Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 4

Di dalam kamar, Wulan menatap melalui celah pintu, melihat pemandangan yang begitu menyakitkan. Setiap adegan seperti belati yang dipanaskan, menancap tajam ke hatinya berulang kali. Tak bisa menahan lagi, dia meraih gelas kaca di meja samping ranjang, mengumpulkan seluruh tenaganya, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah pintu. Gelas itu menghantam kusen pintu dan pecah berkeping-keping, hingga suara pecahannya menggema keras. Dua orang di luar terkejut dan langsung menoleh ke dalam kamar. Fajar mendorong pintu masuk dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah pria lembut yang di luar tadi hanyalah khayalan Wulan. "Sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Saat itu, Zoya ikut masuk sambil membawa sebuah termos makanan. Wajahnya masih basah oleh air mata yang belum kering, matanya menatap Wulan dengan ragu-ragu dan berusaha terlihat manis. "Kak Wulan, akhirnya kamu bangun. Aku dengar kamu terluka, jadi aku membuatkan sup burung dara supaya tubuhmu cepat pulih ... " Wulan sama sekali tidak ingin melihat Zoya, dan hanya ingin dia pergi. Namun, begitu matanya tertumbuk pada termos itu, jantungnya serasa tercekat. "Dari mana kamu mendapatkan burung dara itu?" tanyanya dengan suara bergetar karena tegang. Zoya terkejut sejenak, kemudian menjawab jujur, "Setelah mendengar kamu terluka, aku ingin memasak sup untukmu. Tapi pasar sudah tutup, jadi aku nggak bisa beli burung dara segar. Kebetulan di halaman belakang ada satu burung dara yang bagus, jadi aku ... aku menyuruh seseorang menangkapnya untuk dibuat sup untukmu ... " Burung dara di halaman belakang itu ... Adalah burung dara peliharaannya selama sepuluh tahun dan hadiah ulang tahun terakhir dari ibunya sebelum meninggal, yang menemaninya melewati begitu banyak hari dan malam sepi. Amarah Wulan meledak seketika, meluluhlantakkan semua akal sehatnya. "Zoya!" serunya sambil menegakkan tubuh, dan menahan sakit luar biasa di punggungnya. Dengan mata tajam seperti pisau, dia berseru, "Kamu tahu nggak itu burung daraku?!" Zoya terkejut dan mundur selangkah, matanya langsung memerah, dan hampir menangis. "Aku ... aku nggak tahu ... Kak Wulan, aku benar-benar nggak sengaja ... aku cuma ingin berbuat baik sama kamu ... " "Sudah." Fajar melangkah maju, melindungi Zoya di belakangnya, dan menatap Wulan dengan raut wajah tak setuju. "Wulan, itu cuma burung dara. Zoya juga niatnya baik, kamu nggak perlu marah sebesar itu." Cuma burung dara? Melihat Fajar yang tanpa ragu membela Zoya, dan mendengar kata-katanya yang terdengar santai itu, jantung Wulan seolah remuk seketika, hingga sakitnya hampir membuatnya sesak napas. Fajar hanya bisa melihat niat baik dan air mata Zoya, tapi sama sekali tidak melihat rasa sakit dan kesedihan Wulan karena kehilangan sesuatu yang sangat berharga. "Fajar!" Suaranya serak, penuh keputusasaan yang menusuk hati, "Itu bukan burung biasa! Itu hadiah dari ibuku! Dia sudah menemaniku selama sepuluh tahun! Bagiku, dia lebih berharga daripada kalian semua!" Kesedihan dan amarah yang begitu besar membuat Wulan kehilangan kendali. Dia tiba-tiba meraih mangkuk sup burung dara yang masih mengepul di meja samping tempat tidurnya, dan melemparkannya dengan keras ke arah Fajar. "Ah!" Zoya yang berdiri di belakang Fajar menjerit dan secara refleks melangkah maju, berdiri di depan Fajar untuk melindunginya. Sup burung dara yang panas itu langsung mengenai tubuh Zoya. "Zoya!" Ekspresi Fajar langsung berubah. Dia segera menahan Zoya yang menjerit kesakitan, tatapannya seketika dingin dan mengerikan. "Wulan! Kamu gila?" Situasi di ruangan langsung kacau balau. Fajar segera memanggil dokter pribadi. Setelah diperiksa, dokter berkata kepada Fajar dengan wajah serius, "Pak Fajar, area luka bakar Nona Zoya cukup luas, dan dari kedalamannya ... saya khawatir ... nanti akan meninggalkan bekas luka." "Bekas luka?" Mendengar itu, tangis Zoya semakin menjadi-jadi. Suaranya penuh ketakutan dan putus asa, "Nggak ... aku nggak mau ada bekas luka ... Kak, bagaimana ini?" Dokter merenung sejenak, kemudian berkata, "Kalau nggak mau ada bekas luka, saat ini hanya ada satu cara, yaitu melakukan transplantasi kulit. Tapi untuk sementara, cukup sulit menemukan donor yang cocok dan berkualitas tinggi ... " Tangisan Zoya sejenak terhenti, dan tanpa sadar dia menoleh dengan ragu ke arah Wulan yang duduk di ranjang dengan wajah pucat. Fajar mengikuti arah pandangnya, dan juga menatap Wulan. Dia terdiam sejenak, tatapan matanya yang dalam tidak menunjukkan emosi sama sekali. "Gunakan kulit Wulan." "Luka bakar ini disebabkan olehmu, jadi wajar kalau kamu yang bertanggung jawab. Hanya diambil sebagian kecil saja nggak akan berpengaruh apa-apa. Aku tahu kamu peduli penampilan dan takut sakit. Nanti, aku akan menebusnya." Menebus? Wulan merasakan hawa dingin menyusup dari kepala sampai ujung kaki. Kekonyolan dan rasa putus asa ini membuat seluruh tubuhnya gemetar. "Pergi! Kalian semua keluar dari sini!" Dia menunjuk ke arah pintu, suaranya melengking karena amarah dan rasa sakit yang memuncak. "Aku nggak akan mendonorkan kulitku untuknya kecuali aku mati!" Kening Fajar mengerut. Melihat tingkah Wulan yang begitu emosional, nada bicaranya pun menurun. "Wulan, jangan bersikap kekanak-kanakan." "Aku kekanak-kanakan?" Wulan seperti mendengar lelucon terbesar dalam hidupnya, tetapi air matanya tak bisa dihentikan. "Fajar, apa perasaanku, penderitaanku, sesuatu yang sangat berharga bagiku nggak berarti apa-apa di matamu dan bisa dikorbankan begitu saja?" Dia berusaha bangkit dari tempat tidur. "Kalian nggak mau pergi? Baik! Aku yang pergi!" Namun begitu dia bergerak, Fajar langsung mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. "Jangan ribut lagi." Dia menatapnya dengan dingin dan penuh otoritas. "Dokter, siapkan obat penenang." "Fajar! Beraninya kamu!" Wulan ketakutan, berontak dan berteriak, tapi dia tidak mampu melawan kekuatan Fajar. Matanya yang cantik, yang selalu penuh semangat dan kehidupan, saat ini hanya menyisakan keputusasaan yang hancur dan kebencian yang dalam. Anehnya, saat melihat tatapan itu, Fajar tiba-tiba merasa hatinya tersayat oleh rasa sakit yang tajam. Perasaan asing dan kepanikan melintas di hatinya. Dia hampir tanpa sadar mengangkat tangan satunya dan dengan lembut menutupi mata Wulan. Seolah dengan begitu, Fajar bisa menahan rasa sakit dan kebencian yang membuat hatinya bergetar. Suaranya terdengar lebih rendah, membawa nada lembut yang bahkan Fajar sendiri tidak sepenuhnya sadari, seakan ingin menenangkan. "Tenang ... sebentar lagi semuanya akan selesai." Jarum dingin menusuk kulit Wulan. Yang terakhir dirasakan Wulan adalah kegelapan yang pekat, dibalut dingin dan rasa putus asa yang membanjiri seluruh dirinya.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.