Bab 2
Aku ternganga kaget, tak percaya dengan apa yang kulihat.
Wendy menggendong sahabatku, Luna sambil menatapku dengan ekspresi puas, yang membuatku terkejut.
Aku menoleh untuk melihat pacarku, Keenan. Dia tetap diam, tapi secercah kelicikan terpancar di matanya.
"Bagaimana kalian bisa melakukan ini?" Aku menatap mereka dengan tak percaya, suaraku dipenuhi keraguan.
Wendy menyeringai nakal dan memeluk Luna lebih erat lagi. "Keenan yang menyarankan itu, bukan aku."
Aku menatap pacarku dengan mata terbelalak tak percaya.
Keenan, pria yang biasanya lembut dan penuh perhatian ini, bisa menyetujui permintaan ini!
Aku merasakan gelombang pusing dan tanpa sadar mundur beberapa langkah.
"Kalian ... apakah kalian gila?"
Suaraku bergetar. Aku tak percaya mereka bisa memunculkan ide seperti itu.
Keenan mendekatiku, matanya tegas. "Sayang, jangan begitu. Kami hanya ingin semua orang bahagia."
Aku segera mundur sambil berkata dengan gugup, "Jangan mendekat! Jangan sentuh aku!"
Aku tahu Keenan sangat memahamiku, dia akan berhenti begitu aku mengucapkan kalimat itu.
"Keenan, aku memperingatkanmu," kataku tegas. "Kamu tahu konsekuensi dari apa yang akan kukatakan!"
Ini kode rahasia yang telah kami sepakati, dia selalu sangat menghargai perasaanku.
Namun, reaksi Keenan kali ini sangat mengejutkanku.
Dia berhenti, sedikit ketidaksabaran dan kejengkelan yang belum pernah kulihat terlintas di wajahnya. "Lalu kenapa?"
Aku merasakan sakit yang menusuk, lalu air mata pun luruh.
Apakah ini Keenan yang kukenal?
Aku sangat cemas sampai hampir tidak bisa bernapas dan air mata mengaburkan pandanganku.
Aku menatap Luna dengan putus asa, berharap dia bisa memahami perasaanku.
Kami adalah sahabat yang berbagi kamar asrama di kampus, aku pikir dia akan mendukungku.
Namun Luna berkata dengan santai, "Kimmy, jangan terlalu kuno. Kita hidup di era apa sekarang!"
Dia bersandar pada Wendy dengan ekspresi acuh tak acuh, seolah sepenuhnya menerima tindakan mereka.
Wendy menimpali, "Benar sekali, Kimmy, jangan terlalu gugup. Kita semua berteman baik, anggap saja ini seperti permainan."
Aku merasakan sakit yang menusuk. Bagaimana mungkin mereka menganggap ini sebagai permainan?
Aku berusaha mengendalikan emosiku, tapi air mata tetap luruh.
"Pikiran kalian terlalu terbuka, aku nggak bisa memainkan permainan ini!"
Suaraku bergetar, aku berbalik mau kabur dari tempat ini.
Tepat pada saat itu, Keenan mengulurkan tangan untuk menarikku, tapi aku menepisnya dengan cepat. Seketika tamparan keras mendarat di wajahnya.
"Enyah!" teriakku marah.
Suasana seakan membeku, semua orang terkejut dan hanya suara tamparan yang nyaring yang bergema di ruangan itu.
Separuh wajah Keenan seketika memerah dan bengkak. Harga dirinya serasa aku injak berulang kali dan perih panas yang menyengat menjadi pengingat betapa dia dipermalukan.
Aku tahu aku telah melewati batasnya dan dia akan segera meledak.
"Kimmy, kamu sudah keterlaluan!" Mata Keenan dipenuhi amarah. Dia menatapku dengan ganas, seolah ingin melahapku hidup-hidup.
Aku membalas tanpa mundur, sambil berpikir dalam hati kali ini aku akan memberinya pelajaran.
Begitu selesai berbicara, dia tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku sangat kuat hingga membuatku kesakitan, lalu mendorongku ke tempat tidur.
Aku menatapnya dengan kaget, sama sekali tidak menyangka dia akan melakukan ini.
Kami sudah berpacaran cukup lama, dia selalu lembut dan penuh perhatian. Dia tidak pernah marah padaku, apalagi sampai melakukan sesuatu padaku.
Aku didorong ke ranjang, dan untuk sesaat aku tidak bisa bereaksi, pikiranku kosong.
Aku merasakan sakit yang membakar di wajahku, dan sentuhan kasarnya membuatku dipenuhi rasa malu dan kemarahan.
Aku mencoba mendorongnya menjauh, tapi dia terlalu kuat dan aku tidak bisa bergerak.
Wendy dan Luna juga terkejut melihat pemandangan ini. Mereka tahu Keenan selalu lembut dan tidak menyangka dia tiba-tiba akan marah.
Suasana tegang di kamar membuat semua orang menahan napas.
Aku menjerit tanpa kendali. Amarah hampir meruntuhkan kewarasanku.
Aku berjuang mati-matian, mencoba melepaskan diri darinya.
"Keenan, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!"
Aku menjerit, suaraku dipenuhi rasa kesal dan marah.
Namun Keenan seolah tidak mendengar. Dia tetap menindihku dengan kuat. Napasnya berat, berbaur antara gairah yang memuncak dan antusiasme yang membara.
"Kamu selalu memandang rendahku bukan? Di matamu, aku bukan siapa-siapa!"
Dia menggeram rendah, memuat rasa tersinggung dan amarah.
Mendengar tuduhannya, aku terkejut. Aku tidak menyangka dia menyimpan begitu banyak rasa tidak puas terhadapku.
Awalnya aku mengira dia hanya sementara tidak dapat menemukan pekerjaan, jadi aku sangat toleran terhadapnya dan bahkan membayarkan sewa rumahnya selama dua bulan.
Tak disangka dalam benak Keenan, aku orang yang merasa lebih tinggi dan meremehkannya.
Aku mencoba menenangkan diri dan menjelaskan, tapi Keenan tidak memberiku kesempatan dan terus melontarkan tuduhan tanpa henti.
"Kamu merasa paling benar dan tak pernah menganggapku serius! Aku sudah muak dengan kesombonganmu!"
Mendengar kata-kata marahnya, hatiku campur aduk.
Selama bertahun-tahun, aku telah memberikan begitu banyak untuknya, ternyata inilah yang sebenarnya dia pikirkan.
Aku merasa tidak adil dan marah.
Aku tak pernah menyangka pria yang kuanggap baik ternyata memandangku seperti ini.
Aku mencibir, mendorongnya dengan kuat dan akhirnya lepas darinya.
Aku berdiri, mataku dipenuhi kekecewaan dan kemarahan.
"Keenan, kita putus!"
Aku mengatakannya dengan tenang, tapi kata-kata itu menghantam hati semua orang.
Aku berjalan ke lemari pakaian, mengambil bajuku dan segera memakainya.
Kemudian, aku membuka koper dan mulai mengemasi barang-barangku.
Aku bertindak cepat, seolah takut dia berubah pikiran.
"Aku akan membayar sewa bulan ini sepenuhnya, kalian tak perlu khawatir."
Aku mengatakannya dengan dingin, mataku dipenuhi tekad.
Aku tidak ingin bertemu mereka lagi, terutama Keenan.
Setelah mengemasi barangku, aku berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh ke belakang.
Aku menyeret koperku keluar dari rumah sewaan, angin dingin yang menerpa membuatku menggigil.
Aku melihat jam tanganku, sudah pukul 3 pagi.
Aku berdiri di jalan, merasa sangat kesepian dan tak berdaya.
Aku kehilangan orang yang kucintai dan sahabat terbaikku.
Aku tidak tahu harus pergi ke mana, hanya bisa membiarkan air mata menggenang di mataku.
Aku menyeret koperku dan berjalan tanpa tujuan menyusuri jalan, hatiku dipenuhi kekecewaan dan kemarahan.
Malam itu, aku tidak tidur sepanjang malam, menyusuri jalan tanpa tujuan, membiarkan angin dingin menampar hati yang kacau.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi semakin memikirkan, semakin aku menyadari bahwa aku terlalu impulsif.
Kenapa aku tidak mengusir Keenan?
Aku bodoh sekali!
Dia sudah memanfaatkanku, tinggal di rumahku dan menggunakan barang-barangku. Dia seharusnya yang diusir!
Sekarang hanya bisa mencari tempat menginap dulu.
Aku menyeka air mataku, mengeluarkan ponsel untuk mencari hotel terdekat, lalu check-in.
Hari yang sangat melelahkan. Ketika akhirnya aku dapat berbaring, tubuh dan batinku terasa sangat lelah.
Meski demikian, aku gelisah dan bolak-balik sepanjang malam, diliputi kekhawatiran dan tidak bisa tidur nyenyak.
Saat aku bangun, sudah tengah hari.
Ponsel tergeletak tenang di sana. Biasanya, pada jam seperti ini, Keenan sudah menelepon berkali-kali.
Saat teringat wajahnya, gelombang mual serta kesedihan menyelimutiku.
Kami sudah putus. Aku sudah memutuskan untuk menutup semua akses kami berdua, barulah aku bisa benar-benar melepaskan semuanya.
Saat pikiranku sedang kacau, tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Aku melompat dari ranjang dengan panik, bahkan tidak memakai sandal dan mulai mencari di koperku.
Aku mengeluarkan semua pakaian, kemudian menyadari sebuah masalah serius.
Astaga, gelang giok warisan keluarga masih tertinggal di rumah sewaan.
Itulah satu-satunya yang ditinggalkan ibuku untukku.
Aku menyimpannya di brankas bersama buku tabunganku, dan belum pernah membukanya.
Kemarin sangat terburu-buru sehingga aku benar-benar lupa tentang hal itu.
Setelah orang tuaku bercerai, aku jarang merasakan kasih sayang ayahku. Ibulah yang membesarkanku dengan susah payah.
Aku hidup sendirian sejak ibuku mengalami kecelakaan mobil tiga tahun lalu.
Pada tahun yang sama, aku bertemu Keenan dan bergantung padanya.
Aku harus kembali dan mengambil gelang giok itu!
Aku segera menghapus nomor mereka dari daftar hitam dan mengirimkan pesan pada mereka.
Namun, layar menampilkan pesan, [Kamu belum terhubung sebagai teman. Apakah kamu ingin melanjutkan verifikasi pertemanan?]
Tiba-tiba aku merasa merinding, dan jantungku hampir berhenti berdetak.
Kenapa dia menghapusku begitu cepat?
Firasat buruk menyergapku. Hatiku terasa berat, seperti dihimpit batu besar dan perasaan itu seolah menarikku ke jurang gelap.
Sudahlah, aku masih menyimpan kunci rumah sewaan itu.
Aku mengepalkan tinju, cepat-cepat berpakaian dan bergegas ke rumah sewaan itu.
Tak lama kemudian, aku berdiri di lantai bawah gedung apartemen itu.
Matahari siang itu sangat terik dan menyilaukan. Punggungku segera basah oleh keringat.
Aku mengambil kunci dengan tangan bergetar. Jariku gemetar karena gugup dan membukanya dengan susah payah.
Aku terkejut ketika pintu itu terbuka.
Barang-barang di rumah sewaan telah hilang!
Selain TV dan beberapa perabot, semua barang lain yang bisa dipindahkan sudah hilang!
Aku merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungku hingga ke belakang leherku.
Aku mundur beberapa langkah karena tak percaya, hampir menabrak pintu di belakangku.
Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Pemandangan di hadapanku membuat jantungku berdebar kencang dan membuatku terpana.
Kenapa mereka pindah setelah aku pergi?
Aku menggigit bibirku, sebuah dugaan terlintas di benakku.
Aku bergegas masuk ke kamar tidur, berharap menemukan beberapa petunjuk.
Kamar tidur berantakan, yang tertinggal hanya dipan kosong.
Aku dengan cemas membuka laci-laci lemari dan mencari dengan panik, berharap menemukan sesuatu yang berharga.
Namun, seluruh rumah sudah diubrak-abrik dan kosong. Mana ada brankas itu lagi.
Aku bersandar lemas pada lemari. Kakiku lunglai dan hampir terjatuh.
Aku terduduk lemas di lantai. Pandanganku hampa, terpaku pada lemari yang kosong. Aku merasa seperti raga tanpa jiwa.
Aku seketika tersadar, mereka membawa pergi brankas itu!
Bagaimana aku bisa sebodoh itu?
Kemarin tiba-tiba ada usul untuk pergi ke ruang permainan misteri, lalu terjadi beberapa hal yang membuatku malu untuk mengatakannya.
Setelah itu di meja makan, Wendy bahkan menunjukkan ketertarikan padaku.
Sepulang ke rumah, mereka mengusulkan ide untuk melakukan hal itu berempat dan itu benar-benar telah menyentuh batas toleransiku.
Aku selalu menjaga privasi. Keenan yang telah bersamaku selama tiga tahun, tidak mungkin tidak mengetahui batasanku.
Dia tampak sengaja memprovokasiku agar aku meminta putus!
Jika dipikir kembali sekarang, semua ini tampak memiliki pola yang jelas. Mereka mungkin sudah lama merancang sandiwara penipuan ini!
Aku tak pernah memberi tahu Keenan tentang isi brankas itu, tapi dia selalu sangat tertarik dengan itu, mungkin dia mengira ada barang berharga di dalamnya.
Karena itu, dia bersekongkol dengan Wendy, menyusun rencana secara matang, memasang jebakan ini, lalu melarikan diri pada malam yang sama.
Mereka bukan hanya menyingkirkanku, tapi juga mencuri harta bendaku!
Sungguh pribadi yang penuh perhitungan dan perencanaan matang!
Mataku terbelalak karena amarah, sementara tubuhku gemetar di luar kendaliku.
Aku memaksa diriku untuk tenang. Kabut dalam benakku perlahan sirna dan untuk pertama kalinya, kesadaranku terasa begitu jernih.
Aku harus membuat laporan polisi dan memastikan barang milikku kembali!
Aku bergegas keluar dari rumah sewaan dan langsung menuju kantor polisi.
Aku disambut oleh seorang polisi perempuan. Dia menenangkanku dengan tutur yang lembut, lalu menyuguhkan secangkir teh hangat.
Dengan suara tersendat, aku menceritakan seluruh kronologi kejadian.
"Jangan cemas, kami akan mengupayakan penelusuran keberadaan mereka semaksimal mungkin."
Dia menenangkanku dengan sabar.
Aku meraih gelas itu. Perasaanku bercampur aduk, sulit kujelaskan.
Aku sudah dewasa, tapi masih saja tertipu. Jika ibu masih ada, mungkin dia akan mentertawakanku.
Aku menunggu di kantor polisi sektor. Hingga akhirnya, seorang polisi muda datang membawa kabar.
"Ada perkembangan baru!"
Dia berbicara dengan antusias, sambil menggenggam beberapa berkas di tangannya.
Aku memandangnya dengan sorot mendesak, berharap para penipu itu segera ditemukan dan apa yang menjadi milikku dapat kembali.
Aku bergegas memeriksa informasi tiket pesawat. Ternyata, Keenan, Wendy dan Luna membeli penerbangan yang berbeda pada sore ini, masing-masing menuju kota yang berbeda.
Itu membuatku benar-benar terpukul!
Kenapa mereka berpencar seperti ini?
Terutama Wendy dan Luna. Hubungan mereka sebelumnya begitu dekat. Bagaimana mungkin mereka memilih bertindak terpisah?
Adakah keretakan dalam hubungan mereka?
Apa kemesraan kemarin hanyalah sandiwara?
Sebuah gagasan mengerikan terlintas di benakku, bisa jadi mereka telah menuntaskan rencana kejahatan itu dan kini mereka hendak kabur menuju hidup baru masing-masing.
Kecemasan menyergap batinku, perasaanku kacau dan tak beraturan.
Polisi perempuan itu tampaknya menyadari ada kejanggalan. Dia segera menugaskan tiga tim terpisah untuk melacak mereka.
Aku sangat ingin ikut, maka aku memohon, "Izinkan aku ikut. Aku berjanji nggak akan mengganggu operasi!"
Polisi perempuan itu ragu sejenak, mungkin karena melihat kecemasanku, lalu akhirnya menyetujui permohonanku.
Dia mengingatkanku, "Jangan terlalu dekat. Pantau dari kejauhan saja."
Aku mengangguk kuat, menandakan bahwa aku memahami arahannya.
Lalu aku berangkat bersama tim pengejar Keenan.
Ini pertama kalinya aku naik mobil patroli polisi, terlebih dalam suasana yang begitu menegangkan.
Aku mengepalkan tangan erat dan sangat gelisah. Andai aku memiliki sayap, ingin rasanya terbang seketika menuju bandara.
Akhirnya kami tiba di bandara. Karena masih sore, kondisi sangat padat. Polisi bergerak tanpa seragam demi menghindari kepanikan.
Aku juga membantu penyisiran keberadaan Keenan di tengah kerumunan.
Polisi perempuan itu juga memberiku alat komunikasi genggam agar koordinasi dapat berlangsung cepat dan akurat.
Dalam benak, aku terus menelusuri ingatan tentang gaya busana dan penampilan Keenan, sambil mengamati setiap orang di kerumunan yang bertubuh mirip dengannya.
Arus penumpang di bandara begitu padat. Aku hampir tenggelam dalam lautan manusia.
Waktu beringsut menit demi menit. Jadwal keberangkatan semakin dekat dan aku semakin panik.
Saat itulah seorang lelaki yang melangkah ke konter check-in menarik perhatianku.
Di tengah terik siang, dia malah mengenakan mantel angin tipis. Meski modelnya berbeda, postur tubuhnya sangat mirip dengan Keenan.
Aku menghentikan langkah, lalu mengamati pria itu dengan saksama.
Saat dia berbalik, aku melihat jelas profil wajahnya. Itu benar-benar wajah Keenan!
Aku segera mengeluarkan radio komunikasi. Jari-jariku bergetar saat menekan tombol dan suaraku ikut bergetar.
"Aku melihat Keenan, pada arah pukul tiga. Dia akan segera naik ke pesawat!"
Dari radio komunikasi terdengar respons tegas polisi perempuan. Tim pengejar seketika beralih arah dan bergerak mengepung dari berbagai penjuru.
Saat aparat semakin merapat ke arah Keenan, jantungku berdegap semakin cepat, sementara telapak tanganku berkeringat.
Aku menanti langkah berikutnya dengan tegang, seakan-akan diriku telah menjelma polisi perempuan berpengalaman.
Aku terpaku di tempat, kedua kakiku seakan melekat di lantai. Kuredam kuat-kuat dorongan untuk maju mendekat.
Jarak mereka dariku hanya sepuluh meter, tapi terasa bagai jurang pemisah yang tak tergapai.
Keenan, seseorang yang pernah kucintai sepenuh hati, kini tampak begitu tenang melangkah menuju gerbang keberangkatan. Dia seolah tidak menyadari bahaya yang sebentar lagi akan menjeratnya.
Tepat pada saat itu, beberapa ketua tim dengan sigap mengambil momentum, menyerbu ke arah Keenan dari sisi yang berlainan.
Segalanya berlangsung sekejap. Aku bahkan belum sempat mencerna, Keenan sudah dilumpuhkan dan berada dalam kendali.
Dia tampak panik, wajahnya memerah, lalu meledak dalam amarah dan caci maki, tanpa sisa kewibawaan yang biasa dia jaga.
Para penumpang di sekitar serentak menatap dengan rasa ingin tahu. Adegan dramatis yang terjadi begitu tiba-tiba membuat mereka terpaku.
"Siapa kalian? Berani-beraninya menculikku di siang bolong! Aku akan lapor polisi!"
Keenan meronta, berteriak dengan suara serak.
Pada saat itu, seorang polisi perempuan melangkah maju dengan tenang. Tatapan matanya tegas, memancarkan wibawa yang tak terbantahkan.
Dia menatap Keenan sekilas, lalu berkata datar, "Kami adalah polisi."
Mendengar kalimat itu, wajah Keenan seketika memucat, seperti seseorang yang tersedak dan untuk sesaat, tak mampu mengucap sepatah kata pun. Dia menatap ke sekeliling dengan panik, seolah mencari celah untuk kabur, tapi upayanya sia-sia.
Aku melangkah perlahan ke arahnya, langkahku berat, sementara perasaanku bercampur aduk.
Saat dia melihatku berdiri di luar kerumunan, wajahnya memerah dan tidak bisa berkata-kata, dia hanya berdiri kaku dalam kecanggungan.
Ketika polisi menggiringnya pergi, kami berpapasan dan bahu bersentuhan.
Dia menunduk, rautnya dipenuhi rasa bersalah dan getir, enggan menatapku.
Aku memandangi punggungnya yang perlahan menghilang, sementara hatiku dipenuhi beragam emosi yang saling bertaut.
Awalnya terasa lega, seperti beban amarah yang akhirnya luruh. Akan tetapi, perasaan tersebut segera berganti menjadi kepedihan dan kesedihan.
Tak pernah kubayangkan, perjumpaan sekaligus perpisahan kami akan seperti ini.
Setiba di kantor polisi, petugas menemukan barang bukti hasil kejahatan dari tubuh Keenan.
Untungnya mereka belum sempat menjual gelang giok itu. Kalau tidak, mungkin aku tak akan pernah bisa mendapatkannya kembali. Ternyata mereka tidak menjual gelang itu demi kelancaran pelarian mereka, jadi mereka memilih menguras uang dari buku tabunganku.
Pada saat yang sama, Wendy dan Luna juga ditangkap di stasiun. Bukti kejahatan mereka lengkap dan tidak terbantahkan.
Akhirnya, semuanya selesai.
Polisi perempuan itu mengatur pertemuan antara aku dan Keenan.
Ketika kubuka pintu ruang interogasi, yang kulihat adalah seorang pria dengan wajah letih. Dia adalah orang yang paling kucintai dulu.
Aku menatapnya dengan pandangan yang kompleks. Kemarin kami begitu dekat, tapi kini dia berada di kursi interogasi yang dingin. Perbedaan itu membuat dadaku terasa perih.
Penampilannya jauh lebih letih dari biasanya. Wajahnya lesu, area bawah matanya menggelap dan pakaiannya tampak kusut. Jelas semalam dia tidak beristirahat dengan baik.
Aku tersenyum sinis. Dalam hati, aku berpikir semalaman berkemas untuk kabur pasti melelahkan juga.
"Sudah berapa lama kamu merencanakan semua ini?"
Aku bertanya dengan nada dingin. Mataku menatapnya tajam, penuh tuduhan.
Dia mengatupkan rahang dengan tegang dan masih dan tidak menatap ke arahku. Setelah lama terdiam, dia berbicara, tapi tetap menghindari pertanyaanku.
"Ini nggak sepenuhnya kesalahanku."
Suaranya rendah, ada nada membela diri.
Mendengar itu, aku tak kuasa menahan tawa, menarik napas, lalu membalas.
"Lantas itu salahku? Aku membayar sewa, listrik, air, bahkan pulsamu. Dari pakaian yang kamu kenakan, adakah yang kamu beli sendiri? Akhirnya tetap aku yang disalahkan?"
Ucapanku menghujam seperti bilah tajam. Ada kilas rasa terhina di wajahnya. Dia menggenggam tinju dengan erat, seolah menahan emosi yang bergolak.
"Lalu apakah itu memberimu hak memerintahku sesuka hati? Menjadikanku budakmu?"
Dia meninggikan suara. Tatapan matanya menyiratkan kebencian dan ketidakrelaan.
Menatap dirinya, dadaku dipenuhi pedih dan sesak yang tak terperi.
Bertahun-tahun kuserahkan hati pada orang penuh ambisi. Ketika mengingatnya kembali, situasi tersebut terasa ironis.
Hubungan ini berakhir. Tidak ada kelanjutan.
Dengan amarah membuncah, aku berkata, "Aku memelihara anjing pun jauh lebih setia! Setidaknya ia tahu balas budi, bukan menggigit majikan sendiri!"
Mendengar kata-kataku, dia tampak sangat tersinggung, dan meraung keras seolah ingin melampiaskan semua kekesalan di hatinya.
Dia berteriak histeris, "Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah memilihmu! Aku begitu buta ...."
Semakin bicara, emosinya kian memuncak, hampir kehilangan kendali.
Dadaku terasa perih, tapi tekadku untuk meninggalkannya justru semakin kukuh.
Tepat saat itu, seorang petugas mendekat dari belakang dan segera melumpuhkannya demi mencegah tindakan impulsif.
Polisi perempuan itu segera muncul dan berkata dengan tenang, "Cukup. Kita akhiri pertemuan ini di sini. Kondisi emosinya nggak lagi terkendali, itu berpotensi membahayakanmu."
Aku menatap punggungnya yang dibawa pergi, hatiku justru tenang.
Tubuhku bergetar halus. Aku menautkan kedua tangan ke belakang, lalu mengangguk perlahan sebagai tanda bahwa aku paham dan setuju.
Aku tahu dia akan menghadapi konsekuensi hukum. Aku nggak akan mengulang kesalahan dan membiarkan diriku jatuh ke dalam kenangan menyakitkan itu lagi.
Saat melangkah keluar dari ruang interogasi, angin malam yang sejuk menerpa wajahku, membuatku menggigil.
Aku menatap gelang giok di pergelangan tanganku yang telah kembali dan perasaan hangat menyelimuti hatiku.
Ini adalah satu-satunya warisan Ibu dan sekarang setelah akhirnya kembali padaku, aku merasa lega.
Aku masih punya peninggalan Ibu, jadi aku tidak sendirian.