Bab 2
Wina menerima pisang itu, berpura-pura tenang sambil menundukkan kepala, dan perlahan menelannya.
Namun, di dalam kepalanya, suara gemuruh tidak henti-hentinya bergema.
Nama Susan Ciptadi adalah mimpi buruk bagi dirinya dan sahabatnya, Rena.
Saat itu Wina menggubah lagu, Rena menulis liriknya, lalu mereka mengunggahnya ke internet.
Lagu itu langsung meledak dan populer di seluruh jaringan.
Tidak lama setelah lagu itu terkenal, Susan membawa orang-orangnya menemui mereka, memaksa mereka menjual lagu tersebut dan mengakui bahwa dialah satu-satunya pencipta lagu itu.
Mereka menolak, lalu Susan menyebarkan fitnah di internet, menuduh lagu itu adalah hasil plagiat mereka berdua.
Wina tidak terima dan ingin mengunggah penjelasan untuk mengungkap kebenaran, tetapi setiap unggahan selalu dihapus dan akunnya diblokir.
Dia juga terus ditindas dan dirundung oleh Susan dengan berbagai cara.
Rena dipukuli hingga kedua kakinya lumpuh dan menjadi penyandang disabilitas yang harus duduk di kursi roda seumur hidup.
Wina dipukul hingga kehilangan pendengaran, tidak pernah lagi bisa mendengar suara.
Keluarga Tanaya menganggap Rena celaka karena terseret oleh Wina, lalu memutus seluruh hubungan dan membawa Rena ke luar negeri.
Wina menolak untuk menyerah, mengumpulkan seluruh bukti, berniat membuat Susan membayar perbuatannya.
Namun, sehari setelah dia menyelesaikan surat gugatan, dia mendengar kabar bahwa Susan telah pergi ke luar negeri.
Peristiwa ini menjadi mimpi buruk baginya.
Tidak terhitung berapa malam, Wina terbangun dari tidurnya, meragukan dirinya sendiri, meragukan dunia, bertanya-tanya apakah dirinya memang salah.
Hingga dia bertemu Christian.
Dia mengira pria itu adalah penyelamatnya, cahaya dalam hidupnya.
Namun, saat ini, ketika dia mendengar dengan telinganya sendiri Christian menyebut nama Susan dengan begitu lembut, barulah dia sadar bahwa ternyata semuanya adalah kebohongan yang mereka ciptakan!
"Ada lagi."
Christian mengangkat segelas anggur merah di atas meja dan menyesapnya perlahan. "Sekarang namanya sudah bukan Susan, melainkan Wanda Kiswara, jangan sampai salah panggil lagi!"
Orang di samping Christian langsung tertawa. "Benar, benar, jangan sampai salah sebut! Dia sudah lama operasi plastik dan ganti nama. Sekarang dia adalah bintang besar Wanda Kiswara!"
Ucapan pria itu bagaikan petir lain yang meledak tepat di telinga Wina.
Sejak Wanda debut dua tahun lalu, poster dan albumnya memenuhi kehidupan Wina.
Bahkan di ruang kerja Christian, ada satu rak buku khusus untuk menaruh barang-barang yang berkaitan dengan Wanda.
Setiap kali dia bertanya, Christian selalu menjawab sambil lalu bahwa Wanda adalah teman adiknya, Christo.
Christian hanya mengagumi bakat musiknya saja.
Perkataan itu dipercaya Wina tanpa ragu.
Setiap kali berbelanja dan bertemu produk yang diiklankan Wanda, Christian bahkan sengaja membelinya dan menaruhnya di rak tersebut ...
Wina sama sekali tidak menyangka bahwa penyanyi dan penulis lagu yang sedang berada di puncak ketenaran itu ternyata adalah musuh yang dia cari selama tiga tahun, Susan Ciptadi!
"Oh ya."
Saat itu, seseorang bertanya dengan rasa ingin tahu, "Christian, kapan album baru Wanda dirilis? Adikku sudah nggak sabar menunggu!"
Belum sempat Christian menjawab, seseorang di sampingnya sudah tertawa dan menjawabkan untuknya. "Itu tergantung kapan si tuli ini menyelesaikan karya barunya!"
"Benar juga."
Orang yang bertanya ikut tertawa. "Tapi setelah wanita ini tuli, lagu-lagu yang dia tulis justru jauh lebih berkualitas daripada sebelumnya! Ada pepatah itu, 'kan? Penderitaan bisa membangkitkan hasrat kreasi yang tidak terbatas!"
"Memang."
Melihat Wina telah menghabiskan pisangnya, Christian mengangkat tangan dan dengan lembut mengusap kepalanya. "Bisa menulis lagu untuk dipakai Wanda, itulah nilai terbesarnya sekarang."
Suhu hangat telapak tangan pria itu membakar puncak kepala Wina, tetapi hatinya justru seakan jatuh ke dalam jurang es abadi.
Suara tawa dan canda di sekeliling masih terus berlanjut, tetapi telinganya sudah lama tidak lagi mendengar mereka.
Ternyata selama tiga tahun ini, setiap lagu yang dia ciptakan dengan penuh penderitaan telah menjadi kejayaan bagi Susan, sang perundung itu.
Christian, bagaimana mungkin pria itu bisa memperlakukannya seperti ini ...
Satu jam kemudian, pertemuan pun berakhir.
Dengan perasaan hampa, Wina dituntun Christian keluar dari ruang privat itu.
"Nggak enak badan?"
Kembali ke vila tempat mereka tinggal bersama selama tiga tahun, Christian memutar kepala Wina dan memaksanya menatap bibirnya, lalu bertanya dengan perlahan.
Wina tersadar kembali, menekan emosi yang bergolak di dalam hatinya, lalu tersenyum dengan sangat terpaksa. "Ya, agak pusing."
"Kalau begitu, pergilah istirahat dulu."
Pria itu memeluknya dengan lembut dan memberi isyarat bibir. "Aku ke kantor dulu untuk mengurus beberapa hal."
Wina mengangguk. "Baik."
Setelah terdengar suara pintu tertutup dari lantai bawah, Wina menghela napas lega dan berbalik menuju ruang kerja.
Di rak buku yang paling mencolok di ruang kerja itu, tersusun rapi seluruh album Wanda sejak debut.
Setiap album adalah piringan hitam edisi koleksi.
Wina menarik napas dalam-dalam dan asal memilih satu untuk diputar.
Jarum pemutar menyentuh piringan, dan suara Susan pun bergema di ruang kerja.
Suara yang selama tiga tahun ini selalu muncul dalam mimpi buruknya, kini sedang menyanyikan melodi yang diciptakan Wina.
Setiap kata dari nyanyian lirih itu terasa seperti ejekan baginya.
Makin lama mendengarkan, Wina makin sedih, makin runtuh.
Akhirnya, hampir tidak mampu mengendalikan diri, dia langsung menarik piringan hitam itu keluar dari pemutar dan membantingnya ke lantai dengan keras hingga hancur berkeping-keping!
Air mata mengalir lalu mengering, setelah mengering lalu mengalir kembali.
Entah sudah berapa lama berlalu, pintu ruang kerja terbuka.
Wina refleks mengangkat kepalanya.
Pria berjas rapi itu masuk ke dalam, dan pandangan pertamanya langsung tertuju pada piringan hitam yang telah pecah di lantai.
Dia tertegun sejenak, lalu kilatan amarah melintas di matanya.
Menyadari tatapan Wina, pria itu segera menahan emosinya dan dengan wajah penuh kekhawatiran berjalan mendekatinya, berjongkok, lalu berkata perlahan, "Wina, kamu kenapa?"
Meski wajah dan pakaiannya sama persis dengan Christian, nada suaranya jauh lebih ringan dan cerah.
Hati Wina agak tenggelam.
Ini bukan Christian.
Ini adiknya, Christo Setiadi.