Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5

Munculnya ketiga orang itu, Wenny dan dua lainnya, langsung menarik perhatian sebagian besar pelanggan. Pria tampan dan wanita cantik itu tampak sangat serasi, di tengah mereka ada seorang anak yang imut dan tampan. Mungkin karena sering datang ke restoran kelas atas dan mengenal banyak orang, tak lama kemudian mereka pun bergabung menjadi satu meja. "Ternyata Bu Wenny menyimpan permata di rumah. Suami Anda begitu tampan, jarang dibawa keluar, takut direbut orang, ya?" Seorang teman bercanda. Wajah Wenny memerah. Dia melirik diam-diam ke arah Sandy, namun tidak membantah. Sandy dengan aktif berbincang dengan semua orang. Cara bicaranya sopan dan pantas, ditambah wajahnya yang rupawan, membuat orang makin menyukainya. Di sampingnya, Zian ikut membantu, memanggil "Papa" berkali-kali, seolah menegaskan bahwa mereka bertiga adalah satu keluarga. Tenggelam dalam sanjungan orang-orang, Wenny tidak menyadari keberadaan Stefano di kejauhan. Stefano menatap pemandangan di depannya dengan tenang. Emosinya sama sekali tidak terganggu. Dia memegang gelas anggur dan mengayunkannya perlahan. Mereka baru kembali dari Sanyara. Sepertinya mereka habis bersenang-senang. Stefano sempat ingin bangkit dan pergi, tetapi itu akan terlihat disengaja, seakan-akan dialah pihak ketiga. Maka dia memilih menikmati pemandangan di luar. Setelah selesai bersosialisasi, Sandy tiba-tiba melihat Stefano. Matanya berbinar, lalu dia mendekat ke telinga Wenny dan berkata, "Beberapa hari ini kamu sudah bekerja keras. Tanpamu, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana." Wenny buru-buru berkata, "Sandy, jangan bicara begitu. Kita jangan bersikap terlalu formal, ya?" Sandy sengaja mendekat, wajahnya hampir menempel, bersikap sangat intim. Jantung Wenny berdegap kencang. Dia menunduk menatap gelas anggur. Terdengar sorakan di samping. Sekelompok teman itu menggoda, ingin melihat kemesraan mereka, sambil tertawa. "Cium, cium!" Zian bertepuk tangan kecil. "Mama, cium dia." Wenny melirik Sandy dengan kesal, seolah menyalahkannya. Ekspresi seakan ingin bicara namun tertahan itu membuat hati Sandy bergejolak. Ditambah lagi Stefano sedang melihat dari kejauhan, sensasinya terasa makin menggugah. Dia langsung menutup bibir Wenny dan menciumnya dengan berani. Wenny terbelalak. Awalnya dia sedikit menolak dan ingin mendorong pria itu, tetapi seiring panas tubuh Sandy menyelimuti, perlahan dia pun larut. Sorak-sorai pun menggema di restoran, orang-orang bertepuk tangan untuk pasangan yang memamerkan kemesraan itu. Hanya Stefano yang tetap duduk di tempatnya, merasa terasing dari dunia sekitarnya, menatap dingin sandiwara mereka tanpa gejolak di hatinya. Pandangan Wenny tampak berkabut. Dia bersandar di pelukan Sandy, wajahnya memancarkan sinar kebahagiaan. Stefano belum pernah melihatnya dengan ekspresi kekanak-kanakan seperti itu. Tampaknya Wenny tidak selalu dingin dan sulit didekati, hanya tergantung pada siapa yang dihadapinya. Di depan Stefano, dia bak dewi yang angkuh, namun dalam pelukan Sandy, dia berubah menjadi wanita manja. Melihat kemesraan mereka, sepertinya kabar baik sudah dekat. Sementara itu, dia sendiri masih harus sembunyi-sembunyi demi mengurus perceraian, rasanya sungguh tak ada artinya. Dia bangkit dan berjalan ke arah pintu, merasa bahwa malam ini Wenny mungkin akan berinisiatif mengajukan cerai saat pulang. Wenny mengangkat kepala dan kebetulan melihat Stefano yang pergi. Wajahnya seketika terlihat panik. Tanpa sadar dia hendak berdiri. Dia tidak menyangka akan bertemu Stefano di restoran dan mengerutkan kening. Sandy menangkap perubahan raut Wenny. Tampaknya Wenny cukup memedulikan si pincang itu, dan hatinya pun tidak nyaman. Dia menghela napas, berpura-pura polos. "Maaf, kamu terlalu memikat, aku nggak tahan. Tadi ada seseorang yang mirip Stefano, dia mungkin salah paham. Aku akan pergi minta maaf padanya." Wajah Wenny mengeras, lalu mendengus. "Bukannya di rumah introspeksi, malah seharian sibuk cemburu. Biarkan saja, mau mikir apa pun terserah dia." Kemudian dia duduk kembali. Namun, bayangan sosok Stefano yang muram terlintas di benaknya, membuatnya seketika gelisah. Apa pun yang dikatakan Sandy di sampingnya tak lagi terdengar jelas. Ekspresi Wenny berubah-ubah, dan akhirnya dia mengirim pesan kepada Stefano. [Kamu di mana?] Sandy, yang semula merasa sudah menang telak, jelas merasakan bahwa sepanjang jamuan berikutnya Wenny tidak fokus, sesekali melirik ponselnya, menunggu balasan seseorang. Tak lama kemudian, pertemuan itu pun berakhir. Wenny membawa pulang putranya yang tampak enggan, menolak ajakan nonton film dari Sandy, lalu bergegas pulang. Baru saja Stefano tiba di rumah dan duduk di sofa sambil minum air, Wenny sudah masuk menyusul. Pandangan mereka bertemu. Wenny menarik napas dalam-dalam, bersiap menghadapi ulah Stefano. Namun mereka berdiam cukup lama, dan tak ada satu pun pertanyaan dari pria itu. Dia merasa ketenangan Stefano terasa janggal.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.