Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 2

Ketika Fajar mengangkat telepon, suara santai dan acuh milik Faris terdengar dari seberang. [Kak! Tolong aku. Zoya ceroboh sekali. Waktu dia sedang menyiapkan pesta ulang tahun untuk Ibu, dia nggak sengaja mecahin patung kesayangannya! Kalau Ibu tahu, habislah dia! Aku lagi di luar negeri, menemani model baru di pantai. Nggak mungkin aku pulang sekarang. Bisa nggak Kakak bantu bereskan dulu?] [Aku tahu ini agak bertentangan sama prinsipmu yang kaku itu, tapi bagaimanapun juga Zoya itu iparmu. Masa kamu mau tinggal diam?] Fajar mengerutkan kening, nada suaranya menjadi dingin. "Kalau kamu sudah menikahinya, seharusnya kamu yang menjaganya. Itu tanggung jawabmu. Pulang sendiri dan urus istrimu." [Ah, Kakak kan tahu aku! Dulu aku menikahi dia karena dia terlihat segar dan polos, walaupun dia miskin. Tapi, ya namanya juga bosan. Nggak seperti Wulan, cantik, garang, energinya gila! Zoya itu ... makin lama makin hambar dan membosankan. Sekarang dia kerjaannya nangis tiap telepon. Mengganggu liburanku saja!] Begitu mendengar kalimat "Zoya menelepon sambil nangis", sorot mata Fajar berubah tajam dan gelap. Dia diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab dengan suara datar yang sulit ditebak. "Baiklah. Aku akan mengurusnya." Setelah mengucapkan itu, Fajar menutup telepon dan melangkah cepat keluar kantor. Karena pikirannya sepenuhnya tercurah pada urusan Zoya, dia bahkan tidak menyadari Wulan yang berdiri pucat pasi di balik pintu yang masih terbuka sedikit. Wulan memandangi sosok Fajar yang semakin menjauh, dan mendengar dia memberi instruksi kepada asistennya sambil berjalan. "Cari tahu di mana Wulan sekarang." Sang asisten segera menjawab cepat, "Pak Fajar, kami baru mendapat kabar Nona Wulan nggak mau menjalani prosedur bayi tabung, dan sudah kabur dari rumah sakit." Fajar tetap melangkah tanpa berhenti sedetik pun, suara dinginnya terdengar tanpa gelombang emosi. "Kirim orang ke rumah sakit sekarang. Suruh mereka hancurkan tempat itu." Asisten itu tertegun sejenak, lalu dengan hati‑hati memastikan. "Pak Fajar, maksud Anda ... Anda ingin kami menjadikan penghancuran rumah sakit sebagai ulah Nona Wulan, lalu melaporkannya kepada Bu Athalla, supaya kemarahan beliau beralih kepada Nona Wulan?" Wajah Fajar tampak tegas dan dingin, dan suara yang keluar sama sekali tidak bergetar. "Ya. Buat keributan sebesar mungkin agar perhatian ibuku sepenuhnya teralihkan dari masalah patung yang Zoya pecahkan." Seketika ... Wulan merasa seolah sambaran petir meledak di kepalanya. Seluruh tubuhnya terasa dingin dari ujung kepala sampai kaki. Dia baru menyadari, Fajar mencarinya bukan karena peduli padanya, bukan karena ingin tahu apakah dia baik-baik saja, melainkan untuk menjadikannya kambing hitam bagi Zoya. Agar dialah yang menerima amarah Athalla. Apa lagi yang perlu ditanyakan? Apa lagi yang perlu dibuktikan? Kenyataan yang begitu kejam terhampar jelas di depan mata hingga Wulan tak bisa lagi menipu dirinya sendiri. Jantungnya terasa seperti diremas dan ditarik dengan keras, hingga sakitnya membuatnya sesak. Setiap tarikan napas terasa pahit dan pedih seperti darah. Ketika Wulan sadar kembali, Fajar sudah pergi. Akhirnya, dia tersadar sepenuhnya. Dengan gerakan cepat, dia mengangkat tangan dan menghapus semua air mata yang tak sadar telah membasahi wajahnya. Apa pun yang Wulan ambil, dia bisa melepaskannya. Dia tidak akan menangis demi seorang pria yang tidak mencintainya dan hanya memanfaatkannya. Wulan langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon ayahnya, Wira Wibisana. "Wira, aku mau bercerai dari Fajar. Gunakan semua koneksi dan relasi yang kamu punya. Aku ingin mendapatkan akta cerai secepat mungkin." Di seberang telepon, Wira jelas terkejut oleh keputusan mendadak itu, dan akhirnya meledak marah. [Apa lagi yang kamu lakukan? Apa kurangnya Fajar? Dia dewasa, mampu, dan berasal dari keluarga terpandang! Banyak perempuan memohon ingin menikah dengannya! Jangan bertindak semaunya sendiri!] "Aku bukan sedang meminta pendapatmu!" Wulan memotong tajam. "Bukankah kamu selalu berharap aku jauh-jauh dari sini? Supaya kamu, selingkuhanmu, dan dua anak haram kesayanganmu bisa hidup rukun tanpa gangguan?" Dia menarik napas dalam, menekan rasa sesak yang menumpuk di tenggorokan, lalu berkata dengan jelas, "Selama kamu membantu mengurus perceraian ini, aku janji aku akan pergi dari Kota Arunika, menghilang selamanya, dan nggak akan pernah muncul di depan kalian lagi." Suasana di seberang telepon mendadak hening lama. Wulan menggenggam ponsel, hingga ujung jarinya terasa dingin membeku. Dia sangat mengenal ayahnya. Selama bertahun-tahun, wanita dan anak-anak haram yang mengelilingi ayahnya tak pernah berhenti muncul. Sementara dirinya, sebagai putri sah Keluarga Wibisana, lama-kelamaan menjadi beban dan harus dihapus dari kehidupan mereka. Dulu Wulan terlihat sombong dan semaunya. Tapi kini dia mulai bertanya pada diri sendiri, seberapa banyak dari sikap itu yang merupakan sikap aslinya? Dan seberapa banyak duri yang dia pasang untuk melindungi diri dari keluarga yang kejam? Akhirnya, suara ayahnya terdengar di telepon, seakan lega telah melepaskan beban. [Baiklah, kalau memang kamu bersikeras, aku setuju. Tapi ingat kata-katamu.] Saat itu, Wulan merasa jantungnya seperti ditusuk jutaan jarum sekaligus, dan sakitnya merambat ke seluruh tubuh. Dia mencoba tersenyum, tapi yang muncul hanya senyuman pahit. "Tenang saja, aku juga merasa jijik setiap kali melihat kalian ... "

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.