Bab 8
Miko seolah tersedak oleh kemarahan Stanley. Dia tertawa kering lalu mengalihkan topik. "Baik, baik, aku tahu kamu setia pada Yola. Tapi jujur saja, ini sudah saat-saat terakhir pembalasan dendammu, 'kan? Tiga hari lagi semuanya akan diungkap, bukan?"
"Mm." Suara Stanley kembali tenang dan acuh. "Perjanjian perceraian sudah lama disiapkan. Tiga hari lagi, aku akan memberitahukan semua kebenaran, juga menyerahkan perjanjian perceraian itu, padanya. Permainan ini sudah waktunya berakhir."
"Baik." Nada suara Miko berubah agak sulit ditebak. "Kalau begitu, sebelum itu ... aku tidur dengannya sekali lagi, untuk terakhir kalinya? Anggap saja ... sebagai 'hadiah' kecil untuk jasaku? Lagi pula, ini akan jadi yang terakhir kali."
"Terserah." Suara Stanley akhirnya terdengar. "Jangan keterlaluan."
"Tenang saja, aku tahu batas." Nada suara Miko terdengar jelas dipenuhi kegembiraan.
Terdengar suara langkah kaki, seolah seseorang telah pergi.
Ruangan rawat inap kembali tenggelam dalam keheningan.
Namun bagi Cynthia, keheningan ini justru lebih mencekik daripada percakapan barusan.
Setiap kata bagaikan jarum beracun yang menusuk keras ke jantungnya.
Setelah dua hari lagi dirawat di rumah sakit, kondisi luka di lengannya stabil dan dia boleh pulang untuk beristirahat.
Stanley sendiri yang datang menjemputnya, sepanjang perjalanan menjaganya dengan sangat hati-hati hingga mengantarnya pulang ke rumah.
Malam hari, seperti biasa, dia membujuk Cynthia minum obat, menunggunya berbaring, merapikan selimutnya, lalu berkata dengan suara lembut, "Istirahatlah yang baik. Aku mandi sebentar, nanti aku kembali."
Lampu dipadamkan, pintu kamar ditutup perlahan.
Dalam kegelapan, Cynthia membuka mata, sama sekali tidak mengantuk.
Rasa sakit di tubuhnya jauh kalah dibanding dingin dan kewaspadaan di dalam hatinya.
Dia tahu, "yang terakhir" yang dimaksud Miko kemungkinan besar adalah malam ini.
Benar saja, tak lama kemudian, pintu kamar tidur kembali didorong terbuka dengan sangat pelan. Sebuah sosok masuk tanpa suara dan mendekat ke sisi ranjang.
Setelah lampu dipadamkan, Cynthia merasakan seseorang naik ke atas tempat tidurnya.
Seluruh otot Cynthia menegang seketika, jantungnya berdegap kencang di dalam dada. Namun dia memejamkan mata rapat-rapat, memaksa napasnya tetap stabil, berpura-pura telah tertidur lelap.
Kasur sedikit tertekan, tubuh hangat mendekat. Sebuah tangan dengan terampil melingkari pinggangnya, sementara tangan lainnya mulai bergerak tak tenang, ujung jari yang kasar menyusuri kulit di balik piamanya, memicu getaran refleks di tubuhnya.
Napas panas berembus di dekat telinganya, membawa aroma tembakau samar. Bau khas Miko, sangat berbeda dari Stanley.
Bibir itu pun turun, menuju lehernya.
Tepat saat dia hampir menyentuh, Cynthia seolah terkejut, meringkuk sedikit, lalu dengan suara sengau lemah dan lirih berkata terbata, "Jangan ... Stanley ... hari ini aku ... sedang datang bulan ... nggak enak badan..."
Tangan yang bergerak di atas tubuhnya mendadak berhenti.
Tubuh orang yang memeluknya tampak jelas menegang sesaat.
Dalam kegelapan, terdengar suara yang sengaja direndahkan, meniru kelembutan nada Stanley, namun tetap membawa magnetisme khas Miko dan sedikit kejengkelan yang sulit disembunyikan. "Datang bulan? Kenapa nggak bilang dari tadi."
Dia terdiam sejenak, seolah sangat tidak rela. Lengannya mengencang sedikit, bibirnya menggesek-gesek puncak kepala Cynthia dengan enggan. "Baiklah, malam ini istirahat yang baik. Tunggu sampai kamu pulih."
Tunggu sampai kamu pulih?
Tidak akan ada lagi nanti.
Tidak akan pernah pulih.
"Mm ... " Dia menjawab sangat pelan, suaranya penuh kelelahan.
Miko tidak memaksakan apa pun lagi, tetapi juga tidak pergi.
Dia memeluk Cynthia begitu saja, merengkuh seluruh tubuhnya dalam pelukan yang sangat erat.
Bibir panasnya berlama-lama di kening, pipi, dan sisi lehernya, mengecup dan menjilat dengan nafsu, napasnya kian berat dan membara.
Tangan yang lain pun tidak diam. Di balik piama tipis, pria itu meremasnya ringan namun menggoda, akrab, intim, dan penuh rasa ingin memiliki.
Cynthia mengatupkan bibir, berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri, jangan sampai terbuka celah, jangan sampai dia tahu bahwa dirinya sudah mengetahui kebenaran.
Jika tidak, dia tidak akan bisa pergi.
Keesokan paginya, Cynthia merasakan Miko turun dari ranjang.
Dia berjalan ke arah jendela, seolah menyalakan sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
"Cynthia sedang datang bulan. Tunggu dulu," kata Miko. "Setelah selesai, aku tidur dengannya sekali lagi, baru kamu beri tahu dia kebenarannya."
Orang di seberang telepon tampaknya mengatakan sesuatu.
Miko tertawa. "Jujur saja, Stanley, bagaimana kalau kamu ... mencobanya sendiri? Aku jamin, dia sama sekali berbeda dari 'si cantik kaku' yang biasa kamu lihat ... rasanya, luar biasa."
[Nggak.] Dari seberang telepon, suara Stanley terdengar jelas. Meski terhalang dengung sambungan, rasa dingin dan jijik di dalamnya sama sekali tidak disembunyikan. [Aku merasa muak.]
[Sudah terang, cepat pergi, jangan sampai dia tahu. Beberapa hari ini aku nggak akan kembali ke sana, sekalian menemani Yola. Setelah seminggu, saat masa datang bulannya selesai, kamu tidur dengannya untuk terakhir kali, lalu beri tahu aku waktunya. Aku akan masuk tepat saat itu ... menuntaskan semua yang harus diakhiri.]
"Mengerti." Miko menjawab singkat, nadanya kembali santai seperti biasa. "Kalau begitu, temani saja Nona Yolanda-mu dengan baik. Urusan di sini, serahkan padaku."
Panggilan berakhir.
Miko berdiri di tempat sejenak. Cynthia bisa merasakan pandangannya seolah tertuju padanya, berhenti beberapa saat.
Kemudian, dia mendengar suara pria itu mengambil jaket, membuka pintu, dan pergi.
Hingga langkah kaki itu benar-benar menghilang di lantai bawah dan vila kembali tenggelam dalam keheningan total, barulah Cynthia membuka mata dengan tiba-tiba, terengah-engah seperti baru saja berjuang keluar dari air yang dalam.
Air matanya tiba-tiba mengalir deras tanpa peringatan, seketika membasahi bantal. Namun dia tidak bisa mengeluarkan satu suara pun, hanya tubuhnya yang gemetar hebat dalam sunyi.
Pada saat itu, ponselnya di meja samping ranjang bergetar sekali, layarnya menyala.