Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 5

Saat Wulan terbangun dari rasa pusingnya, nyeri tajam di lengannya langsung membuatnya tersadar. Dia mencoba menggerakkan lengan kirinya yang terbalut perban tebal. Baru sedikit dia menariknya, rasa sakit seperti kulit terkoyak langsung menusuk seluruh tubuhnya. Fajar benar-benar menyuruh dokter mengambil kulit dari tubuhnya untuk menambal luka bakar Zoya. Pintu kamar rumah sakit perlahan terbuka, dan asisten Fajar masuk. "Nona Wulan, Anda sudah bangun. Pak Fajar sedang menangani proyek internasional yang mendesak dan sudah terbang ke luar negeri. Ini titipan beliau untuk Anda, semoga Anda menyukainya. Pak Fajar juga bilang ... tolong istirahat dengan baik, dan ke depannya ... sedikit menahan diri." Menahan diri? Fajar telah mengambil kulitnya untuk menyenangkan wanita itu, lalu menggunakan barang-barang ini untuk menebusnya ... Dan sekarang menyuruhnya menahan diri? Wulan tiba-tiba mengangkat tangan kanannya yang tidak terluka dan menyapu semua kotak hadiah itu hingga berjatuhan ke lantai. "Pergi!" Suaranya serak, tapi dingin bagai es yang menembus tulang. "Bawa semua barangnya keluar dari sini sekarang juga!" Melihat perhiasan yang berserakan di lantai, sang asisten ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya hanya menunduk dan meninggalkan kamar rumah sakit. Beberapa hari berikutnya, Wulan tinggal sendiri di rumah sakit. Dia mengganti perban sendiri dan makan sendiri. Luka di punggung dan lengannya sembuh dengan sangat lambat, dan setiap kali mengganti perban rasanya seperti disiksa lagi. Namun, dia menahan diri dan tidak mengeluh sepatah kata pun. Pada hari kepulangannya dari rumah sakit, cuaca tampak mendung. Begitu Wulan selesai mengurus administrasi dan melangkah ke pintu keluar, dia bertemu dengan Zoya yang juga baru keluar dari rumah sakit. Zoya mengenakan gaun putih, dan saat melihat Wulan, dia tersenyum. Dia terlihat manis di permukaan, tapi kata-katanya menyimpan nada provokatif. "Kak Wulan, kebetulan sekali, kamu juga keluar hari ini, ya." Zoya mendekat dan mencoba meraih lengan Wulan dengan akrab, tapi Wulan dengan dingin menghindar. Zoya tidak ambil pusing dan terus berbicara sendiri, "Hari ini ulang tahunku. Kak Fajar sengaja mengadakan pesta besar untukku. Kak Wulan, kamu juga datang ya biar lebih seru." Wulan bahkan malas menatapnya dan langsung berjalan melewati Zoya. "Aku nggak tertarik." Namun Zoya tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Wulan, hingga kukunya nyaris mencengkeram kulitnya. Wajahnya tetap tersenyum polos, seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu nggak mau ikut karena takut melihat Kak Fajar perhatian padaku sampai kamu nggak tahan, ya?" Langkah Wulan terhenti. Dengan tiba-tiba, dia melepaskan genggaman Zoya, berbalik, dan menatap dingin ke arahnya. "Kamu sudah tahu Fajar menyukaimu sejak dulu?" Zoya menatap wajah Wulan yang akhirnya berubah, lalu tersenyum puas. Dengan nada bangga dan penuh kemenangan, dia menjawab, "Awalnya, aku juga mengira Kak Fajar hanya baik padaku karena menganggapku sebagai adik ipar, dan kasihan padaku saja. Sampai suatu hari ... aku mabuk, dan dia mengantarku ke kamar, lalu diam-diam menciumku ... " Dia berhenti sejenak, menikmati tatapan Wulan yang terkejut, lalu dengan lambat menambahkan, "Saat itulah aku yakin, hatinya memang untukku." Mencium diam-diam ... Wulan seolah disambar petir. Seluruh darah di tubuhnya seperti mengalir ke arah yang berlawanan. Pria yang bahkan harus menjadwalkan kapan tidur sekamar dengannya, disiplin dan tertib seperti alat presisi ... Pria yang selalu menahan diri, seolah tak punya perasaan sama sekali ... Ternyata bisa diam-diam mencium adik iparnya sendiri? Melihat wajah Wulan yang pucat pasi, penuh rasa sakit dan tak percaya, Zoya justru merasa puas luar biasa. "Kak Wulan, kamu pasti sangat menderita, 'kan?" Suaranya terdengar lembut, tapi setiap kata bagai pisau menancap. "Lihat saja, kamu lahir di keluarga yang baik, punya wajah cantik, dan pria yang mengejarmu bisa mengular dari Kota Arunika sampai luar negeri. Tapi apa artinya semua itu? Orang yang paling kamu cintai malah mencintaiku." Dia mengangkat dagu sedikit, dan untuk pertama kalinya, menampilkan rasa superioritas yang tak terselubung di hadapan Wulan. "Ini membuatku merasa, akhirnya aku mengalahkanmu setidaknya untuk satu hal. Jadi, bagaimana mungkin kamu nggak mau menyaksikan sendiri momen bahagiaku?" Melihat wajah Zoya yang penuh kepuasan itu, hati Wulan dipenuhi rasa jijik dan pilu. "Zoya, meski Fajar sangat menyukaimu, kamu tetaplah istri sah adiknya secara hukum. Sedangkan aku ... aku adalah istri sah Fajar." Dia melangkah maju, menatap Zoya dengan sorot mata merendahkan, dan keangkuhan yang terpancar jelas di wajahnya. "Dan kamu mau mencari pengakuan dariku? Kamu bahkan belum pantas." Setelah mengucapkan itu, Wulan langsung pergi tanpa sama sekali menoleh pada raut wajah Zoya yang langsung berubah pucat. Dia menghentikan sebuah taksi, lalu pergi tanpa ragu. Setibanya di rumah, Wulan makan, mandi, lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Dia hanya ingin segera tidur, dan menjauh dari semua yang membuat dadanya terasa sesak. Namun, di tengah malam, seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. "Nona! Gawat! Banyak polisi datang, dan mereka bilang ingin bertemu dengan Anda!" Wulan mengernyit, mengenakan jaket, lalu turun ke lantai bawah. Beberapa polisi berseragam sudah menunggu di ruang tamu, ekspresi mereka kaku dan serius. "Apakah Anda Nona Wulan?" Polisi yang memimpin menunjukkan identitasnya. "Kami menerima laporan bahwa pada pesta ulang tahun di kediaman Keluarga Yandika malam ini, Nona Zoya diduga diracuni dan saat ini masih dalam penanganan medis. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, Anda termasuk pihak yang dicurigai. Mohon ikut bersama kami ke kantor polisi untuk keperluan pemeriksaan." "Diracuni?" Wulan merasa tuduhan itu sungguh tidak masuk akal. "Aku nggak meracuni siapa pun! Aku bahkan sama sekali nggak menghadiri pesta itu!" bantahnya dingin. Pelayan di sampingnya langsung ikut membela, suaranya terdengar gugup, "Benar, Pak Polisi. Malam ini Nona Wulan terus berada di rumah, dan sama sekali nggak keluar. Apa mungkin ada kesalahan?" Saat kedua pihak masih bersitegang, pintu utama vila kembali terbuka. Fajar melangkah masuk, membawa hawa dingin malam yang menempel di tubuhnya. Mata pelayan seketika berbinar, seolah melihat penolong. Dia buru-buru menghampiri. "Tuan! Syukurlah Anda pulang! Entah siapa yang melapor dan menuduh Nona Wulan meracuni Nona Zoya. Tapi mana mungkin itu benar?" Fajar melangkah mantap ke tengah ruang tamu. Pandangannya menyapu para polisi satu per satu, lalu berhenti pada wajah Wulan yang pucat. "Aku yang melapor."

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.