Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3

Kalimat itu membuat Vanya ingin menangis. Dulu, setiap kali dia bertengkar dengan Dirga lalu kabur dari rumah, Kresna selalu menyetir berkeliling kota mencarinya, kemudian menggendongnya pulang. "Sekarang ribut apa lagi?" Saat itu, dia pun selalu mengatakan hal yang sama. Vanya bersandar di punggung Kresna, menghirup aroma cedar yang dingin dan jernih dari tubuhnya, dan dengan polos mengira bahwa Kresna juga sedikit menyukainya. Sekarang kalau dipikir-pikir ... Tak ada yang lebih kejam darinya. Jelas-jelas pria ini tidak menyukainya, tapi tetap tidur dengannya. Selesai itu, dia masih bisa kembali ke ruang kerja, menatap foto Calia dengan penuh perasaan. Vanya tidak mengerti, apa yang membuatnya kalah dari Calia. Dilihat dari latar belakang keluarga, wajah, maupun tubuh, bagian mana yang membuatnya kalah? Sebenarnya, siapa pun yang Kresna sukai tidak masalah, tapi kenapa harus Calia? "Lepaskan!" Mata Vanya memerah. Dia menggigit tangan Kresna dengan keras. Pria itu mengerutkan kening, namun tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung menyalakan mobil. Kresna menyetir kembali ke vila, lalu membawa koper Vanya masuk ke dalam. "Sama seperti dulu," katanya sambil membuka kancing manset, dengan nada tak terbantahkan. "Tinggallah sampai kamu ingin pulang." Vanya berdiri di area masuk, dengan ujung jarinya menekan telapak tangan. "Aku akan tinggal setengah bulan saja. Setelah itu, aku akan pergi dari sini. Aku akan membayar uang sewa, dan nggak akan mengganggumu lagi." "Nggak akan mengganggu lagi?" Kresna perlahan mengangkat pandangannya ke arahnya. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya dalam dan tak terukur. "Kamu yakin bisa melakukannya?" Kalimat itu menusuk hati Vanya seperti pisau hingga terasa nyeri hebat. Ternyata Kresna sudah menyadarinya sejak lama. Dia menyadari betul perubahan Vanya, dari yang dulu selalu melawannya, hingga kini tak lagi mampu melepaskan diri darinya. Vanya sudah mencintainya terlalu dalam. Lalu bagaimana dengan Kresna? Apa dia tetap akan menyimpan "cinta pertama" di hatinya, sambil menyaksikan Vanya jatuh semakin dalam sendirian? "Calia ... " Vanya tiba-tiba berbicara, "Dia adalah putri dari ibu tiriku. Kamu tahu?" Gerakan Kresna saat melonggarkan dasinya terhenti sejenak. "Aku baru tahu hari ini." Setelah terdiam cukup lama, Vanya tetap tidak bisa menahan diri. "Apa hubunganmu dengannya?" "Dia adik kelas," jawab Kresna. Dia menuangkan segelas air dan menyesapnya dengan tenang. "Kami satu kampus, dan dulu pernah bekerja bersama di badan mahasiswa. Saat kecelakaan mobil, dialah yang menyelamatkanku. Setelah itu kesehatannya menurun, dan dia sudah lama menjalani perawatan di luar negeri." Kresna menatap Vanya, sorot matanya mengandung peringatan. "Aku tahu kamu punya masalah dengan ibu tirimu, tapi urusan ini nggak ada hubungannya dengan Calia. Kamu nggak perlu menjadikannya sasaran." Semua kata Vanya tercekat di tenggorokan. Awalnya dia ingin bertanya apa Kresna menyukainya, tapi sekarang, pertanyaan itu terasa konyol. Dengan sikap melindungi seperti itu, masih perlukah dia bertanya? Vanya berbalik menuju kamar tamu dan menutup pintu dengan keras. Malam itu, untuk pertama kalinya, Kresna tidak datang menemuinya. Vanya berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit dengan pikiran kosong. Benar juga, cinta pertamanya sudah kembali, mana mungkin Kresna masih memedulikan dirinya? Keesokan harinya, Vanya sengaja tidur sampai siang, berniat menghindari Kresna. Namun saat membuka pintu, dia justru mendapati pria itu masih ada di rumah. Kresna duduk di sofa, kacamata berbingkai emas bertengger di hidungnya yang tegas, sementara tangannya dengan santai membolak-balik majalah ekonomi. "Sudah bangun?" katanya tanpa menoleh. "Kamu nggak ke kantor?" "Ini akhir pekan." Vanya hanya menggumam pelan. Dia mengambil beberapa dessert dari kulkas dan bersiap kembali ke kamar. Namun Kresna tiba-tiba berbicara, "Ganti baju. Nanti ikut aku ke sebuah acara." Vanya sempat ingin menolak, tapi kemudian berpikir. Daripada terkurung berdua dengannya di rumah, lebih baik keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Akhirnya, dia berganti pakaian dan ikut pergi bersama Kresna. Baru setelah tiba di lokasi, Vanya menyadari satu hal. Ini adalah pesta penyambutan untuk Calia. Vanya hendak berbalik pergi, tetapi Calia dengan antusias meraih lengannya. "Kak, syukurlah kamu datang. Jangan bertengkar lagi sama Om. Sejak kamu kabur dari rumah, dia begitu khawatir sampai nggak makan seharian." Vanya tersenyum dingin. "Jadi kamu juga sadar dia cuma 'om'-mu? Kalau begitu, mau aku kabur atau bertengkar dengannya, apa hubungannya denganmu, sampai kamu merasa berhak ikut campur sejauh ini?" Dia menepis tangan Calia dan melangkah masuk ke ruang privat. Dari sudut matanya, dia melihat mata Calia memerah, dan wajahnya penuh keluhan saat menoleh ke arah Kresna. Kresna melirik Vanya dengan sorot mata gelap yang mengandung peringatan. Lalu dia beralih, mengusap kepala Calia dengan lembut, entah mengatakan apa hingga gadis itu tersenyum kembali di antara sisa air mata. Dada Vanya terasa seperti ditusuk jarum. Dia menunduk dan menenggak sampanye dalam sekali teguk.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.