangan kesadaran, terkulai lemah di ambang kematian, pintu sel akhirnya terbuka.
Fajar berdiri di ambang pintu, menentang cahaya, tubuhnya tegap dan rapi, bersih tanpa noda, sama sekali kontras dengan lingkungan kotor dan gelap di sekitarnya.
Dia menatap gadis yang dulu manja dan semena-mena itu, dan sekarang tampak kosong dan mati rasa. Keningnya sedikit mengerut, namun segera kembali datar.
"Keluar," ucapnya dingin. "Setelah kejadian ini, kuharap kamu bisa lebih patuh dan nggak menimbulkan masalah lagi."
Patuh?
Menimbulkan masalah?
Mendengar kata-katanya, Wulan merasa hati yang dulu sudah beku itu tak lagi mampu menimbulkan getaran sedikit pun.
Dengan tubuh yang nyeri luar biasa, dia menolak tangan Fajar yang ingin menolongnya, dan sambil terhuyung-huyung, dia melangkah perlahan-lahan keluar sel.