Bab 10
Setelah mengirim pesan kepada Nara, Reza duduk di sofa, mengusap pelipisnya, dan menghela napas panjang.
Detik berikutnya, sepasang tangan lembut dan rapuh tanpa tulang menutupi jarinya secara tidak sengaja, mengelus dengan cara menggoda. "Kamu sakit kepala? Aku pijat, ya."
"Mm."
Gadis itu membawa aroma segar yang disukai Reza, sedikit mirip dengan Nara, membuat saraf tegangnya sedikit rileks.
Meski beberapa hari terakhir dia menemani Cyntia bersenang-senang, bayangan kurus Nara yang terbaring di ranjang rumah sakit selalu muncul tanpa sengaja di kepalanya, membuatnya tetap khawatir.
Reza tidak ingin berselisih dingin dengan Nara, apalagi di saat Nara kembali ke tanah air. Itu adalah momen yang paling Reza nantikan selama tiga tahun terakhir.
Dalam bayangan masa lalunya, seharusnya mereka bisa menikmati waktu bersama dengan hangat, saling menghargai lebih dari sebelumnya.
Namun Nara terlalu bimbang dan waswas, membuat Reza tak mengerti mengapa dia terus memusingkan keberadaan Cyntia. P

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda