Bab 2
Keesokan harinya, Wendy bangun pagi untuk menyiapkan sarapan bagi putrinya.
Haris turun dari lantai atas, tubuhnya masih membawa bau alkohol yang belum hilang.
Nina memeluk boneka kelinci kecil di tangannya, lalu berlari cepat menghampiri. "Papa ... "
Belum sempat selesai berbicara, anak itu sudah terpaku di tempat oleh tatapan tajam Haris.
Pria itu bertanya dengan dingin, "Kamu panggil aku apa?"
Nina ketakutan dan menggenggam erat boneka kelincinya, terbata-bata berkata, "O ... Om."
Haris dengan kesal menarik dasinya, lalu memperingatkan Wendy, "Kalau lain kali kamu masih nggak bisa mendidik anak ini dengan benar, enyahlah dari sini."
Hati Wendy terasa pahit.
Kalimat yang paling sering diucapkan Haris adalah menyuruh mereka enyah.
Setiap kali mendengar kata-kata itu, dia dan Nina selalu merasa takut. Namun sekarang, Wendy benar-benar ingin pergi.
Tanpa menanggapi Haris, Wendy menghidangkan sarapan ke meja dan menggendong Nina untuk makan.
Telur goreng dan roti dibuat sesuai selera Haris, tetapi pria itu bahkan tidak meliriknya. Dia hanya berkata dengan sangat dingin, "Lisa sudah kembali. Jangan pernah muncul di hadapannya, dia nggak akan senang."
Setelah itu, Haris melirik Nina dan menambahkan, "Dia juga."
Wendy menatap alis dan mata Haris yang dingin, sangat ingin bertanya apakah pria itu benar-benar punya hati.
Namun, pada akhirnya, dia hanya menjawab dengan pahit, "Baik."
Setelah mengantar anaknya ke taman kanak-kanak, Wendy pergi ke studionya sendiri.
Dia adalah mahasiswa seni rupa. Dulu, dia juga cukup terkenal, bahkan sebelum lulus pernah mengadakan pameran tunggal.
Setelah menikah, demi merawat Haris dan keluarga, Wendy meninggalkan karier seni yang paling dia cintai, dan hanya melukis sesekali di waktu luang.
Sebagian besar lukisannya berkaitan dengan Haris.
Dia menumpahkan seluruh cintanya ke dalam lukisan, setiap goresan adalah ketulusan hatinya.
Namun, setelah melihat lukisan-lukisan itu, Haris hanya berkata dengan nada meremehkan, "Jangan melakukan hal-hal yang nggak bermakna seperti ini. Orang yang kusukai, dari awal sampai akhir, hanya Lisa."
Haris bagaikan sebongkah es keras. Tidak peduli bagaimanapun, tetap tidak bisa dihangatkan.
Kini, Wendy mengeluarkan semua lukisan tentang Haris yang dia buat selama sepuluh tahun ini, lalu membawanya ke pinggiran kota.
Kemudian, dia menyiramnya dengan minyak dan menyalakan api.
"Haris, karena berbuat sebanyak apa pun tetap tidak berguna, maka aku memilih untuk melepaskan," kata Wendy dalam hati.
Wajah Haris yang tak terhitung jumlahnya terbakar dalam kobaran api, lenyap, dan akhirnya berubah menjadi segumpal abu.
Seperti perasaan Wendy saat ini.
Dia benar-benar akan melepaskan Haris, menghapus orang ini sepenuhnya dari hidupnya!
Tiba-tiba, ponsel di sakunya berdering.
Wendy mengangkatnya, lalu terdengar suara guru taman kanak-kanak, [Mama Nina, Nina mengalami sedikit masalah di sekolah, cepatlah datang ke sini.]