Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 2

Mereka tampak terkejut mendengar ucapanku barusan. Kantor begitu sunyi, suara hujan di luar sampai terdengar jelas. Aku melihat mereka kaget, tapi juga tidak menjelaskan. Aku balik badan dan berjalan ke kamar mandi. Air dingin mengalir di jariku, sekaligus membuka kembali kenangan-kenangan masa lalu. Kenangan-kenangan dari beberapa tahun lalu itu, meluap begitu saja tanpa mampu dikendalikan. Awalnya, Faris adalah sahabat kakakku, Rendy. Mereka kuliah di satu kota yang sama. Karena beban akademi kakakku di kepolisian lumayan berat, aku sering memanfaatkan alasan mengantarkan baju ganti untuknya, lalu diam-diam menemui kakakku. Lambat laun, aku pun berkenalan dengan Faris yang selalu bersama kakakku. Tadinya, Faris tidak lebih dari 'teman kakak yang tampan dan kaya raya'. Faris akan mengacak rambutku sambil menyebutku 'Lemon Kecil'. Dia juga akan sigap menarikku ke belakangnya, melindungiku setiap kali kakakku memarahiku. Entah sejak kapan, tapi ada yang berbeda saat dia menatapku. Kami diam-diam berpacaran tanpa sepengetahuan kakakku. Seperti semua cerita cinta klise anak muda, Faris akan menungguku di bawah asrama. Sambil bergandengan tangan, kami akan berjalan-jalan di lapangan saat malam musim panas. Lalu, aku pergi ke Astrasia untuk melanjutkan studi. Kami dipisahkan luasnya samudra pasifik. Saat Faris sudah mengambil alih bisnis keluarga, dia benar-benar sibuk. Tapi dia rela transit tiga kali, bahkan terbang belasan jam dan menempuh ribuan kilometer demi bertemu denganku. Cinta kami waktu itu begitu membara dan murni, membuat orang tidak kenal takut. Seolah gunung dan lautan pun bisa ditaklukkan. Lalu, kakakku gugur dalam sebuah tugas. Faris memelukku yang menangis sampai pingsan. Dia bersumpah di depan batu nisan kakakku. "Rendy, tenanglah. Mulai sekarang, Luna punya aku. Aku akan mencintainya, merawatnya, dan melindunginya seumur hidup." Kemudian, kami pun menikah dan lahirlah Daffin. Dari kecil hingga dewasa, dari yang tadinya sepasang kekasih, kini menjadi suami istri, bahkan menjadi orang tua. Selama sepuluh tahun, dia memang benar-benar melakukan segalanya dengan sempurna. Orang-orang di Kota Sujarbaya bilang kalau Luna pasti pernah menyelamatkan galaksi di kehidupan sebelumnya. Makanya sekarang bisa menikah dengan Faris. Tapi sesuatu terjadi saat Daffin berusia enam tahun. Ada balas dendam dari lawan bisnis yang sudah direncanakan dengan matang. Mobil kami disabotase. Kami waktu itu sedang menyusuri jalanan berliku di pegunungan. Tapi remnya malah blong dan membuat mobil kami terjun ke jurang. Di detik terakhir, aku refleks bergegas mau melindungi Faris dan Daffin. Saat siuman, kemampuan berpikirku menurun. Aku jadi seperti anak usia lima tahun. Faris menggenggam erat tanganku sambil menangis keras, hatinya seolah tercabik-cabik. "Luna, maafkan aku ... Aku gagal melindungimu ... " "Jangan takut. Mau seperti apa pun kondisimu, kamu tetap Lunaku." "Aku bersumpah nggak akan meninggalkanmu seumur hidupku. Aku janji cuma akan mencintaimu seorang, selamanya ... " Daffin kecil bersandar di samping ranjang. Matanya merah dan bengkak. Lalu dia berkata dengan suara khas anak-anak yang polos. "Ibu, jangan takut. Aku sudah besar, aku bisa melindungi Ibu." Dia memang melakukannya. Keluarga kaya seperti Keluarga Lupito sangat mementingkan gengsi dan penerus. Mertuaku sulit menerima kondisiku saat itu. Mereka terus menekan Faris, memaksanya agar menikah lagi. Tapi Faris tidak pernah setuju. Dia bahkan menyatakan di depan semua orang, bahwa dirinya hanya punya satu istri seumur hidupnya, dan wanita itu bernama Luna. Dia jauh lebih sabar dibandingkan sebelum kecelakaan terjadi. Tatapannya padaku juga selalu lembut dan penuh cinta. Lalu datanglah sosok Niken di sampingku. Dia gadis dari pegunungan yang sudah lama kubantu secara finansial. Nama aslinya Nikta, aku yang membantunya ganti nama. Aku juga membiayai seluruh biaya sekolahnya dari SMA sampai S2. Dia selalu menuliskan surat panjang untukku tiap tahun. Setiap barisnya dipenuhi ucapan terima kasih. Begitu mendengar aku tertimpa musibah, dia yang baru lulus itu pun langsung datang ke Kota Sujarbaya. Melihatku yang tampak linglung, air matanya pun mengalir deras. Dengan kedua mata memerah, dia memaki-maki sambil menunjuk wajah Faris, benar-benar tidak memedulikan status pria itu. "Apa begini caramu merawatnya? Begini caramu melindunginya?" "Kamu membuatnya yang baik-baik saja jadi seperti sekarang!" Saat itu, bahkan Daffin sampai dibuat takut dan tidak berani bersuara. Niken memilih untuk menetap. Dia mendapatkan pekerjaan di Kota Sujarbaya. Sepulang kerja dia akan datang ke rumah Keluarga Lupito untuk membantuku membersihkan tubuh, lalu menemaniku mengobrol. Dia benci sekali dengan Faris dan Daffin. Dia merasa mereka yang sudah membuatku jadi seperti sekarang. Daffin sendiri juga membenci Niken. Waktu itu, meski aku tidak bisa berpikiran dewasa, aku tetap bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Aku sering menarik tangan Niken, lalu menarik tangan Daffin sambil bergumam tidak jelas. "Niken baik ... Daffin baik ... semuanya baik ... " Niken membiarkanku menarik tangannya yang terasa kaku dan enggan. Sementara Daffin akan melepaskan diri dengan canggung, lalu lari ke kamarnya. Entah sejak kapan, perasaan tidak suka di antara mereka mulai berkurang. Mungkin karena Niken mulai memasak, dan dia akan membuatkan satu atau dua menu yang Faris suka. Mungkin juga, karena sepulang kerja Faris sesekali membawakan kue tambahan yang Niken suka. Atau, bisa juga karena aku suatu hari tidak sengaja menemukan kalau Daffin menambahkan sosok Niken dalam gambar keluarga buatannya. Suasana di rumah perlahan menjadi rukun. Aku, si bodoh ini, tenggelam dalam keharmonisan itu. Aku merasa tenang dan bahagia. Sampai suatu pagi. Aku terbangun di kamar Daffin, lalu dengan langkah sempoyongan berjalan ke kamar utama. Begitu membuka pintu, aku melihat dua sosok tidak berbusana, sedang saling menjerat satu sama lain di depanku.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.