Bab 9
Ada pesan singkat dari Stanley.
[Cynthia, ada proyek darurat di perusahaan, aku harus dinas luar kota selama seminggu. Beberapa hari ini kamu istirahat yang baik di rumah, minum obat tepat waktu. Tunggu aku pulang, aku punya kejutan untukmu. Jangan lupa merindukanku.]
Cynthia menatap pesan itu, air matanya mengalir makin deras, namun di dalam hatinya seolah ada sesuatu yang membeku sepenuhnya.
Aku juga punya kejutan untukmu, Stanley.
Sebuah "kejutan" yang sama sekali tak akan pernah kamu duga.
Dengan tangan gemetar, dia menyeka air mata, hendak menelepon pengacara, tetapi ponselnya justru lebih dulu berdering.
Di layar muncul nama: "Pengacara Randy".
Jantung Cynthia berdegap keras. Dia menarik napas dalam-dalam lalu menekan tombol jawab.
[Masa tenang perceraian Anda dengan Pak Stanley resmi berakhir tengah malam tadi. Akta cerai sudah selesai diurus. Saya baru saja mengambilnya dari kantor catatan sipil. Apakah Anda ada waktu sekarang? Saya bisa mengantarkannya, atau Anda yang akan datang mengambil?]
Akta cerainya sudah keluar?
Akhirnya ... selesai.
"Aku akan datang mengambilnya." Cynthia menyadari suaranya serak tapi dia tetap sangat tenang. "Sekarang juga."
[Baik, saya tunggu di kantor.]
Satu jam kemudian, Cynthia keluar dari kantor pengacara, di tangannya kini ada sebuah buku kecil berwarna merah tua.
"Nona Cynthia." Pak Randy mengantarnya keluar, wajahnya menyiratkan simpati dan sedikit kekhawatiran. "Lalu apa rencana Anda selanjutnya? Soal Pak Stanley di sana ... "
"Pak Randy," sela Cynthia, sambil menatapnya dengan sorot mata yang tenang hingga nyaris hampa. "Tolong bantu aku dua hal lagi."
"Silakan."
"Pertama, bantu aku mengurus penghapusan data kependudukan. Aku nggak mau pakai lagi identitas Cynthia ini."
Mata Pak Randy terbelalak. "Penghapusan data? Ini ... membutuhkan alasan yang sah, prosedurnya juga rumit dan memakan waktu ... "
"Alasannya adalah meninggal karena kecelakaan." Suara Cynthia datar tanpa riak emosi. "Hari ini juga. kamu pasti punya caranya, bukan? Soal uang bukan masalah. Aset pribadi atas namaku cukup untuk menutupi semua biaya, bahkan masih tersisa untuk berterima kasih kepadamu."
Pak Randy menatap sorot matanya yang tegas, tahu bahwa keputusan Cynthia sudah bulat. Dia mengangguk berat. "Saya mengerti. Lalu bantuan kedua?"
Cynthia perlahan menoleh, memandang ke arah perkiraan lokasi vila itu berada. Di kedalaman matanya, menyala api kehancuran.
"Kedua, bantu aku membakar vila itu. Apinya nggak perlu besar, tapi harus terlihat seperti kecelakaan, dan ... Cynthia nggak berhasil menyelamatkan diri."
Seketika, Pak Randy memahami maksudnya!
Melepaskan diri dengan tipu muslihat!
Dia ingin membuat Cynthia benar-benar "mati" dalam kebakaran itu!
Menghilang sepenuhnya dari dunia semua orang, bersih tanpa jejak!
Pak Randy tahu hati Cynthia sudah mati dan tekadnya tak mungkin digoyahkan.
"Anda ... " Suara Pak Randy terdengar tegang, jakunnya bergerak. "Sudah Anda pikirkan matang-matang? Melangkah sejauh ini berarti, nggak akan ada lagi Cynthia di dunia ini."
"Dia memang seharusnya sudah mati sejak lama." Suara Cynthia ringan seperti desahan. "Sejak hari dia memercayai dongeng cinta."
Hening panjang menyelimuti, udara seakan membeku.
Akhirnya, Pak Randy menghela napas panjang dan berat, seolah mengerahkan seluruh tenaganya. "Baiklah. Saya setuju membantu Anda. Tapi Anda harus berjanji, setelah pergi, jangan pernah kembali ke Kota Jinantara, dan jangan biarkan siapa pun mengetahui identitas dan keberadaan baru Anda. Cynthia Tandri harus benar-benar mati tanpa jejak."
"Aku janji." Cynthia mengangguk. "Terima kasih, Pak Randy."
"Jaga dirimu." Pak Randy menjabat tangannya, sorot matanya rumit dan penuh makna.
Begitu keluar dari kantor pengacara, Cynthia tidak berhenti.
Dia langsung menuju bandara dan membeli tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan tercepat.
Setelah semua itu selesai, dia duduk di ruang tunggu bandara yang hiruk-pikuk, menatap pesawat yang lepas landas dan mendarat di balik kaca, hatinya kosong namun tenang.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Pak Randy masuk, hanya berisi satu simbol sederhana. [OK.]
Artinya, semuanya sudah siap.
Dia mematikan ponsel, mengeluarkan kartu SIM, mematahkannya perlahan, lalu membuangnya ke tempat sampah di sampingnya.
Pada saat itu, pengumuman keberangkatan terdengar.
Cynthia berdiri, melewati pemeriksaan keamanan, melangkah ke lorong penghubung, masuk ke dalam kabin, lalu duduk di kursi dekat jendela.
Pesawat perlahan bergerak, menambah kecepatan, menanjak, dan melesat menembus angkasa.
Di bawah sana, Kota Jinantara tampak makin kecil, perlahan tertutup oleh lapisan awan.
Selamat tinggal.
Tidak, ini adalah perpisahan selamanya.
Stanley, Miko.
Semoga kita takkan pernah bertemu lagi dalam kehidupan ini.
Semoga di dunia yang penuh perhitungan, kebohongan, dan luka itu, kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan.
Cynthia bersandar di sisi jendela, menatap lautan awan yang bergulung dan langit berbintang yang kian jelas, lalu memejamkan mata.
Air mata mengalir, tanpa suara.
Namun kali ini, bukan karena kehilangan, melainkan demi ... kelahiran kembali.