Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 4

Setelah menutup telepon dengan Bu Janita, Wina terlalu bersemangat hingga berguling-guling di atas ranjang tanpa bisa tidur. Akhirnya, dia bangkit dan mulai merapikan kamar serta mengemas barang-barangnya. Selama tiga tahun bersama, di sekelilingnya penuh dengan benda-benda yang berkaitan dengan Christian. Foto-foto kebersamaan dirinya dan Christian di atas meja dia lepaskan satu per satu, lalu semuanya dimasukkan ke mesin penghancur kertas. Pakaian, tas, dan perhiasan pemberian Christian yang dulu dia anggap berharga, semuanya dia tinggalkan. Sepanjang malam, dia memilah dan memilih, hingga akhirnya di dalam koper hanya tersisa beberapa set pakaian ringan, serta beberapa alat musik dan partitur yang pernah diberikan Rena kepadanya. Baru sekitar pukul empat dini hari, Wina merasa agak mengantuk. Dia merapikan koper, kembali ke kamar, lalu naik ke ranjang. Dalam keadaan setengah sadar, dia merasa seolah-olah diseret turun dari ranjang oleh seseorang dan dimasukkan ke dalam sebuah karung. Di telinganya terdengar tawa asing yang bernada jahat, tetapi tidak jelas. Dia ingin membuka mata, tetapi sama sekali tidak bisa. Entah berapa lama berlalu, ketika rasa sesak menyelimuti, Wina tiba-tiba membuka mata. Di hadapannya hanya ada kegelapan, air berbau amis terus-menerus masuk ke telinga serta hidung dan mulutnya. Wina meronta secara naluriah. Barulah dia menyadari bahwa dirinya dimasukkan ke dalam karung dan dilemparkan ke air. Rasa sesak yang familier membuat ketakutan yang sangat ekstrem di hatinya kembali bergejolak. Tiga tahun lalu, saat Susan merundung dirinya dan Rena, cara ini pernah digunakan. Hari itu, Wina direndam semalaman penuh di danau buatan sekolah. Keesokan harinya, ketika petugas kebersihan kampus mengangkatnya, nyawanya hampir melayang. Kini, semuanya terulang kembali! Wina menggertakkan gigi erat-erat, berusaha menekan ketakutan yang mengamuk di dalam hati, sambil mati-matian mencari cara untuk menyelamatkan diri. Dia belum menemui Bu Janita, belum membuat Susan dan dua bersaudara Setiadi membayar perbuatan mereka, belum menemukan Rena ... Dia tidak boleh mati! Akhirnya, Wina diselamatkan dari air oleh beberapa pria lanjut usia yang sedang berolahraga pagi di taman. Para pria baik hati itu juga membantunya melapor ke polisi. Setelah selesai memberikan keterangan di kantor polisi, Wina pulang ke rumah dengan pakaian basah kuyup. Baru saja mendorong pintu terbuka, dia mendengar suara Christian dari ruang tamu, terdengar mengandung tawa. "Bukannya tiga tahun lalu dia pernah memfitnah Susan, bilang Susan menyuruh orang melemparkannya ke danau semalaman? Hari ini aku membiarkannya benar-benar merasakan seperti apa rasanya dilempar ke danau." "Siapa suruh dia semalam bertingkah gila, menghancurkan piringan hitam milik Susan?" Seluruh tubuh Wina seketika terasa jatuh ke dalam jurang es abadi. Dia semula mengira, penolakannya semalam membuat Christo tidak puas, sehingga melakukan hal semacam itu padanya. Tidak disangka, dalang sebenarnya justru adalah Christian. Selama tiga tahun ini, Christian menemaninya menjalani terapi pemulihan berkali-kali, juga menyaksikan bagaimana dia disiksa hingga nyaris hancur oleh ingatan akan perundungan itu. Namun kini, hanya karena Wina menghancurkan satu piringan hitam milik Susan, pria itu tega melemparkannya ke danau buatan! "Nggak akan sampai merenggut nyawa. Seharusnya dia pulang nggak lama lagi." Di ruang tamu, Christian baru saja mengucapkan kalimat itu ketika dia menoleh dan melihat Wina berdiri di ambang pintu. Pakaiannya masih basah, tetesan air terus menetes dari rambutnya. Wajah Wina pucat pasi, tetapi sorot matanya yang menatap Christian justru tenang dan dingin, bahkan samar-samar mengandung kebencian. Tatapan seperti itu membuat Christian merasa tidak nyaman tanpa alasan yang jelas. "Dia sudah kembali, kita bicara lain kali." Menutup telepon, dia berjalan dengan langkah lebar ke hadapan Wina. "Wina, kamu ke mana saja? Aku khawatir setengah mati!" Sambil berkata demikian, dia berpura-pura cemas dan memeriksa noda air di tubuh Wina dari atas ke bawah. "Kenapa jadi begini? Kamu jatuh ke danau?" Suara Wina mengandung nada mengejek. "Entah kenapa, padahal aku tidur nyenyak di rumah, tapi malah diculik dan dilempar ke danau di taman." "Diculik? Nggak mungkin, 'kan?" Christian berpura-pura terkejut, matanya membelalak, sambil berpura-pura mengkhawatirkan Wina dan mengerutkan dahi. "Apa jangan-jangan kamu berjalan sambil tidur? Dulu psikolog pernah bilang, trauma yang kamu alami terlalu berat. Mungkin saat tidur kamu tanpa sadar mengulang kembali luka yang pernah kamu alami ... " Tatapan Wina tetap tenang saat memandang pria itu. Setelah Christian selesai berakting, barulah Wina tersenyum dengan makna tersirat. "Ada orang yang membantu melapor ke polisi. Apa itu berjalan sambil tidur atau penculikan, pihak kepolisian akan memberi jawabannya." Christian tertegun sejenak. Beberapa saat kemudian, dia tersenyum kaku. "Hanya masalah kecil saja, kenapa sampai melibatkan polisi?" "Aku disakiti, itu bukan masalah kecil." Wina menatap wajah Christian yang pucat dan tersenyum. "Aku akan membuat setiap orang yang menyakitiku membayar harganya." Selesai berkata demikian, dia melewati pria itu dan naik ke lantai atas. Christian berdiri di tempat, di dalam hatinya tiba-tiba muncul rasa gelisah yang tidak jelas. Apa Wina ... menemukan sesuatu? Pada saat itu, ponsel Christian berdering. Dia segera menyingkirkan perasaan itu dan tersenyum saat mengangkat telepon. "Susan, ada apa?" Dari seberang terdengar suara perempuan yang manis. [Kak Christian ... ] [Barusan manajer bertanya bagaimana perkembangan lagu baruku? Aku benar-benar nggak tahu harus jawab apa ... ] [Apa lagu baruku belum selesai ditulis?]

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.