Bab 6
Setibanya di rumah, Anita jatuh sakit. Demam tinggi menyerangnya dan tak kunjung turun.
Pandu pulang dalam keadaan setengah mabuk. Begitu melihat istrinya terbaring tak sadarkan diri dengan pipi memerah, dia langsung panik.
Tanpa membuang waktu, dia menggendong Anita, lalu melarikannya ke rumah sakit.
Saat kesadarannya perlahan pulih, Anita menggerakkan kelopak matanya yang terasa begitu berat, lalu perlahan membukanya.
Ketika melihat pasiennya tersadar, perawat yang sedang mengganti botol infus tampak sangat lega. "Bu Anita, kamu akhirnya sadar. Kamu demam selama sehari semalam. Pak Pandu sangat panik dan terus berjaga di sisi tempat tidurmu. Dia baru saja pergi setelah menerima telepon penting. Apakah aku perlu memanggilnya? Dia pasti sangat senang mengetahui kamu sudah sadar."
Anita menggelengkan kepala pelan. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah, "Nggak perlu."
Perawat itu tidak bertanya lebih lanjut. Setelah selesai mengganti infus, dia pamit undur diri dengan sopan.
Ruang perawatan yang luas itu langsung menjadi sunyi senyap, begitu sunyinya hingga Anita bisa mendengar suara Pandu yang sedang menelepon di luar.
Pria itu biasanya selalu tenang dan terkendali. Dia hanya akan kehilangan kendali jika itu menyangkut istrinya.
Namun, kali ini suaranya di telepon terdengar penuh dengan kegembiraan dan antusiasme.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar menjauh. Pandu telah pergi.
Anita mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk turun dari tempat tidur, lalu melangkah perlahan mengikuti arah suaminya pergi.
Setelah menuruni beberapa lantai, dia kebetulan melihat Pandu sedang membantu Julia keluar dari departemen kebidanan dan kandungan!
Senyum di wajah mereka berdua tampak begitu nyata, sulit sekali untuk disembunyikan.
Ketika menyadari kehadiran Anita, Julia sengaja berteriak dengan nada terkejut, "Bu Anita? Kebetulan sekali. Apa kamu juga sedang berada di rumah sakit?"
Begitu mendengar kata-kata itu, Pandu langsung mendongak. Matanya seketika beradu dengan tatapan Anita yang berdiri tidak jauh darinya.
Tubuh Pandu tiba-tiba menegang, lalu dia buru-buru melepaskan rangkulannya pada Julia.
"Anita, aku ... aku tadi turun untuk mengambil obatmu, lalu aku tanpa sengaja berpapasan dengan Julia. Dia sedang hamil. Aku takut terjadi sesuatu padanya, jadi aku membantunya sebentar."
Pandu menjelaskan dengan nada gugup, takut jika istrinya akan salah paham.
Pandangan Anita beralih ke perut Julia yang masih rata. Dadanya terasa sesak seolah pasokan udara di paru-parunya tersumbat.
Anita memejamkan mata sejenak sebelum bertanya dengan suara lirih, "Nona Julia ... sejak kapan kamu hamil? Kenapa Ayah dari anak itu nggak datang menemanimu?"
Julia mengelus perutnya dengan wajah penuh kebahagiaan. "Aku baru saja mengetahuinya, sudah satu bulan. Ayah anak ini memang sedang sibuk, tapi begitu dia mengetahui kalau aku sedang hamil, dia sangat senang. Dia nggak hanya membelikanku beberapa vila dan mengirimiku uang 200 miliar, tapi malam ini dia bahkan akan menyalakan kembang api di seluruh penjuru kota untuk merayakan buah cinta kami yang akan segera lahir!"
Julia memamerkan segalanya dengan penuh semangat. Namun, Anita hanya menatapnya lama, sebelum akhirnya memaksakan sebuah senyuman. "Benarkah?"
Julia tersenyum dengan ekspresi yang tampak makin angkuh. "Ya. Bu Anita, kebetulan hari ini sedang senggang, apakah kamu ingin makan siang bersama kami? Aku akan mengajak Ayah anak ini untuk bergabung."
Ketika mendengar itu, ekspresi Pandu berubah drastis. Dia menatap Julia dengan pandangan tajam dan dingin, seolah ingin membungkam mulut wanita itu. "Nggak perlu. Anita nggak memiliki waktu untuk itu."
Setelah berkata demikian, Pandu segera memeluk Anita, lalu berkata dengan nada membujuk yang lembut.
"Anita, tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Kamu sebaiknya jangan berkeliaran."
"Dia hanya seorang duta produk saja, nggak perlu dihiraukan."
Begitu mendengar nada merendahkan dari mulut Pandu, wajah Julia berubah pucat pasi, lalu memerah karena malu.
Dia menundukkan kepala dengan raut wajah terluka, sementara matanya mulai berkaca-kaca. "Ya, aku yang sudah terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin aku pantas makan bersama dengan Bu Anita?"
Julia menyeka air matanya, lalu berbalik pergi dengan sikap merajuk.
Ekspresi di wajah Pandu berubah gelisah. Dia seolah ingin mengejar wanita itu, tetapi saat melihat Anita yang menatapnya dengan tenang di samping, dia akhirnya mengurungkan niatnya.
Setelah membeli banyak obat, Anita diperbolehkan pulang.
Mungkin karena merasa bersalah telah membentak Julia tadi, Pandu tampak tidak fokus di sepanjang perjalanan pulang. Begitu sampai di rumah, dia mengatakan bahwa ada urusan kantor yang mendesak, lalu langsung mengurung diri di ruang kerja.
Begitu masuk ke dalam kamar, ponsel Anita bergetar. Sebuah pesan dari Julia masuk.
Itu adalah foto hasil pemeriksaan kehamilan.
Diikuti dengan rentetan kalimat yang penuh provokasi.
[Anita, aku tahu kamu sudah menyadarinya tadi. Anak ini adalah anak Pandu. Jangan berpikir dia sangat mencintaimu. Kalau dia benar-benar mencintaimu, apa artinya keberadaanku?]
[Tahukah kamu betapa terobsesinya dia padaku? Setiap tahun, saat hari ulang tahunmu, saat ulang tahun pernikahan kalian, dia selalu datang menemaniku setelah menidurkanmu. Dia sangat hebat di tempat tidur. Kami selalu menghabiskan beberapa kotak kondom setiap kali bertemu. Aku bahkan nggak bisa turun dari tempat tidur besoknya.]
[Kami sudah meninggalkan jejak cinta di mobil Maybach miliknya, di kantor pribadinya, bahkan di tempat tidur kalian. Ada tujuh puluh dua posisi yang sudah dia lakukan denganku. Katanya, seks dan cinta nggak akan bisa dipisahkan, tapi apakah dia pernah melakukan variasi sebanyak itu denganmu?]
Ketika melihat pesan-pesan penuh hinaan itu, Anita menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan badai emosi yang bergejolak di hatinya.
Di saat dia mematikan layar ponselnya, Pandu tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Sayang, apa yang sedang kamu lihat?" tanya pria itu.
Dia menyandarkan dagunya di lekukan leher Anita, tetapi hanya bisa melihat layar ponsel yang sudah gelap.