Bab 25
Entah sudah berapa lama Yanto menangis.
Sampai suaranya habis, tidak mampu mengeluarkan suara apa pun lagi.
Sampai air matanya kering, tinggal rasa perih yang membakar.
Baru kemudian dia pelan-pelan bangkit, berdiri tegak.
Wajahnya basah kuyup, mata bengkak dan merah, sangat menyedihkan seperti seekor anjing yang telah kehilangan rumah.
Dia bangkit terhuyung, keluar dari kafe, melangkah ke dalam kegelapan malam yang pekat.
Dia tidak kembali ke penginapan.
Melainkan masuk ke bar kecil yang buka sepanjang malam.
"Alkohol paling kuat," ucapnya dengan suara serak.
Pemilik bar menatapnya sebentar, lalu menyerahkan sebotol.
Yanto menerimanya, lalu membukanya dan menenggak langsung.
Satu botol, dua botol, tiga botol ...
Cairan pedas itu membakar tenggorokan dan perutnya, menimbulkan rasa sakit yang tajam.
Rasa sakit itu malah membuatnya merasa lega.
Dia butuh lebih sakit.
Butuh rasa sakit yang menghancurkan itu untuk melumpuhkan keputusasaan yang tidak berujung dan hampir menelannya.
Seiring

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda