Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 1

Lampu sirene mobil polisi menyala di lokasi terjadinya kecelakaan beruntun malam itu. Aku memegang papan klip dan berjalan menuju bagian belakang mobil yang rusak. Siapa sangka aku malah bertemu dengan mantan suamiku, Faris, dan putra kami, Daffin, di tempat seperti ini. Daffin tertegun melihatku. Dia lalu menarik lengan baju Faris. "Ayah, orang itu mirip banget sama Ibu." Tanpa mendongak, Faris hanya menjawab sambil memeriksa pintu mobil. "Ibumu di rumah, jangan asal bicara." Tapi dia lalu menoleh. Saat kami akhirnya saling pandang, seluruh tubuhnya membeku seketika. Detik berikutnya, dia menerjang ke arahku. Dia mencengkeram pergelangan tanganku, lalu bertanya dengan napas yang masih tersengal, dan suara yang terdengar bergetar. "Luna? Kamu ... masih hidup?" Aku melepaskan cengkeramannya sambil mengerutkan kening. Kemudian mulai menulis lagi. "Pak, aku sedang tugas. Tolong kerja samanya." Ayah dan anak itu terdiam mematung di tempat. Mereka terdiam menatapku yang bersikap dingin. Setelah selesai mengurus lokasi kejadian, aku kembali menaiki motorku dan hendak pergi. Tapi dua orang itu malah mengejarku. Daffin memanggil dengan suara pelan, "Ibu ... " Faris menelan ludah. Dia terlihat tegang saat berkata. "Luna, ingatanmu ... sudah kembali?" Aku mengangguk, lalu menjawab dengan nada datar. "Iya. Aku sudah pulih sejak ledakan lima tahun lalu." ... Segera setelah aku berkata begitu, Faris terdiam membisu selama beberapa detik. Dia terlihat menelan ludah dengan susah payah. "Lalu kenapa kamu nggak pulang?" Suaranya terdengar serak. "Dulu ... aku pergi mencarimu. Tapi mereka semua bilang kamu sudah meninggal." Butiran air hujan yang turun, terasa dingin di wajahku. Aku menatap matanya, lalu berkata dengan suara tenang tanpa emosi. "Luna memang sudah mati lima tahun lalu." Setelah itu aku diam, lalu mengalihkan pandangan dan mengambil helm. "Apa masih ada urusan lain yang perlu dibantu, Pak Faris?" "Kalau nggak, aku harus kembali ke timku." Faris kaget mendengar caraku memanggilnya begitu dingin. Dia mengerutkan kening, lalu mengambil langkah mundur. Dengan wajah yang tampak ragu, dia berkata. "Luna, ayo pulang. Daffin ... kami semua kangen." Daffin mendongak dan menatapku dengan wajah memelas sambil berkata. "Ibu ... " Aku menunduk dan menatap anak itu. Lima tahun tidak berjumpa, dia sudah jauh lebih tinggi. Alisnya, mata, serta hidungnya mirip denganku. Tapi bagian di hatiku yang dulu begitu menyayanginya, kini telah membeku. Tidak ada lagi gelombang perasaan di sana. Aku mengalihkan pandanganku, lalu segera memakai helmku dan mengaitkannya hingga berbunyi klik. "Jangan asal panggil." Suaraku agak teredam karena sudah memakai helm, "Aku bukan ibumu." Tanpa menunggu dua orang itu bereaksi lagi, aku menstarter motorku dan langsung melesat pergi. "Ibu!" "Luna!" Dari kaca spion, terlihat ayah dan anak itu mencoba mengejar beberapa langkah. Aku lalu mengalihkan pandangan dan fokus dengan jalanan di depan. Air hujan membasahi wajahku, rasanya dingin. Tapi ini membuatku makin tersadar. Saat sudah kembali ke markas, waktu pergantian sif baru saja selesai. Lampu kantor masih terang benderang. Aroma mi instan yang familier terasa memenuhi udara. Saat baru saja melepas rompiku yang basah kuyup, beberapa rekan yang masih belum pulang langsung mengerumuniku dengan mata berbinar. "Luna! Sudah balik?" Ari, rekan setimku, adalah orang yang paling duluan mendekat. Suaranya terdengar pelan, tapi dia terlihat tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya. "Katanya, kecelakaan beruntun di jalan tol yang kamu tangani hari ini, ada mobilnya Pak Faris dari Kota Sujarbaya, ya?" Aku mengangguk, agak kaget. "Iya. Kok kalian bisa tahu secepat ini?" "Ada wartawan yang sudah memfotonya. Sepertinya dia di dalam mobil sama anaknya? Dia pasti tampan, ya?" "Hm," jawabku yang kemudian berjalan ke loker untuk ganti baju dinas. Mereka sendiri masih heboh membahasnya. "Aku tadi lihat di lini masa. Anaknya masih kecil tapi ganteng banget. Dia jelas mewarisi gen unggul dari orang tuanya." Ari mengayunkan ponselnya. Dian yang sedang merapikan berkas terlihat mendongak. Dia merapikan letak kacamatanya dan berkata dengan santai. "Tapi, seingatku anak yang lagi sama Faris itu, bukan anak dari istrinya yang sekarang, 'kan? Katanya, itu anak dari mantan istrinya?" Mata Ari langsung terbelalak. "Apa? Dia punya mantan istri? Yang tiap hari pamer kemesraan di sosmed dengannya itu bukan istri pertamanya?" Dian terlihat lumayan paham soal kisah lama keluarga dari Kota Sujarbaya itu. Dia menggelengkan kepala. "Jelas bukan istri pertama. Istri yang sekarang itu baru nikah lima tahun sama Faris." "Mantan istrinya katanya bodoh dan mengalami kecelakaan." "Dulu, semua orang di Kota Sujarbaya juga tahu kalau putra mahkota Keluarga Lupito suka sama perempuan bodoh itu." "Dulu namanya Lu ... Lu siapa ya?" Aku berdiri membelakangi mereka. Gerakanku membuka pintu loker sama sekali tidak terjeda. "Luna!" "Iya, namanya Luna!" Dian berkata sambil menepuk paha. Tapi usai bicara begitu, kantor mendadak hening sesaat. Beberapa pasang mata kompak menatap ke punggungku. Ari yang pertama bereaksi. Wajahnya tampak heran saat bicara. "Eh, Luna, kebetulan banget namanya sama denganmu ... " Aku menutup loker, dan tanpa berbalik pintu, aku mencoba tertawa pahit. "Bukan kebetulan." "Soalnya memang aku si bodoh itu."
Previous Chapter
1/11Next Chapter

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.