Bab 27
Pandangan Shiera berpindah dari wajah Stanley ke wajah Miko.
Tatapan matanya sama sekali tidak beriak, hanya ketika mendengar kata "Miko", sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
Itu bukan sebuah senyuman.
Lebih menyerupai sebuah kesadaran samar yang dibalut sindiran.
Dia menatap Miko, lalu tiba-tiba tersenyum.
Senyum itu merekah di wajahnya yang elok, memikat bak bunga indah yang mekar di malam hari, namun tanpa kehangatan sedikit pun, bahkan disertai duri yang dingin.
"Pak Liswanto." Suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar jelas oleh mereka berdua, "Lama nggak bertemu."
Dia berhenti sejenak, pandangannya berputar di wajah Miko dengan penuh makna. Bibir merahnya terbuka, dan kata-kata yang terucap membuat Miko seketika jatuh ke dalam jurang es.
"Oh, nggak."
"Seharusnya ... 'bertemu setiap malam', ya"
Bertemu setiap malam.
Kata-kata itu terdengar ringan.
Namun, bagai belati berlapis es, menghunjam keras ke jantung Miko, sekaligus merobek habis tabir paling memalukan dan paling kotor di

Haga clic para copiar el enlace
Descarga la aplicación Webfic para desbloquear contenido aún más emocionante
Encienda la cámara del teléfono para escanear directamente, o copie el enlace y ábralo en su navegador móvil
Encienda la cámara del teléfono para escanear directamente, o copie el enlace y ábralo en su navegador móvil