Bab 7
James dilarikan ke rumah sakit.
Camelia tidak pergi menjenguknya.
Dia tetap di rumah seorang diri, melakukan aktivitasnya seperti biasa. Camelia membaca buku, menonton film, juga merapikan kopernya.
Sampai pada suatu malam, kepala pelayan tiba-tiba meneleponnya.
"Bu Camelia, bisakah kamu datang ke rumah sakit untuk menemui Pak James? Penyakit lambungnya kambuh lagi, dia sangat kesakitan. Obat dari dokter nggak banyak membantu. Pak James sampai berkeringat dingin, tapi dia bersikeras nggak mengizinkan perawat mendekat. Dulu Pak James baru merasa lebih baik setelah kamu memberikan pijatan untuknya .... Kami benar-benar sudah nggak tahu harus melakukan apa lagi. Kamu ...."
Camelia berjalan ke arah jendela, menatap kota yang sepenuhnya diselimuti tirai hujan. Butiran air menghantam kaca dengan keras, seolah ingin menenggelamkan seluruh dunia.
Setelah kepala pelayan selesai berbicara, barulah Camelia membalas dengan tenang, "Hujannya terlalu deras, aku nggak akan pergi."
Orang di ujung lain telepon langsung terdiam. Butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya suaranya kembali, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
"Bu ... Bu Camelia ... apa yang kamu katakan?" tanya kepala pelayan dengan terbata-bata.
"Aku mengatakan kalau di luar hujannya deras sekali, aku nggak mau keluar rumah. Malam ini aku nggak akan ke sana," kata Camelia.
"Tapi Pak ...."
"Aku mau tidur," potong Camelia. "Selamat malam."
Dia menutup telepon, mematikan ponselnya, lalu naik ke tempat tidur untuk tidur. Camelia mengabaikan segala kebisingan yang ada.
Keesokan harinya, James memaksa untuk keluar dari rumah sakit lebih awal, lalu kembali ke vila.
Wajahnya masih sedikit pucat. Ketika melihat Camelia duduk di sofa ruang tamu sambil membaca buku, langkahnya terhenti sejenak. Kemudian, James berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan istrinya.
"Semalam ...." James memulai pembicaraan dengan nada rendah, menatap Camelia dengan tajam. "Apa kepala pelayan meneleponmu?"
"Ya." Camelia membalik halaman bukunya tanpa mendongak.
"Kenapa kamu nggak datang?" tanya James dengan nada yang seakan sedang menahan emosi tertentu. "Dulu ... nggak peduli badai atau hujan, kamu akan langsung datang meski aku hanya mengeluh nggak enak badan."
Gerakan tangan Camelia terhenti. Dia akhirnya mendongak, menatap James dengan mata yang tenang tanpa riak.
"Kamu sendiri yang mengatakan, itu dulu." Camelia menatap pria itu. Suaranya pelan, tetapi terasa seperti palu kecil yang mengetuk hati James, "James, orang bisa berubah."
James membuka mulutnya, hendak berbicara. Namun, dia menyadari bahwa dirinya tidak bisa membalasnya.
Ya, orang bisa berubah.
Camelia telah berubah.
Namun, James tidak tahu mengapa wanita itu berubah, atau sejak kapan perubahan itu terjadi.
Kesadaran ini membuat James merasa panik. Ini adalah sebuah kepanikan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
James mengira Camelia bersikap dingin dan mengibarkan bendera perang karena marah tentang kejadian dia menyelamatkan Luna, tetapi membiarkan Camelia terluka.
"Beberapa hari lagi ...." James mencoba mencairkan suasana, sekaligus seolah ingin membuktikan sesuatu. "Itu adalah hari ulang tahun pernikahan kita. Dulu kamu selalu mengatakan ingin merayakannya dengan meriah, 'kan? Tahun ini aku akan mengadakan pesta untukmu. Kita akan mengundang semua orang agar suasananya ramai, oke?"
James memperhatikan reaksi Camelia saat mengatakannya.
Namun, Camelia hanya menatapnya dengan pandangan acuh tak acuh, lalu membalas, "Terserah."
Kata terserah itu lagi.
Rasa frustrasi kembali merayapi hati James.
Namun, James tetap mulai mempersiapkan pesta tersebut.
Dia memesan hotel termewah, menyewa perencana acara terbaik, memesankan gaun paling mahal untuk Camelia, serta membelikan perhiasan yang sangat mahal.
Pada hari pesta, Camelia mengenakan gaun pilihan pria itu, memakai set perhiasan berlian yang harganya selangit, lalu berjalan memasuki aula pesta sambil merangkul lengan suaminya.
Semua orang menatapnya dengan penuh rasa iri.
"Bu Camelia sungguh beruntung."
"Pak James sangat baik padanya."
"Aku dengar perhiasan itu dimenangkan di pelelangan dengan harga puluhan miliar."
Ketika mendengar segala pujian dan komentar itu, wajah Camelia tetap menunjukkan senyuman sopan, tetapi hatinya tidak terusik sedikit pun.
Di tengah acara, Camelia pergi ke balkon untuk mencari udara segar.
Baru saja dia berdiri sebentar di sana, terdengar langkah kaki di belakangnya.
Itu adalah Luna.
"Kenapa kamu ada di sini?" Camelia berbalik untuk menatapnya.
"Kak James yang mengundangku." Luna berjalan ke samping Camelia, lalu bersandar di pagar. "Katanya hari ini adalah ulang tahun pernikahan kalian, jadi dia memintaku datang untuk menjadi saksi kebahagiaan kalian."
Setelah mengatakan itu, Luna tertawa. "Camelia, apa kamu bahagia?"
Camelia tidak membalas.
Luna mendekat padanya sambil berkata, "Aku tahu kamu nggak bahagia. Di hati Kak James hanya ada aku. Kamu hanyalah pengganti yang menyedihkan dan konyol! Bahkan semalam dia melakukan itu demi aku ...."
"Luna." Camelia akhirnya berbicara, memotong kalimatnya dengan suara yang tenang sekaligus menakutkan. "Apa kamu tahu? Kamu sungguh berisik, juga menyedihkan. Seperti anak kecil yang mengamuk karena nggak mendapatkan permen. Apa yang terjadi antara aku dan James adalah urusan kami. Sedangkan kamu ...."
"Hanya seorang pecundang yang selamanya hidup di masa lalu. Kamu harus memprovokasi orang lain demi membuktikan keberadaanmu sendiri .... Kamu nggak layak membuatku membuang emosi apa pun."