Bab 20
Pesawat melintasi samudra dan mendarat di sebuah pulau.
Andien keluar dari kabin, menatap pemandangan yang terasa begitu familier, lalu menyeringai dingin.
"Hidup di sini bisa mengurangi rasa bersalahmu?"
"Nggak."
Louis memeluknya dari belakang. Andien mengerutkan kening dan berusaha melepaskan diri, tapi tenaga pria itu terlalu besar. Akhirnya dia berhenti meronta.
Louis menghirup dalam-dalam aroma yang begitu dikenalnya dari tubuh Andien. Hanya dengan memeluknya seperti ini, rasa lelah selama berbulan-bulan seolah sirna.
"Aku membangun rumah di pulau tempat kecelakaan itu terjadi. Selama ini aku tinggal di sini."
"Setiap hari, aku memikirkan semua hal tentangmu, merasakan jantungku seperti tercabik-cabik. Itu satu-satunya cara bagiku untuk menebus dosaku padamu."
"Orang gila."
Andien tidak bisa menahan umpatan itu.
Louis tersenyum, menggesekkan pipinya dengan mesra ke pipi Andien, membuat bulu kuduk Andien seketika berdiri.
"Di dunia tanpa kamu, aku nggak keberatan jadi lebih gila la

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda