Bab 14

Melihat Sandara sangat emosional, Serina dengan datar berkata, "Meski kali ini berhasil menghindari, lain kali dia akan mencari kesempatan lain untuk melibatkanku. Lebih baik kali ini membuatnya belajar dari kesalahan." "Klien yang dia berikan padamu pasti sangat sulit untuk dihadapi. Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu menderita gagal!" Serina tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, kamu bisa kembali bekerja." "Aku masih khawatir, nanti saat kamu sedang berbicara dengan klien itu, aku akan bergabung bersamamu," ujar Sandara. "Tidak perlu. Kalau aku bahkan tak bisa menangani hal ini sendiri, bagaimana kita bisa mengatasi tantangan yang lebih besar di masa depan?" Serina menjawab dengan mantap. Melihat ketegasan Serina, Sandara akhirnya mundur dan berkata, "Baiklah, tapi kalau ada situasi darurat, kamu harus meneleponku. Jangan memendam sendiri!" "Iya, aku mengerti," ujar Serina. Tidak lama setelah Sandara pergi, Bagas datang untuk menyampaikan kontrak untuk dinegosiasikan. Ekspresi Bagas penuh dengan kesombongan saat berkata, "Bu Serina, saya tunggu tanda tangan Anda!" "Baiklah. Pak Bagas bisa pergi kalau tak ada yang perlu disampaikan lagi, aku masih memiliki banyak pekerjaan," ujar Serina. Dengan kemarahan terpancar di matanya, Bagas kemudian tertawa dingin sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan. Dia menantikan melihat nasib buruk Serina. Serina melihat dokumen sebentar. Setelah membuat janji untuk bertemu pada malam hari, dia mulai sibuk dengan pekerjaan lainnya. Sebentar lagi waktunya pulang kerja, Serina mengambil dokumen dan langsung menuju hotel yang telah mereka sepakati. Begitu Serina masuk ke dalam ruangan, orang-orang yang duduk di dalam segera berdiri lalu berkata dengan riang, "Bu Serina, silakan duduk!" Edwin Santosa tidak menyangka bahwa Serina sangat cantik. Pemandangan itu membuatnya tidak tahan, dia berharap bisa menerkam Serina sekarang juga. Kali ini, Bagas benar-benar memberinya hadiah seorang wanita cantik. Mengingat kata-kata yang Bagas ucapkan padanya melalui telepon, Edwin tidak bisa menahan rasa gatal di hatinya. Serina duduk di kursi yang berjarak dua kursi dari Edwin lalu berkata sambil tersenyum, "Halo, Pak Edwin." Tidak puas karena Serina duduk agak jauh, Edwin langsung berdiri lalu duduk di sebelah Serina. Matanya yang berwarna hijau muda menyipit saat dia memandangi bagian dada Serina. "Kenapa Nona Serina harus membuat suasana begitu canggung? Meski kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi setelah ini kita akan lebih akrab. Panggil saja aku Kak Edwin!" ujar Edwin sambil senyum. Edwin berusia di atas lima puluh tahun, lebih tua dari Aldi. Ketika dia tertawa, kerutan di wajahnya bergetar seperti ayakan. Rasanya cukup aneh menyuruh Serina memanggilnya kakak. Sambil berbicara, Edwin tanpa sadar meraih tangan Serina yang berada di atas meja. Detik berikutnya, terdengar suara teriakan mengerikan seperti suara babi yang sedang disembelih. "Ah! Lepaskan aku! Sakit!" Dengan tenang, Serina melepaskan genggaman Edwin lalu berkata, "Maaf, Pak Edwin, aku tak terlalu suka saat orang menyentuhku." Meskipun meminta maaf, tetapi mata Edwin tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan. Edwin merasa kesal di dalam hatinya. Dia mendelik lalu tiba-tiba tersenyum lagi. Edwin mengambil botol anggur merah yang sudah terbuka di atas meja lalu menuangkan segelas untuk Serina sambil berkata, "Begini saja. Kalau kamu minum segelas ini, aku tak akan mempermasalahkan insiden tadi. Bagaimana?" Serina mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum sambil berkata, "Pak Edwin, minum anggur merah terlalu biasa. Aku akan meminta pelayan membawa beberapa botol arak putih." Melihat Serina berdiri untuk pergi, senyum di wajah Edwin berubah menjadi dingin. Dia pun berkata, "Nona Serina, karena kamu tampaknya kurang serius, aku pikir kita tak perlu melanjutkan pembicaraan tentang kerjasama ini!" Edwin meletakkan gelas anggur merah dengan keras di atas meja hingga berbunyi klang. Saat ini, wajahnya penuh dengan kemarahan. Serina menyadari bahwa Edwin hanya ingin memanfaatkan kontrak untuk keuntungannya sendiri. Dengan tenang, dia berkata, "Baiklah, Pak Edwin, nikmati makanannya. Aku akan pergi duluan." Awalnya, Edwin bermaksud mengancam Serina, tapi tidak diduga, Serina justru langsung meninggalkan tempat itu tanpa ragu. Edwin tersentak beberapa detik sebelum akhirnya menyusul ke luar. "Berhanti!" ujar Edwin. Suara Edwin terdengar cukup keras dan langsung menarik perhatian orang di sekitar. Melalui pemisah kayu yang berukir, beberapa orang di sisi lain dapat melihat Serina dan Edwin di seberang. Ferry dan yang lainnya datang untuk makan malam bersama malam ini. Mereka tidak menyangka akan bertemu Serina di sini. Mereka semua mengenal Edwin. Dia mulai dari usaha tekstil, tetapi dengan mengambil peluang pada beberapa tahun terakhir, dia berhasil menjadi bos. Dia jadi kaya mendadak dan mulai bersikap sombong, sehingga orang-orang yang memiliki status tinggi tidak terlalu suka padanya. Melihat wajah Aldi yang muram, Ferry tidak tahan untuk berbisik, "Aldi, bagaimana Serina bisa terlibat dengan Edwin? Edwin suka bermain dengan wanita, yang terjerat dengannya bahkan bisa jadi cacat parah. Reputasinya sangat buruk di Kota Darley." Meskipun dia merasa bahwa Serina tidak sepadan dengan Aldi, tetapi dia tidak ingin melihat Serina hancur karena Edwin. Aldi menatap Serina dengan wajah datar, dia tidak diketahui apa yang ada di dalam pikirannya. Serina tidak memperhatikan orang-orang di sebelahnya, dia kembali menatap Edwin lalu berkata dengan tenang, "Apakah ada hal lain, Pak Edwin?" Edwin tertawa dingin lalu berkata, "Serina, kamu hanyalah seorang pegawai humas di Madelinne. Tak perlu berpura-pura polos di depanku. Meski aku mengambil kesempatan darimu di sini, itu tidak akan menyebabkan masalah apapun. Ayo, ikuti aku pulang. Kalau aku dalam suasana hati yang baik, siapa tahu aku akan menandatangani kontrak itu!" Serina mengangkat alisnya sambil berkata, "Inikah yang dikatakan Bagas padamu?" Dengan penuh dengan sikap merendahkan dan ejekan Edwin berkata, "Apakah ada perbedaan kalau Pak Bagas mengatakannya atau tidak? Dengan berpakaian seperti ini, tujuanmu pasti untuk menggodaku, bukan?" Serina mengenakan gaun bertali berwarna putih hari ini, ditutupi dengan blazer. Rambutnya sedikit bergelombang, memberikan kesan lembut dan anggun pada keseluruhan penampilannya. Serina menunduk untuk melihat penampilannya, kesulitan memahami bagaimana cara berpakaian seperti ini dianggap sebagai usaha untuk menggoda Edwin. "Pak Edwin, aku tak tertarik padamu. Aku harap kamu bisa menahan diri," ucap Serina dengan tegas. Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Serina berbalik untuk pergi, tapi Edwin dengan dingin berkata, "Datang dan pergi sekehendakmu, tak akan semudah itu!" Ketika Edwin selesai bicara, tiba-tiba muncul dua pria berpostur besar di sekitar Serina. Keduanya tinggi setidaknya 1,8 meter dan menatap Serina dengan ekspresi menindas. Serina mengerutkan bibirnya, tetapi matanya terlihat dingin, "Pak Edwin, apakah kamu ingin menyelesaikannya dengan kekerasan?" Ferry yang berdiri di balik pemisah kayu tidak tahan dan berbisik, "Aldi, kalau kamu tak keluar dan menghentikannya, Serina akan dibawa pergi oleh Edwin!" Dalam pandangannya, Serina sebagai seorang wanita yang lemah, pasti akan mengalami kesulitan. Dengan ekspresi dingin di matanya, Aldi berkata, "Tunggu sebentar lagi." "Apa yang kamu tunggu!" kata Ferry. Aldi tidak berkata apa-apa lagi, tapi matanya yang muram tertuju pada Serina. Pendiri Madelinne, Anna, baru saja kembali dan sangat kebetulan bahwa tempat kerja Serina adalah Madelinne. Benarkah ini kebetulan semata? Edwin menatap dingin ke arah Serina dengan tatapan penuh dengan kemarahan dan berkata. "Bawa dia ke ruang pribadiku! Lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu nanti!" Setelah mengatakan itu, Edwin berbalik dan berjalan ke dalam ruang, sudah memikirkan cara bermain dengan Serina nanti. Namun, baru saja Edwin berjalan beberapa langkah, terdengar dua jeritan mengerikan dari belakangnya. Sebelum Edwin sempat berbalik, dia mendapat tendangan di pantat, tubuhnya terpental keluar sebelum akhirnya menghantam dinding dengan keras. "Ah!" Edwin berteriak kesakitan saat tubuhnya jatuh dari dinding ke tanah, setiap bagian tubuhnya terasa sakit. Ferry yang berada di belakang pemisah kayu juga terkejut, dan tanpa sadar menatap ke arah Aldi sambil berkata, "Serina selihai itu?" Aldi bahkan tidak sempat melihat bagaimana Serina bergerak sebelumnya, tetapi dua pria berpostur besar itu sudah tergeletak di tanah. Satu tendangan mampu melempar seorang pria, bisakah wanita biasa melakukan hal seperti itu? Aldi tidak mengatakan apa-apa, tetapi memandang Serina dengan pandangan yang lebih dalam. Mungkin, dia tidak pernah mengenal Serina. Di sisi lain, Serina perlahan menghadap ke arah Edwin dengan senyuman dingin di bibirnya. Apa lagi yang dipikirkan Edwin saat ini? Tentu dia merasa bahwa Serina hanyalah iblis. "Kamu ... kamu jangan mendekat! Kalau tidak, aku akan lapor polisi!" Melihat kepanikan di mata Edwin, Serina tetap tanpa ekspresi. Dia mendekati Edwin lalu menaruh satu kakinya di atas dada Edwin. Edwin merasakan sakit yang menusuk di dadanya lalu mengeluarkan seteguk darah. "Kamu baru saja bilang ... ingin membunuhku?"

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.

Terms of UsePrivacy Policy