Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 9

Nindya didorong masuk ke ruang kremasi. Jensen berdiri di luar pintu, tetapi tak setetes air mata pun jatuh. "Sebenarnya bagaimana dia bisa meninggal?" "Kanker pankreas, stadium akhir, ditemukan sebulan yang lalu." Hati Jensen rasanya seperti ditusuk. Tanpa sadar dia menggigit bibirnya erat-erat, suaranya tercekat. "Kenapa dia nggak beri tahu aku? Kalau aku tahu lebih awal ... " "Dia nggak mau, atau lebih tepatnya, dia sudah benar-benar putus asa." Jensen membeku di tempat, seperti tersambar petir. Nindya pasti sudah lama kecewa padanya. Jensen berpikir demikian dalam hati. Dulu dia mengira Nindya pasti bisa memahaminya. Dia hanya menginginkan seorang anak, dan Inara itu hanya sekadar untuk main-main saja. Tidak ada satu pun yang bisa menggantikan Nindya, dan dia juga tidak mungkin menceraikan wanita itu. Namun, Nindya tetap putus asa. Putus asa sampai-sampai, bahkan kabar bahwa dirinya sekarat pun tak ingin dia sampaikan pada Jensen. Penglihatannya terasa basah, perlahan tertutup oleh

Klik untuk menyalin tautan

Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik

Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.