Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 1 Apakah Cincinnya Bisa Dilepas?

"Tania." Aldo memanggilnya seperti biasa, suaranya sedikit serak, membawa kesan malas. Ujung hatinya bergetar, Tania Linardi tiba-tiba dilanda dorongan untuk melarikan diri, tetapi kedua kakinya seolah terpaku di tempat, sama sekali tak bisa bergerak. Dia menjilat bibirnya, mengangkat cangkir kopi dan menyesap sedikit, lalu menyandarkan tubuh ke kursi agar dirinya tampak tidak terlalu rapuh dan lemah. Pandangannya melayang-layang sebelum akhirnya tetap tertuju pada Aldo. Tubuh pria itu tampak jauh lebih kurus. Garis-garis wajahnya kini terlihat makin tegas dan dalam, memberi kesan seolah dia berdarah campuran. Lingkar matanya terlihat agak menghitam, dan janggut pendek mulai tumbuh di dagunya. Penampilannya sedikit kacau, namun tetap memancarkan kesan lepas dan bebas. Waktu telah melintasi hidupnya, menghapus kecerobohan masa muda, tetapi tak membawa serta tanda-tanda penuaan. Tubuh Aldo yang berusia tiga puluh dua tahun itu tidak berubah, rambutnya pun belum menipis. Kedewasaan dan ketenangannya bagaikan katalis terbaik, memancarkan daya tarik yang mampu mengacaukan hati. Tania menatapnya tertegun. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan pria itu sejak dia mengajukan perceraian. Lalu Tania mendengarnya berkata dengan sangat tulus, "Maaf, aku nggak mencintaimu lagi!" Pria itu bilang sudah tidak mencintainya lagi. Ucapannya begitu tenang dan terus terang, seolah kata-kata itu sudah berkali-kali dia siapkan di dalam hati. "Aldo, kita sudah menikah sepuluh tahun!" Tania mengingatkannya, suaranya bergetar tak terkendali. Sepuluh tahun, bukan satu atau dua hari, melainkan lebih dari tiga ribu enam ratus hari dan malam! Waktu sepanjang itu cukup untuk membuat seseorang meleburkan segala tentang orang lain ke dalam hidupnya. Dari dalam hingga ke luar, seluruh dirinya seolah sudah diberi cap oleh orang lain itu. "Tania." Aldo memanggilnya lagi, dengan nada tak berdaya, seolah benar-benar tak punya cara menghadapi dirinya yang dianggap mengada-ada. "Kita selesaikan di luar pengadilan saja. Semua syarat yang kamu ajukan bisa kupenuhi." "Termasuk pergi tanpa membawa apa pun?" "Ya, termasuk itu." Ketika Aldo bersedia melepaskan segalanya demi bersama Lea Tanujaya, Tania akhirnya memahami dengan pedih hingga ke relung hati bahwa pria yang telah dia cintai selama dua belas tahun itu benar-benar tidak mencintainya lagi. Tania mencabut gugatan cerai, dan keesokan harinya langsung pergi bersama Aldo ke kantor catatan sipil untuk mengurus perceraian. Begitu stempel itu ditekan, dua orang yang semula terhubung erat, kini resmi berpisah dan sejak itu mereka akan menempuh jalannya masing-masing. Tania memegang akta cerai di tangannya, cukup lama baru dia menyadari bahwa dirinya telah kembali menyandang status lajang. "Pengalihan aset paling lambat besok sore sudah bisa selesai, kamu nggak perlu khawatir." Aldo berkata dengan nada kaku dan dingin, lalu dengan santai menyelipkan akta cerai ke saku jasnya. Ujung matanya terangkat, kilau aneh memancar dari dasar mata hitamnya. Jelas terlihat bahwa berakhirnya pernikahan ini membuatnya sangat bahagia. Tania tak mampu merasakan kebahagiaan yang sama dengan pria itu. Dia memasukkan akta cerai ke dalam tas dengan rapi, lalu melangkah hendak pergi. Aldo memanggilnya, "Tania, kalau aku menikah lagi, apa kamu akan datang?" "Nggak. Mantan yang baik seharusnya diam-diam saja, seolah sudah mati." Setelah mengatakan itu, Tania berbalik untuk pergi. "Tania." Dia memanggilnya lagi, berulang kali tanpa rasa bosan atau lelah. Kemarahan tiba-tiba muncul di hati Tania. Mereka sudah bercerai dan akan menjadi orang asing, atas dasar apa pria itu masih memanggilnya sedekat itu!? "Pak Aldo, panggil saja aku Nona Tania!" Tania menegaskan sampai matanya membelalak, dengan canggung mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. Tak disangka reaksinya akan sebesar itu. Aldo tertegun sejenak, lalu tersenyum dan berkata dengan nada acuh tak acuh, "Nona Tania, cincin di tanganmu itu bisa dilepas?" Jantungnya seakan tercabik seketika, rasa sakitnya membuat Tania sulit bernapas. Ternyata, dalam hal ketegasan dan kelegaan hati, dia memang tak akan pernah mampu menandingi Aldo. Bahu Tania bergetar tak terkendali. Dia merasa tenggorokannya seakan dicekik erat, bahkan napasnya pun berbau darah. Cincin pernikahan yang telah melingkar di jari manisnya selama sepuluh tahun seolah telah menyatu dengan daging dan darahnya. Dia bahkan tak memiliki tenaga untuk mengangkat tangan dan menyentuhnya. Mengabaikan kepanikan dan ketidakstabilannya, Aldo kehilangan kesabaran, sedikit mengernyit, lalu mengangkat tangan dan melepas cincin pernikahan di jarinya sendiri. Cincin kawin platinum sederhana itu membentuk lengkungan indah di udara, jatuh dengan bunyi denting ke tanah, berguling beberapa kali sebelum masuk ke selokan dan menghilang tanpa jejak. Tania merasa hatinya pun seakan ikut dibuang Aldo ke dalam selokan gelap dan busuk itu. Setelah melepas cincin, Aldo mengemudi pergi. Entah berapa lama kemudian, Tania mendengar suara seorang anak perempuan kecil yang polos dan penuh rasa ingin tahu. "Mama, kenapa tante itu mencari sesuatu di selokan? Dia sambil menangis, kasihan sekali ... " Dia mengira air matanya tak akan jatuh saat berbalik, tetapi kenyataannya, hanya dialah yang tertinggal di tempat itu, tak sanggup melangkah pergi.
Bab Sebelumnya
1/20Bab selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.