Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3

Setelah menutup telepon, Wulan terasa lemas dan bersandar pada dinding yang dingin, perlahan-lahan duduk di lantai. Beberapa saat kemudian, dia menarik napas panjang, bangkit kembali, dan mengajak beberapa sahabat terbaiknya keluar. Mereka berjalan-jalan, berbelanja, melakukan perawatan kecantikan, hingga akhirnya menuju bar paling populer di Kota Arunika. Sahabatnya menatap Wulan, yang tetap cantik dan menawan, namun ada sesuatu yang berbeda di sisi wajahnya. Dengan khawatir, dia bertanya, "Wulan, aturan Keluarga Yandika kan ketat sekali. Kamu juga sudah lama nggak keluar. Kalau Keluarga Yandika tahu hari ini kamu begitu liar ... " Wulan meneguk habis minuman kerasnya, hingga cairan pedas itu membakar tenggorokannya sekaligus membakar hati yang sudah penuh luka. Dia menatap kerumunan orang di lantai dansa, lalu dengan tenang menyampaikan kabar besar. "Mereka nggak akan tahu karena aku berencana bercerai dari Fajar." "Apa?" Sahabatnya terkejut sampai hampir menumpahkan minumannya. "Bukankah dulu kamu sangat mencintainya? Dulu kamu sudah berusaha mati-matian untuk mengejarnya. Kok bisa ... " "Sudah nggak," sela Wulan. "Mulai sekarang, aku nggak akan pernah mencintainya lagi." Begitu kata-katanya selesai, musik keras di bar tiba-tiba berhenti, dan lampu menyala terang. Puluhan pengawal berpakaian hitam yang terlatih masuk dengan rapi, dan mulai mensterilkan area dengan cepat dan tertib. "Semua orang yang nggak berkepentingan, segera keluar!" Di tengah rasa kesal dan panik, para tamu dipersilakan pergi, termasuk sahabat Wulan yang dibimbing keluar dengan sopan oleh para pengawal. Bar itu tiba-tiba menjadi sepi dan sunyi. Kepala pelayan Keluarga Yandika melangkah ke hadapan Wulan, dan membungkuk sedikit, tetapi berbicara dengan nada yang tegas dan tak bisa ditawar, "Nona Wulan, Bu Athalla meminta Anda pulang." Wulan bersandar malas di sofa di sudut bar, mengayunkan gelas minumannya, bahkan menatap sang kepala pelayan dengan acuh. "Aku nggak mau pergi. Katakan padanya, hubunganku dan Fajar akan segera berakhir. Aku sudah nggak ada urusan lagi sama aturan Keluarga Yandika." Sang kepala pelayan hanya melambaikan tangan tanpa ekspresi. Seorang pengawal mendekat tanpa suara, mengangkat tangan, dan dengan tepat menepuk belakang leher Wulan. Pandangan Wulan langsung gelap, dan seketika dia kehilangan kesadaran. Saat terbangun lagi, Wulan mendapati tangannya terikat di belakang, dan dia dipaksa berlutut di aula utama rumah Keluarga Yandika yang penuh kesan menekan dan serius. Athalla duduk tegak di kursi tinggi di ujung aula, mengenakan gaun ungu gelap, dengan rambut tersisir rapi, dan mata yang tajam seperti elang. "Wulan, sampai kapan kamu mau bertindak seenaknya sendiri? Bertahun-tahun, perutmu nggak menunjukkan tanda-tanda apa pun. Kalau kamu nggak mau melakukan prosedur bayi tabung, ya sudah. Tapi kenapa kamu malah menghancurkan rumah sakit itu? Dan sekarang, kamu pergi ke tempat-tempat yang nggak pantas untuk bersenang-senang! Padahal kamu putri Keluarga Wibisana ... seharusnya kamu berpendidikan tinggi dan tahu sopan santun. Bahkan Zoya, yang berasal dari keluarga biasa, masih lebih tahu aturan daripada kamu!" Wulan yang masih berlutut di lantai merasa hatinya perih saat mendengar Athalla membandingkannya dengan Zoya. Apakah ini maksud Fajar? Menjadikannya, sang istri sah, sebagai latar yang menonjolkan kebaikan dan kepatuhan Zoya? Sungguh konyol. Wulan, primadona paling bebas dan menonjol di Kota Arunika, yang dikejar banyak pria tapi tak ada yang bisa memilikinya, ternyata kalah dibanding Zoya di hati Fajar? Bahkan harus dipermalukan hanya demi wanita itu! Wulan menahan sesak di tenggorokannya, lalu menatap Athalla dengan wajah tanpa ekspresi, dan bertanya, "Di mana Fajar? Aku ingin bertemu dengannya." Athalla mendengus dingin. "Fajar sibuk bekerja dan nggak ada waktu untuk menemui kamu! Kamu berani bertindak semaumu karena selama ini dia terlalu memanjakanmu! Dia penerus terbaik Keluarga Yandika. Kalau kamu nggak mau membantunya, nggak apa-apa. Tapi kamu terus membuat masalah setiap hari dan mengganggu pekerjaannya. Kapan kamu pernah memikirkannya?" "Memikirkannya?" Wulan menahan tawa sinis di dalam hati. Dulu dia terlalu memikirkannya dan takut Fajar terjebak di antara keluarga dan dirinya. Karena itu, dia menekan sifat aslinya, memaksakan diri belajar semua aturan, dan berusaha menjadi istri Fajar yang sempurna. Hasilnya? Semua itu hanya membuat dirinya jadi bahan tertawaan. Sekarang Wulan sudah tidak mencintainya lagi. Siapa yang masih bisa menahannya? "Aku ingin bertemu Fajar!" Dia mengulangi kata-katanya dengan tegas dan berusaha bangkit, tetapi pengawal di belakang menahannya dengan erat. "Kurang ajar!" Athalla akhirnya murka begitu melihat Wulan tetap membangkang. "Seret dia keluar! Suruh dia berlutut di ruang leluhur! Dia baru boleh bangun setelah mengakui kesalahannya!" "Aku nggak mau berlutut!" Wulan meronta habis-habisan. Tangan dan kakinya terikat, tapi dia tetap menghantam siapa pun yang mendekat dengan tubuhnya, dan menghancurkan apa pun yang mampu dia jangkau. Suara pecahan vas, meja terbalik, dan perabotan berjatuhan menggema tanpa henti. "Memalukan! Benar-benar memalukan!" Athalla menatap ruangan yang telah porak-poranda. Dan ketika melihat vas antik kesayangannya pecah berkeping-keping di lantai, seluruh wajahnya memucat karena amarah "Kalau kamu nggak mau, maka terima hukumannya! Bawa dia pergi dan jalankan hukuman keluarga! Pukul dia sampai dia mau menurut dan kembali ke rumah sakit untuk program bayi tabung!" Beberapa pengawal berbadan besar langsung menangkap Wulan dan menyeretnya ke halaman samping khusus untuk eksekusi hukuman. Rotan keras menghantam punggung dan belakang lutut Wulan berkali-kali dan tanpa henti. Tiap pukulan terdengar berat dan brutal di udara malam yang sunyi. Rasa sakit yang menusuk itu seketika menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat keringat dingin membasahi pakaiannya. Namun Wulan tetap menahan diri dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapannya keras kepala, seperti hewan kecil yang menolak tunduk. Hingga rasa sakit itu melebihi batas kemampuannya, pandangannya gelap, dan akhirnya dia pingsan. Saat tersadar, aroma cairan antiseptik menyergap hidungnya. Dia tengkurap di ranjang rumah sakit. Bagian punggung yang terluka sudah diobati, tetapi rasa nyerinya masih terus terasa. Pintu kamar sedikit terbuka, dan terdengar percakapan pelan antara Fajar dan Zoya di luar. "Kakak, terima kasih banyak atas semuanya kali ini." Suara Zoya terdengar antara lega dan takut. "Hanya saja ... demi membuat Ibu nggak marah soal patung yang terjatuh itu, kamu sampai memperlakukan Kak Wulan seperti itu. Kamu tahu bagaimana sifat Kak Wulan. Setelah dia bangun, apakah dia ... akan menyalahkanku?" Suara Fajar tetap tenang dan dingin seperti biasanya. "Tenang saja, selama aku di sini, Wulan nggak akan menyakitimu." Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Sifat Wulan memang agak liar, tapi bukan berarti dia nggak tahu aturan. Selama ini, kesalahan ada pada Faris. Dia selalu bermain-main dan membuatmu tersakiti. Aku sebagai kakak sudah gagal mendidiknya. Jadi, aku harus bertanggung jawab atas sisa hidupmu." Mendengar itu, hati Zoya merasa tersentuh. Dia tak mampu menahan diri lagi dan mulai menangis pelan. Di mata Fajar, yang biasanya tenang tak tergoyahkan, terlihat secercah rasa iba untuk pertama kalinya. Dia mengeluarkan saputangan abu-abu yang rapi sempurna dari kantongnya, lalu memberikannya kepada Zoya. "Jangan menangis." Suaranya terdengar lebih rendah, membawa kelembutan yang belum pernah Wulan dengar sebelumnya. "Nanti, kalau di keluarga ini kamu mengalami kesulitan apa pun, langsung saja datang padaku. Aku akan melindungimu."

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.