Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 4

Di dalam ruang VIP, gelas-gelas bersulang, suara tawa dan obrolan memenuhi udara. Vanya duduk menyendiri di sudut ruangan, menatap Kresna yang dikerumuni orang-orang, namun perhatian pria itu tak pernah benar-benar lepas dari Calia. Saat Calia hendak mengambil minuman, Kresna lebih dulu membuka tutup botol untuknya. Ketika ujung gaunnya ternoda sedikit percikan alkohol, Kresna langsung menyodorkan sehelai sapu tangan padanya. Bahkan ketika Calia terbatuk pelan, Kresna diam-diam menaikkan suhu pendingin ruangan. Tak satu pun perhatian-perhatian kecil yang penuh kelembutan itu pernah menjadi milik Vanya. Dengan wajah hampa, Vanya menenggak segelas minuman. Dadanya terasa seperti disayat perlahan oleh pisau tumpul, perihnya merambat hingga membuatnya gemetar. Selama setahun ini, hubungannya dengan Kresna tak lebih dari pertemuan di atas ranjang. Bahkan dalam momen paling bergelora sekalipun, dia tak pernah melihat sedikit pun ekspresi kehilangan kendali di wajah Kresna. "Tantangan berhenti di Pak Kresna!" seseorang tiba-tiba berseru. "Giliran Anda menerima hukuman!" Orang-orang tertawa sambil menyerahkan tablet kepadanya. "Katanya Pak Kresna orang yang paling dingin dan nggak gampang tergoda di sini. Kami nggak akan menyulitkanmu. Main 'pilih salah satu' saja dan sebutkan siapa yang paling membuatmu terpesona secepat mungkin." Kelompok pertama menampilkan foto aktris terkenal dan Calia. Kresna melirik sebentar, dan tanpa ragu menjawab, "Calia." Suasana di ruang pribadi langsung riuh dengan sorakan. Calia menundukkan wajah, pipinya memerah, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Vanya mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya menancap di telapak tangannya sendiri. Foto demi foto berlalu, dan Kresna selalu memilih Calia tanpa ragu. Vanya tak tahan lagi, lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Baru beberapa langkah, terdengar sorakan yang lebih keras dari belakang. Vanya menoleh dan melihat tablet menampilkan foto dirinya bersama Calia. "Wow!" semua orang bersorak antusias. "Kali ini menarik! Nona Vanya adalah wanita tercantik di lingkaran ini. Aktris mana pun kalah bersaing dengannya! Kalau Pak Kresna masih memilih Nona Calia, ini benar-benar menunjukkan sesuatu ... " Semua mata tertuju pada Kresna. Namun Kresna untuk pertama kalinya tetap diam. Vanya terpaku di tempat, jantungnya seakan ingin meloncat keluar dari dada. Tiga detik kemudian, terdengar suara Kresna yang berat dan dalam. "Calia." Dunia Vanya runtuh saat itu juga. Diiringi sorak-sorai dari dalam ruangan, dia terhuyung-huyung masuk ke kamar mandi. Air keran yang dingin membasahi wajahnya, tapi tidak mampu meredakan rasa sakit yang membakar hatinya. Beberapa lama kemudian, Vanya menatap dirinya sendiri di cermin. Gadis di cermin itu cantik luar biasa, namun kalah telak dalam perasaan. Saat keluar dari kamar mandi, lampu koridor tampak redup dan temaram. Begitu berbelok, dia diadang oleh tiga atau empat pria mabuk. "Cantik, boleh minta nomor ponselmu?" Salah satu pria yang memimpin dan berbau alkohol mencoba meraih wajahnya. "Pergi sana!" Vanya mundur dengan cepat, hingga punggungnya menempel di dinding yang dingin. "Untuk apa bersikap sok suci?" Seorang pria lain menarik pergelangan tangan Vanya. "Bukankah berpakaian seperti ini hanya untuk jadi mainan?" Saat berjuang melepaskan diri, pandangan Vanya menembus kerumunan dan bertemu mata Kresna di pintu ruang pribadi. Dia melihat alis Kresna mengerut, dan baru saja Kresna akan melangkah, tiba-tiba terdengar teriakan Calia dari belakang. "Ah!" "Ada apa?" Kresna segera menoleh. "Sepertinya pergelangan kakiku terkilir ... " Mata Calia berlinang air mata. "Aku nggak apa-apa, kamu pergi dulu saja bantu Vanya." Kresna membungkuk memeriksa pergelangan kaki Calia. "Nggak usah pedulikan dia. Dia bisa urus sendiri." Kata-kata itu menusuk hati Vanya seperti belati. Tangan para pemabuk itu sudah menyentuh pinggangnya, dan aroma alkohol yang menjijikkan menyeruak ke wajahnya. "Ayo main denganku saja ... " Vanya meraih botol minuman di meja dekorasi koridor dan menghancurkannya ke dinding. "Prang!" "Kalau kalian nggak mau mati, pergi sana!" Serpihan kaca melukai tangannya, dan darah menetes di ujung jarinya. Ketika para pemabuk tertegun, Vanya memanfaatkan momen itu untuk segera melangkah pergi. Setelah acara selesai, Vanya tidak mau naik mobil Kresna dan memilih berdiri sendiri di pinggir jalan menunggu taksi. Calia datang menghampiri sambil memegang payung, hak sepatunya menginjak genangan air. "Kak, kamu nggak ada mobil? Aku bisa mengantarmu pulang." Pandangan Vanya tertuju pada kunci mobil sport terbaru di tangan Calia, lalu dia tertawa kecil. Ayahnya memang murah hati sampai-sampai membelikan mobil semewah itu untuk anak tiri. "Nggak perlu." Vanya mengangkat bibir merahnya, senyumnya cantik namun dingin. "Aku jijik duduk di mobil anak pelakor." Wajah Calia seketika mengeras. Topeng kepura-puraannya runtuh, dan dia mencengkeram pergelangan tangan Vanya. "Vanya! Ulangi kata-katamu kalau berani!" "Memangnya kalau kuucapkan lagi, bisa mengubah fakta kalau kamu bukan anak pelakor?" Vanya membalas dingin. "Lepaskan!" Di tengah tarik-menarik itu, sorot lampu jauh yang menyilaukan tiba-tiba menyambar mata mereka. Vanya menoleh, dan sebuah mobil melaju tak terkendali ke arah mereka. Dalam sepersekian detik, dia melihat Kresna mendekat dan menarik Calia ke dalam pelukannya. Sementara dirinya, terhempas ke tanah dengan bunyi benturan keras.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.