Bab 8
Dirinya tak sanggup membantah pria itu, sementara waktu juga mendesak, dia hanya bisa naik ke mobilnya.
Namun di tengah jalan, Dario tiba-tiba memutar arah, katanya ingin menjemput seseorang.
Saat sosok Yanisha muncul, hati Elyra terguncang.
Dirinya sebenarnya ingin bertanya pada Dario, mengapa untuk memindahkan abu jenazah ayahnya saja harus membawa orang yang sama sekali tidak ada hubungannya, apakah mereka benar-benar tidak bisa dipisahkan?
Namun karena waktu mendesak, dia menelan semua pertanyaan itu.
Di perjalanan menuju makam baru, sambil memeluk kotak abu jenazah, Elyra berjalan sendirian di depan, tanpa sepatah kata pun.
Setelah semuanya dibereskan dan hendak dimakamkan, ponsel Dario berdering.
Pria itu melirik nomor itu, mengerutkan kening, lalu bangkit dan berjalan keluar.
Elyra tidak bertanya ke mana perginya, hanya menunduk hendak menurunkan kotak abu jenazah itu, tetapi Yanisha dengan senyum mengejek justru menghalanginya.
"Rio hari ini sudah berjanji menemaniku melihat matahari senja, cuma sekalian saja mengantarmu ke pemakaman, kamu nggak tahu, 'kan?"
Elyra memang tidak tahu.
Namun dirinya juga tidak peduli, hanya ingin ayahnya segera beristirahat dengan tenang.
Karena itu dia sama sekali tidak menggubris provokasi Yanisha, bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Dia memeluk kotak abu dan hendak memakamkannya.
Yanisha yang belum pernah diacuhkan seperti ini, seketika naik pitam dan segera menariknya. "Elyra, kamu sok apa sih? Aku lagi ngomong, kamu tuli, ya?"
Melihat betapa Elyra menjaga kotak abu jenazah itu, Yanisha jadi nekat, tiba-tiba mengangkat tangan merebut kotaknya, lalu membantingnya keras-keras ke tanah!
Dengan suara keras, kotak itu menggelinding ke bawah, hancur berkeping-keping.
Abu jenazah putih keabuan berserakan di tanah.
Akal sehat Elyra runtuh sepenuhnya pada saat itu.
"Ayah!"
Dirinya berlari seperti orang gila ke bawah, menangis sambil berlutut, berusaha meraih debu-debu halus itu.
Namun embusan angin kencang yang tiba-tiba datang memadamkan sisa harapannya.
Dirinya hanya bisa menatap abu itu tertiup angin, berusaha mati-matian menahannya, tetapi tak satu pun bisa dipertahankan.
Itu ayahnya, dari manusia hidup menjadi segenggam abu, tetapi kini, bahkan sedikit pun tak bisa dia jaga!
Amarahnya meluap, dia tak sanggup lagi menahan diri, memaksa dirinya berdiri dan berjalan ke depan Yanisha, lalu mengayunkan tangan dan menamparnya keras-keras.
"Yanisha! Itu abu ayahku, satu-satunya yang dia tinggalkan di dunia ini untukku. Apa kamu tahu, merusak arwah orang akan membuatmu turun ke delapan belas lapisan neraka!"
Plak! Wajah putih itu segera membengkak.
Yanisha tertegun karena tamparan itu, marah dan hendak membalas, tetapi sudut matanya tiba-tiba menangkap Dario yang baru kembali.
Akal sehatnya yang sempat hilang segera pulih. Dia memanfaatkan situasi dengan menjatuhkan diri ke belakang dan menggelinding menuruni tangga.
Dario yang tidak tahu sebab musababnya melihat adegan itu, segera berlari dan memeluk Yanisha. "Elyra, apa yang kamu lakukan?"
"Apa yang aku lakukan? Seharusnya kamu tanya apa yang dia lakukan!"
Ini adalah pertama kalinya Dario melihat Elyra berteriak sekeras itu. Dia mengangkat pandangan. Ketika melihat wajah Elyra yang penuh air mata, amarah di wajah pria itu seketika membeku.
Detik berikutnya, Yanisha merangkulnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Rio, aku tadi nggak sengaja menjatuhkan kotak abu ayah Lyra. Begitu angin berembus, semuanya hilang. Lyra marah lalu mendorongku jatuh dari tangga. Aku sudah berdarah sebanyak ini, anggap saja impas, ya ...."
Melihat kotak yang hancur di samping, hati Dario menegang.
Dia ingin mengatakan kata-kata penghiburan, tetapi saat keluar dari mulutnya, justru berubah menjadi makna lain, "Nisha nggak sengaja ...."
"Pergi!"
Dengan hanya mengucapkan satu kata itu, Elyra telah mengerahkan seluruh tenaganya.
Dario masih ingin menjelaskan, tetapi Yanisha menangis sambil mencengkeram lengan bajunya. "Rio, sakit sekali, apa kakiku patah, ya?"
Mendengar itu, Dario meliriknya, akhirnya memilih menggendong Yanisha dan pergi dengan langkah cepat!