Bab 15

Edwin dengan cepat menggelengkan kepala sambil berkata, "Tidak ... aku hanya bercanda. Nona Serina, kamu adalah orang dewasa, tak usah menganggapku serius." Sambil berbicara, Edwin mulai menampar dirinya sendiri. Serina menatapnya dengan tatapan dingin, tanpa ada ekspresi di matanya. Baru ketika wajah Edwin menjadi merah karena pukulan, Serina dengan tenang menarik kembali kakinya, berbalik dan meninggalkan tempat itu. Mata Edwin yang awalnya ketakutan langsung berubah menjadi ganas, menatap punggung Serina. Dia menyimpan dendam hari ini, dia pasti tidak akan membiarkan Serina lepas begitu saja! Melihat Serina pergi, Aldi juga berbalik lalu naik ke atas. Wajah Aldi terlihat acuh tak acuh, tetapi di dalam hatinya muncul keraguan terhadap Serina. Mungkin sebaiknya meminta Andrian untuk menyelidiki Serina. Sebelumnya, Aldi hanya mengetahui Serina sebagai putri yang hilang dari Keluarga Drajat selama enam belas tahun dan juga saudari kembar Merina. Dalam tiga tahun sejak mereka menikah, Serina telah berusaha sebaik mungkin untuk merawatnya, tidak berbeda dengan wanita biasa, tetapi hari ini hal barusan benar-benar membuka matanya! Ferry yang berdiri di samping juga terkejut, ia berbalik menatap Aldi dan berkata, "Aldi, tadi Serina memukul Edwin dan dia adalah tipe orang yang tidak akan tinggal diam kalau tersinggung. Dia pasti akan mencari masalah dengan Serina. Kamu tak mau turut campur, kah?" Aldi tampak acuh tak acuh sambil berkata, "Dia tidak meminta bantuanku, kenapa aku harus ikut campur dengan urusannya?" "Bagaimanapun, dia adalah istrimu." Aldi mendengar itu, wajahnya tampak semakin dingin. Dengan suara dingin, dia berkata, "Mungkin tidak lama lagi." Kilatan kejutan muncul di mata Ferry saat berkata, "Apakah kamu berencana menceraikan Serina dan kembali bersama Merina?" Aldi masih tetap diam, dan Ferry menganggap diamnya Aldi sebagai persetujuan. Ferry melanjutkan berkata, "Kamu memang lebih menyukai Merina. Perceraian akan menguntungkan kalian berdua." "Perceraian itu dibicarakan oleh Serina." Ferry benar-benar terkejut sekarang. Bagaimanapun, mereka semua telah melihat cinta Serina pada Aldi dalam tiga tahun pernikahan mereka. Jika dia sangat menyukai Aldi, bagaimana mungkin dia akan mengambil inisiatif untuk mengajukan cerai! "Apakah kamu yakin? Serina sudah minta cerai, kenapa kamu ragu-ragu? Apakah dia menginginkan terlalu banyak harta gono-gini?" Aldi semakin merasa terganggu dengan perkataan Ferry, lalu dengan dingin melirik Ferry sambil berkata, "Kamu punya banyak waktu, ya? Bagaimana dengan urusan artis itu?" .... Keduanya masuk ke dalam ruang, tempat Albert dan Terry sudah menunggu. Melihat wajah suram Aldi, Albert tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Aldi, kenapa wajahmu begitu suram?" Aldi tidak mengatakan apa-apa, Ferry di belakangnya berkata dengan ekspresi mengejek, "Seseorang tak bahagia karena dia diminta bercerai, jadi jangan banyak tanya." Albert terdiam sejenak, lalu berkata, "Saat makan, kita harus bahagia. Jangan pikirkan hal-hal yang membuat kita tidak senang." Tidak ada satu pun dari mereka yang optimis dengan pernikahan Aldi dan Serina, apalagi sekarang Merina telah kembali ke Pansia, pernikahan mereka semakin genting. Tidak ada yang memperhatikan bahwa Terry, yang menunduk dan tidak berkata apa-apa, tanpa sadar mengencangkan tangannya pada gelas air. Setelah mereka selesai makan, Albert dan Ferry menyarankan untuk pergi ke Klub Kaisar untuk minum. "Kalian pergi saja, ada hal lain yang harus kulakukan malam ini." Setelah Aldi pergi, Terry juga berkata bahwa dia harus pulang. Albert memandang Ferry sambil berkata, "Mereka berdua ada urusan, mau kita pergi ke bar untuk minum bersama?" Ferry tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku ada janji dengan pacarku, kamu bisa pergi sendiri." .... Setelah terdiam sesaat, dia melihat ke arah Ferry sambil berkata, "Kamu benar-benar licik. Kali ini pacarmu bukan aktris muda, 'kan?" "Tidak, aku akan membawanya ke sini agar kamu bertemu lain kali." "Hei, apa kamu serius?" "Aku selalu serius dalam menjalani hubungan," kata Ferry. Albert memutar bola matanya, "Baiklah, kamu pergilah, aku juga akan pulang, tak seru!" .... Aldi kembali ke rumah tepat setelah jam sembilan malam. Begitu Aldi memasuki rumah, dia melihat Serina membawa tas dan berencana untuk pergi. Serina sudah mengganti pakaian menjadi setelan olahraga, rambut panjangnya diikat menjadi ekor kuda. Dia terlihat kompeten dan cantik. "Sudah larut malam, mau kemana?" tanya Aldi. Serina tidak menyangka Aldi pulang pada saat ini. Kemudian, dia berkata dengan tenang, "Ada hal yang harus kulakukan. Sepertinya aku akan sibuk dan tak pulang beberapa hari ke depan." Aldi meraih tangannya dan menatapnya dengan tatapan dingin sambil berkata, "Serina, jangan lupa bahwa kamu adalah wanita yang sudah menikah! Sudah larut malam, apa pun yang terjadi, kamu tak boleh keluar!" Serina melepaskan tangan dia dengan tidak sabar, "Apa hubunganmu? Bukankah dulu kamu juga sering tak pulang selama sepuluh hari atau setengah bulan? Aku hanya berjanji untuk pulang ke rumah, bukan berarti kamu bisa campur tangan dalam kehidupan pribadiku!" Dia menunduk sebentar untuk melihat jam. Waktunya untuk pertemuan dengan Vulture hampir tiba. "Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah hari ini kecuali kamu menjelaskan dengan jelas apa yang akan kamu lakukan!" Serina mengangkat kepalanya, menatap Aldi dan mengucapkan kata-kata dengan tegas, "Minggir!" Aldi tidak berkata-kata, matanya yang hitam dan dingin memandang Serina dengan tajam. Melihat keterampilan Serina hari ini, meskipun dia sangat berbakat, dalam hal keterampilan, Aldi seharusnya tidak kalah darinya. Jika Serina mengambil tindakan, Aldi akan memiliki kesempatan untuk menanyakan kapan Serina belajar seni bela diri. Serina melihat Aldi tanpa ekspresi. Ketika Aldi hendak berbicara, tiba-tiba terdengar suara cling yang lembut di telinganya. Aldi mengerutkan kening dalam kebingungan, tetapi tiba-tiba Serina mulai menghitung mundur. "3!" "2" "1!" Saat Serina mengatakan angka terakhir, Aldi juga kehilangan kesadaran. Serina menyeret Aldi ke sofa, berbalik dan pergi tanpa menoleh ke belakang. Ketika Aldi tersadar, itu sudah keesokan paginya. Aldi menggosok pelipisnya, tiba-tiba teringat sesuatu. Matanya yang tajam tiba-tiba terbuka lebar, dia memeriksa sekeliling dan tidak melihat keberadaan Serina. Keningnya tanpa sadar berkerut. Aldi segera menelepon Andrian dan berkata, "Segera cari tahu di mana Serina berada sekarang!" Saat ini, di hutan hujan tropis. Sekelompok orang sedang bergegas menuju ke dalam hutan hujan yang lebih dalam, setiap orang melangkah dengan cepat. Jumlah mereka mungkin sekitar belasan orang, mengenakan pakaian loreng. Setiap orang memiliki luka dalam berbagai tingkatan, tetapi tidak ada yang tertinggal, menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang terlatih dengan baik. Pemimpin rombongan membawa semua orang ke tepi sungai lalu berbicara dalam bahasa Inggris kepada yang lain, "Setelah melewati sungai ini, kita akan aman." Baru saja dia selesai berbicara, sebelum orang-orang dapat bernapas lega, tiba-tiba terdengar tembakan dari kejauhan. Sebuah peluru mengenai pemimpin rombongan tepat di jidatnya. "Dhuar!" Setelah pemimpin itu terjatuh, suara tembakan terus bergema di sekitar, hampir seketika dari belasan orang, hanya tersisa empat hingga lima orang. "Lompat ke sungai!" Terdengar suara byur kencang dan permukaan sungai menjadi keruh. Serina tetap tidak bergerak, menatap sungai dengan saksama, seperti patung. Pada saat yang sama, suara rendah Vulture terdengar berkata dari dalam penyuara telinga, "Iris, misi utama kali ini adalah membunuh Racun Kalajengking. Sisanya hanya beberapa orang biasa, tak akan menjadi ancaman serius. Siapkan diri untuk mundur." Serina mengernyitkan kening. Prinsipnya selalu adalah menyelesaikan masalah sampai tuntas, tetapi kali ini komandan misi adalah Vulture. Dia mengatakan untuk mundur, Serina tidak punya pilihan selain menurut. Serina menyimpan senjatanya dan berbalik hendak pergi, tiba-tiba terdengar suara gelisah Vulture di dalam penyuara telinga, "Hati-hati!" Serina juga merasa bahaya, sehingga tubuhnya tiba-tiba miring ke samping. Benar saja, sebuah peluru meleset dari wajahnya, meninggalkan goresan darah seketika. Serina berbalik dan menembak ke arah dari mana peluru datang. Kecepatan begitu cepat sehingga sebelum lawan dapat melepaskan tembakan kedua, dia telah terjatuh dengan mata terbuka, lalu berhenti bernapas. Melalui penyuara telinga terdengar suara bersiul, disertai dengan pujian dari Vulture. "Seperti yang diharapkan dari Iris, kecepatannya masih seperti biasanya!" Suara Serina terdengar datar saat berkata, "Aku masih punya urusan, cukup transfer komisi ke akunku." Setelah mengatakan itu, Serina langsung memutus kontak dengan Vulture. ... Aldi memerintahkan orang untuk menyelidiki selama tiga hari penuh, tetapi tidak berhasil menemukan keberadaan Serina. Selama tiga hari itu, aura Aldi semakin suram dan tidak ada seorang pun di kantor yang berani mendekatinya. "Pak Aldi, ini adalah informasi yang saya temukan tentang Nona Serina ...." Aldi menerima data itu dan membukanya untuk melihat. Tidak ada perbedaan signifikan dengan informasi yang telah dia dapatkan sebelumnya. Aldi dengan kejam melemparkan dokumen itu ke atas meja lalu berkata, "Ini hasil dari tiga hari penyelidikanmu!"

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.

Terms of UsePrivacy Policy