Bab 23
Yanto tetap dalam posisi itu, tidak bergerak.
Tubuhnya saja yang, karena rasa sakit dan putus asa yang amat sangat, bergetar hebat tidak terkendali.
Air mata mengalir deras, bercampur debu dan noda alkohol di lantai, mengotori seluruh wajahnya.
Entah berapa lama ...
Getarannya perlahan mereda.
Tangisnya juga mereda, tersisa hanya napas berat dan susah.
Dia perlahan membalikkan badan, berbaring telentang di lantai.
Sorot matanya kosong, menatap bohlam lampu redup yang bergoyang di langit-langit.
Di tangannya masih erat menggenggam gagang telepon yang sudah tak bersuara.
Seolah menggenggam cinta dan hidupnya yang telah mati dan takkan bisa kembali.
Lalu, dia tiba-tiba mengangkat tangan yang lain, meraih setengah botol minuman di sampingnya, dan meneguknya habis.
Minuman keras yang bercampur air mata pahit itu membakar kerongkongan dan perutnya.
Membawa rasa sakit yang tajam, seperti kehancuran.
Namun dia tertawa.
Tertawa dengan wajah terpelintir, gila, lebih buruk daripada menangis.
"Dia

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda