Bab 27
Wawancara itu dimuat di koran, menimbulkan perbincangan hangat di dalam dan luar kampus.
Ada yang setuju, ada yang meragukan, dan lebih banyak lagi yang mulai merenung.
Yanto menyuruh seseorang membeli koran itu untuknya.
Halaman yang memuat wawancara dengan Diana dia gunting dengan hati-hati, lalu menempelkannya di dinding di samping tempat tidurnya.
Setiap bangun tidur dan sebelum tidur, dia selalu membacanya sekali.
Dia melihat foto wajahnya yang tenang dan percaya diri, membaca kata-kata jernih dan penuh tenaga itu.
Yanto berkata pada dirinya sendiri.
"Dia benar."
"Yanto, kamu harus belajar jadi manusia, belajar hidup, belajar berubah."
"Baru kemudian, pantas bicara tentang cinta."
Meskipun cinta itu mungkin takkan pernah lagi sempat dia ucapkan pada Diana.
Lima tahun berlalu dengan cepat.
Setelah lulus, Diana memilih mengajar di kampus sambil terus menulis.
Dia menjadi salah satu penulis muda dan penulis skenario yang banyak diperhatikan di negeri ini.
Karya-karyanya diterjemahkan

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda