Bab 19
Wenny dan anaknya kembali datang ke kota kecil di tepi laut. Sudah sebulan berlalu sejak kunjungan terakhir, dan raut mereka berubah drastis.
Namun yang menyambut mereka tetaplah sikap dingin dan kebencian dari Stefano.
Wenny mempertahankan sikap dingin dan angkuhnya, tetapi harapan yang tersirat di matanya membuat auranya menjadi lebih lembut, tidak lagi agresif.
Zian menundukkan kepala, lalu memanggil dengan suara jernih, "Papa."
Stefano mencibir, lalu berbalik hendak menutup pintu.
Wenny buru-buru mengulurkan tangan, memohon dengan hati-hati, "Stefano, bisakah kita bicara sebentar?"
Melihat Stefano tidak bereaksi, dia menambahkan, "Sebentar saja."
Stefano sudah menolak mereka sepenuhnya, bahkan tak ingin bertemu lagi. Siksaan tahun lalu akhirnya membuatnya sadar, dia harus mencintai dirinya sendiri.
Meski Wenny mengomel sekeras apa pun, dia tidak akan kembali.
Baru setelah meninggalkan ibu dan anak itu, Stefano benar-benar merasakan arti hidup.
Dia melirik jam, mengunci pintu, lalu

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda