Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 2

Hari-hari berikutnya, Alisa mencurahkan seluruh tenaga dan fokusnya pada pekerjaan. Pada siang hari, dia berlatih dan mengajar di studio tari. Pada malam hari, dia mendalami materi serta dokumen kelompok tari. Setiap hari dia bekerja hingga langsung tertidur begitu kepala menyentuh bantal, seakan dengan begitu dia dapat meyakinkan dirinya bahwa semua yang terjadi sebelumnya hanyalah mimpi. Hingga suatu hari, Aqila datang menemuinya. Resepsionis ke ruang latihan memanggilnya. Saat Alisa ke koridor, dia melihat Aqila telah menunggu di bangku panjang. Rambutnya terurai dan mengenakan gaun putih, tampak secantik bunga halus yang telah dirawat dengan cermat. Dia menenteng tas, melangkah mendekat dengan senyum lembut yang tenang. "Kamu kakak Andre Winata bukan? Adakah waktu luang untuk minum secangkir kopi?" Wajah Alisa datar, tanpa ekspresi. "Jika ada keperluan, katakan saja di sini." Senyum Aqila terhenti sesaat. Dia menoleh ke sekitar, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Suaranya terdengar lugu, seolah tanpa maksud tersembunyi. "Bagaimana jika kita berbicara di tempat lain saja? Tampaknya di sini kurang leluasa." Alisa juga tak ingin persoalan itu melebar di studio. Dia berjalan ke lift lebih dulu. Duduk di sudut kafe, Aqila mengaduk kopinya perlahan, lalu membuka percakapan lebih dulu. "Kak Alisa, beberapa hari lalu aku nggak sengaja mengirimkan video padamu. kamu sudah melihatnya bukan?" Alisa menatapnya dengan sorot yang dingin. "Video seperti itu pun bisa nggak sengaja dikirim? Tampaknya Nona Candra cukup ceroboh." Aqila seolah tidak menyadari raut dingin Alisa, tetap berbicara dengan nada malu-malu. "Aku dan Andre sudah lama menjalin hubungan dan sering mendengar dia punya seorang kakak. Hari itu, setelah berusaha cukup keras, akhirnya dia memberikan kontakmu. Kita bahkan belum sempat saling mengenal dengan baik, tapi sudah terjadi kesalahpahaman yang memalukan." Dia mempertahankan nada bicara yang lembut dan tenang. "Kakak, hari ini aku mencarimu karena ada satu permohonan." "Terus terang, Kakak. Kondisi Andre terlalu baik, sehingga wajar jika ada saja orang di sekelilingnya yang berusaha mendekat, bahkan beberapa di antaranya memiliki niat yang tidak jelas dan terus mengganggu." "Kalau boleh, aku mau meminta bantuan Kakak untuk mengawasinya?" Suara Aqila tetap terdengar lembut dan malu-malu. "Bagaimanapun, ketika pertama kali kami bersama, dia begitu terampil sampai aku sendiri mau nggak mau berpikir berlebihan." "Meski dia bilang itu hanya coba-coba dengan orang murahan, dan semata demi menyenangkanku...." Ucapan itu menusuk hati Alisa, melukainya begitu dalam hingga tak lagi utuh. Ketulusan selama bertahun-tahun, dengan segala pergulatan dan keterpurukan, ternyata di mata orang lain hanya dipandang murahan dan ternoda. "Slash!" Alisa mengangkat gelas americano dinginnya, memutar pergelangan, lalu menyiramkannya ke wajah Aqila. Cairan cokelat mengalir dari rambut Aqila, menetes, lalu membasahi bagian depan kemejanya. Aqila terkejut sesaat. Namun, ekspresinya tetap lugu. Dia segera mengambil beberapa tisu dan menyeka wajahnya dengan tenang. "Apakah Kakak sedang kurang nyaman hari ini? Mohon maaf, aku sudah mengganggu. "Aku kembali ke kantor untuk mandi dulu. Di ruang istirahat kantor Andre ada kamar mandi. Lain waktu, aku akan berbincang lagi dengan Kakak." Dia mengangkat tasnya, lalu tersenyum dengan tatapan yang menyimpan maksud. "Oh iya, kamar mandi di kantor Andre pernah kami pakai juga. Kedap suaranya cukup baik." Aqila melangkah pergi dengan sepatu hak tinggi. Hanya tersisa Alisa di tempat, tubuhnya disergap hawa dingin, sementara tangannya menggenggam erat gelas kopi itu. Kantor Andre pernah menjadi tempat Alisa menunggunya pulang kerja. Pernah suatu kali dia bekerja hingga larut malam. Lantai teratas gedung saat itu hanya tersisa mereka berdua. Andre menyelesaikan pekerjaannya, lalu turun untuk membelikan seporsi pangsit yang sudah lama Alisa sebut-sebut. Mereka berdua duduk berhimpitan di sofa kantor, berbagi satu mangkuk pangsit yang masih hangat. Dia menyodorkan sendok ke bibirnya. Melihat Alisa menerima suapan itu dalam kantuk, dia tersenyum dan berkata. "Hanya kamu yang bisa bertingkah sesuka hati di kantorku ini." Kala itu, sorot matanya menyiratkan kelembutan yang begitu nyata, hingga Alisa yakin dirinya adalah satu-satunya yang dia istimewakan. Namun, kenyataannya, di saat-saat yang tak pernah Alisa ketahui, Andre telah menjalin kemesraan tanpa batas dengan wanita lain di kantor itu. Alisa menarik napas panjang, membuang gelas kosong itu ke tempat sampah, lalu berbalik dan kembali ke studionya. Alisa masih memiliki satu rangkaian jadwal pelajaran terakhir. Dia tidak boleh menyia-nyiakan perasaan untuk seseorang yang telah dia putuskan untuk lepaskan lagi! Pada malam hari, Alisa pulang ke rumah dengan tubuh yang letih. Begitu pintu terbuka, Alisa mendapati Andre duduk di sofa. Wajahnya muram, rautnya dingin. Dia langsung bertanya. "Kamu mencari Aqila hari ini?" Alisa enggan berbicara dengannya. Dia memiringkan tubuh dan hendak masuk, tapi Andre mencengkeram pergelangan tangannya. Alisa menepis tangannya, menatapnya dan berkata. "Aku yang mencarinya atau dia yang lebih dulu mencari masalah? Sebelum menanyaiku, apakah kamu tidak mencari tahu lebih dulu?" Andre mengernyit, nada suaranya sarat pembelaan. "Mungkin dia nggak merasa aman, sehingga penyampaiannya terdengar terlalu langsung. Meski demikian, kamu nggak seharusnya menyiramnya dengan kopi." "Aqila itu polos, nggak ada niat tersembunyi. Dia berbeda denganmu ...." Dia terdiam sejenak dan tidak melanjutkan kalimatnya, tapi maksudnya sangat jelas. "Aku seperti apa? Penuh perhitungan? Banyak trik?" Alisa mengucapkannya mewakili Andre. Seketika, dadanya terasa dingin. Andre tidak memedulikan ekspresi Alisa dan berbicara dengan nada yang tak memberi ruang bantahan. "Aqila itu polos, nggak serumit yang kamu kira." "Hari ini kamu sudah keterlaluan. Dia menjadi bahan perbincangan di perusahaan sepanjang hari. Sebagai kompensasi atas situasi yang merugikannya, proyek promosi seni dan budaya yang sebelumnya dikerjakan bersama studiomu, kini menjadi tanggung jawab Aqila." Alisa terpaku. Dia hampir tidak memercayai pendengarannya sendiri. "Diserahkan pada seorang pemagang yang baru lulus? Apakah dia mampu mengemban tanggung jawab itu?" Proyek tersebut digarap dengan dedikasi tinggi oleh Alisa dan timnya. Dia memang akan pergi, tapi studio ini masih memiliki banyak rekan yang pernah berjuang bersamanya. Perkembangan studio tetap hal yang penting. Andre berkata dengan nada datar. "Kemampuan bisa dibentuk melalui proses." "Kamu nggak perlu menampik potensi orang lain hanya karena rasa iri." Alisa menatap pria yang dulu menemaninya dalam rutinitas harian. Saat semuanya terungkap dan kepura-puraannya sirna, Alisa merasa baru benar-benar mengenal Andre. Dengan bibir terkatup rapat, Alisa menatapnya, lalu mengucapkan kata demi kata. "Kamu akan menyesal." Setelah berkata demikian, Alisa langsung menuju kamarnya dan menutup pintu. Bersandar pada daun pintu, Alisa perlahan merosot hingga duduk di lantai. Di sudut yang sepi, air matanya akhirnya jatuh tanpa mampu dia tahan.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.