Bab 1
Tiga tahun lalu, sambil menggenggam surat diagnosis kanker lambung, aku tersenyum menenangkan Alvin yang matanya merah berkaca-kaca.
"Cuma kanker kecil, gampang dibereskan kok," ucapku.
Tangis Alvin malah makin menjadi-jadi, dia juga memelukku begitu erat hingga tulangku terasa sakit.
"Nabila, berjanjilah padaku, kamu harus baik-baik saja."
"Aku akan menunggumu kembali dengan sehat untuk menikah denganku!"
Demi bisa bertahan hidup, hampir seluruh lambungku harus diangkat.
Hari-hariku selanjutnya hanya ditemani segenggam obat dan rangkaian kemoterapi tanpa henti.
Tiga tahun kemudian, akhirnya aku sembuh, dan kembali lagi ke sisi Alvin.
Di pesta penyambutan, sahabat wanita Alvin tersenyum sambil mengangkat gelas dan berkata.
"Selama kamu di luar negeri, Alvin selalu jaga kesetiaannya untukmu."
"Setiap malam aku jaga di ranjangnya untukmu. Sudah kupastikan, nggak ada orang lain di balik selimutnya."
"Bahkan di dua buah 'leci kecil' itu sudah aku tato sendiri dengan tulisan 'Jangan Mendekat!"
Keramaian di meja makan mendadak sunyi hingga jarum jatuh pun terdengar.
Aku memaksa mengabaikan rasa sakit menusuk halus di dadaku.
Aku pun ikut tersenyum sambil mengangkat gelas dan menanggapi.
"Kalau begitu, mau diberi penghargaan Juara Penghangat Ranjang, ya?"
...
Wajah Rika seketika menegang. Prang! Dia menghantamkan gelas ke meja.
"Apa maksudmu!"
"Cih, pernah kena kanker saja bangga. Sedikit bercanda langsung sinis begitu."
Aku mengangkat alisku, menatapnya.
Sejak kapan sahabat wanita Alvin ini berani menantangku?
Aku menatapnya lama tanpa berkata.
Sepertinya Alvin cukup memanjakannya selama tiga tahun ini.
Orang-orang di sekitar sempat terdiam, lalu buru-buru menengahi.
"Kak Nabila, jangan tersinggung. Di mata kami, Rika itu sudah kayak pria."
"Benar, Kak Nabila. Dia hanya suka bercanda. Kami semua bisa buktikan dia dan Kak Alvin nggak ada apa-apa."
"Rika, cepat minta maaf sama Kak Nabila. Kalau sampai Kak Nabila marah, nanti kamu yang susah."
Rika tetap keras kepala, memalingkan wajah.
"Mana ada kata-kataku yang salah, kenapa harus minta maaf."
Sekejap, semua orang berdiri di sisi Rika, memohon untuknya.
Seolah-olah aku adalah iblis pemakan manusia.
Tiga tahun berlalu, aku sudah bukan lagi si putri besar yang emosinya mudah meledak-ledak.
Namun, identitasku sebagai putri Keluarga Zerrin bukanlah sesuatu yang bisa seenaknya ditantang.
Aku sama sekali tidak peduli dengan beberapa kata dari seorang gadis kecil.
Aku juga tidak peduli siapa saja yang ada di sisi Alvin selama tiga tahun aku pergi.
Yang kupedulikan adalah ...
Aku menoleh menatap Alvin.
Jika tiga tahun lalu, mendengar ucapan seperti itu, dia pasti yang pertama kali membelaku.
Namun, sampai saat ini dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Ketika mata kami bertemu, ada kilatan panik di matanya.
Seolah baru tersadar.
Dia segera bangkit, mengernyit dan berkata, "Rika, minta maaf pada Nabila!"
Sekilas tampak seperti membelaku, tetapi tubuhnya justru menghalangi pandanganku pada Rika.
Alvin menggenggam tanganku dengan lembut, menepuknya, lalu menenangkan diriku.
"Dia hanya anak kecil yang suka bercanda."
"Kamu nggak perlu anggap serius, aku ... "
Aku tiba-tiba berdiri, tidak ingin mendengar kelanjutan penjelasannya.
"Aku beri waktu tiga hari untukmu, selesaikan masalah ini."
Aku menatap Alvin tajam sebelum menambahkan, "Jangan paksa aku turun tangan sendiri."
Aku tidak tahu apa yang sedang kuhindari, hanya merasa emosiku sedang kacau.
Mungkin karena Alvin tidak lagi membela seperti dulu.
Mungkin karena dia berdiri melindungi sahabat wanitanya itu.
Baru saja keluar pintu, suara dari belakang membuatku berhenti.
"Kak Alvin, Kak Nabila itu bukan orang yang bisa disepelekan, nanti Rika ... "
Suara Alvin yang terdengar berat masuk ke telingaku. "Nggak apa, aku akan melindunginya."
"Lagi pula, sejak orang tuanya meninggal tahun lalu, Nabila sudah nggak punya sandaran untuk mengancam Keluarga Gumar."
Tanpa sadar, kuku jariku menancap dalam di telapak tangan.
Namun, rasa sakit di tangan tak sebanding dengan sakit di hati.
Baru tiga tahun, segalanya sudah berubah.
Aku, Nabila Zerrin, belum pernah ada yang tidak bisa kudapatkan.
Meskipun tahu tidak akan cocok, aku tetap ingin mendapatkannya.
Dia menungguku tiga tahun, jadi kuberi dia tiga hari kesempatan.
Itu tidak rugi, menurutku.
Lagi pula, Keluarga Zerrin tidak pernah bergantung pada ayah dan ibuku.
Koperku sudah diantar oleh kepala pembantu ke rumah vila Alvin.
Setelah kupikir-pikir, akhirnya kuputuskan untuk mengambilnya kembali sendiri.
Saat aku membuka pintu rumah, tubuhku langsung terpaku di tempat.