Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 20

Ini jelas-jelas seperti menuangkan minyak ke dalam api! Melihat Tere seperti orang gila hendak berlari keluar mencari Felix, Agatha buru-buru menariknya dan berteriak panik, "Ibu, kamu tenang dulu! Orang yang menyebarkan video ini jelas punya niat jahat. Bisa jadi mereka hanya mau melihat keluarga kita saling bertengkar!" Logikanya semua orang paham. Tapi hanya ketika jarum menusuk diri sendiri, barulah tahu betapa sakitnya. Tere gemetar hebat karena marah. Dia sudah menikah dengan Felix bertahun-tahun dan banyak menderita bersamanya. Untungnya pria itu masih tergolong jujur dan patuh, selalu memihak padanya dan tidak pernah melakukan hal yang kelewat batas. Tapi ini baru saja dapat uang besar, dia sudah tidak sabar mencari wanita lain! Siapa yang bisa tetap tenang menghadapi hal seperti itu? "Kamu minggir! Hari ini aku harus menghajar pria berengsek itu sampai mati!" Tere berkata sambil menggulung lengan bajunya, siap menerjang keluar. Agatha langsung mengadang pintu sambil mengentakkan kaki dengan cemas. "Ibu, pakai otak sedikit! Kalau masalah ini menjadi besar sampai nggak bisa dibereskan, apa untungnya buat keluarga kita? Bukannya malah memenuhi keinginan orang lain?" Tere sama sekali tidak mau mendengarnya. Agatha hanya bisa terus membujuknya. "Ayah hanya lagi khilaf sesaat. Kalau mau membuatnya sadar kembali, itu gampang. Cari cara ambil uang itu dari tangan ayah, bukankah semuanya beres?" Ada pepatah yang bilang, pria kalau punya uang pasti jadi nakal. Kalau tidak punya uang, apa Felix masih bisa hura-hura di luar? Jelas tidak bisa. Begitu mendengar itu, Tere merasa masuk akal. Kalau Felix tidak mau memberikan uangnya secara sukarela, tidak masalah. Dia bisa pakai cara lain untuk diam-diam memindahkan uang itu. Begitu punya arah tujuan, amarah Tere pun perlahan mereda. Malam harinya, saat hendak tidur, Tere mencoba bertanya, "Uangnya kamu simpan di mana? Akhir-akhir ini kita nggak boleh kelihatan aneh, nanti kalau membuat Kakak curiga malah repot." "Aku tahu, aku tahu," Felix menjawab dengan tidak sabar, lalu membalik badan dan tidur. Setelah itu, tidak peduli bagaimana Tere bersikap manis dan perhatian, dia tetap tidak bersuara. Untungnya kata-kata penghiburan Agatha sebelumnya cukup ampuh, jadi kali ini Tere masih bisa menahan diri. Baru ketika tengah malam lewat dan dengkuran Felix terdengar seperti petir, Tere diam-diam bangun dan mulai mengubrak-abrik dompet Felix. Dia mencari lama sekali, tapi mendapati kalau di semua rekening, saldonya hanya beberapa ratus ribu atau beberapa juta .... Lalu ke mana 120 miliar itu? Pada saat itulah Tere benar-benar panik. Suaminya selingkuh, dia masih bisa menahan. Diperlakukan dingin, dia juga masih bisa menahan. Tapi kalau pria itu memberikan semua uangnya pada wanita di luar sana, dia tidak akan pernah tinggal diam! Memikirkan itu, Tere langsung mengguncang Felix yang sedang tertidur lelap, sambil memukul dan bertanya, "Uangnya mana? Kamu kasih semua uang itu ke wanita jalang di luar sana, ya? Felix, aku sudah ikut kamu bertahun-tahun, kamu tega memperlakukanku seperti ini? Dasar nggak punya hati nurani!" Tidur nyenyak tiba-tiba dibangunkan, juga masih ditampar beberapa kali, amarah Felix langsung meledak. Dia mengangkat tangan dan menampar Tere balik! "Kamu bahkan berani memukulku?" Tere tertegun sejenak, lalu amarahnya langsung meluap dan dia menerjang ke depan. Tak lama kemudian, suara tamparan dan benturan pun terdengar bertubi-tubi. Pasangan suami istri itu langsung baku hantam! ... Keesokan paginya. Saat Cassandra turun untuk sarapan, dia mendengar cerita dari para pelayan tentang kejadian semalam. Katanya, entah kenapa Felix dan istrinya bertengkar hebat di tengah malam. Mereka saling menjambak sampai wajah lebam dan hidung bengkak, tapi tetap tidak mau melepaskan satu sama lain, seperti musuh bebuyutan! Akhirnya, baru setelah Agatha membujuk cukup lama, barulah mereka mau berhenti. Untung saja malam itu Maxi sedang sibuk di perusahaan sampai tidak pulang dan Deasy juga tidur terlalu nyenyak. Kalau tidak, keributan besar keluarga itu pasti sudah mengganggu semuanya. Cassandra mendengarnya tanpa sedikit pun merasa terkejut. Sebaliknya, dia malah tersenyum sambil menyapa Felix yang keluar dari kamar. "Pagi, Paman Felix." "Pagi ...." Felix sebenarnya tidak ingin sarapan, tapi karena Cassandra sudah menyapa, dia pun melangkah mendekat dengan kaku. Tadi hanya mendengar cerita dari pelayan rasanya belum terlalu nyata. Namun, saat melihat langsung bekas cakaran di wajah Felix, itu benar-benar mencolok dan mengenaskan. Benar-benar ... memuaskan. Cassandra sampai harus menahan diri agar tidak tertawa. "Paman Felix mau keluar, ya?" Dia meneguk susu hangat, lalu berkata santai, "Beberapa hari lalu aku melihat satu tas bagus tapi belum jadi beli. Kalau Paman keluar, bisa sekalian belikan buat aku nggak?" Tanpa menunggu Felix menolak, Cassandra langsung menyodorkan sebuah kartu. "Uangnya aku yang bayar. Maaf, merepotkan Paman, ya." Kalau biasanya, Felix pasti akan menolak. Bagaimanapun juga, dia adalah senior. Perlakuan seperti ini sama saja memperlakukannya seperti pembantu. Tapi kali ini, dia setuju. Karena Cassandra terkenal royal, di kartu itu pasti ada banyak uang .... Tak lama setelah Felix menyetujuinya, Tere juga keluar dari kamar. Begitu pasangan suami istri itu saling melihat, tatapan mereka langsung penuh permusuhan, bau mesiu terasa di udara. Pikiran Felix jelas sudah tidak di situ. Dia hanya makan beberapa suap lalu pergi meninggalkan rumah Keluarga Nesmir. Tere tentu tidak mau tinggal diam. Dengan tubuh penuh memar, dia langsung mengejarnya keluar. Cassandra tetap makan sarapannya dengan tenang, sama sekali tidak terpengaruh. Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara Agatha yang menuduhnya. "Ini ulahmu, 'kan?" Kalimatnya berbentuk pertanyaan, tapi nadanya penuh kepastian. Cassandra memasang wajah polos dan langsung memakinya, "Apa yang aku lakukan? Kamu sakit ya pagi-pagi datang cari ribut?" Agatha menatap wajah Cassandra lama sekali, tapi tidak menemukan sedikit pun kejanggalan. Itu hanya bisa berarti satu hal ... masalah video itu memang tidak ada hubungannya dengan Cassandra dan soal uang yang ditelan itu juga tidak diketahui olehnya. Kalau Cassandra tahu, dengan sifatnya, dia pasti sudah ribut besar dan mengusir keluarga mereka sejak lama. Setelah memikirkannya, Agatha pun tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa, Kak. Jangan dipikirkan." Cassandra menyeka mulutnya dan malas menanggapi. "Oh ya, Kakak, kemarin Kak Faldano mengajakku keluar main. Kamu mau ikut nggak?" Agatha berkata dengan wajah agak malu-malu. Jelas ini pamer! Pergi kencan sambil menggandeng tangan tunangan orang lain, masih berani merasa bangga? Kenapa tidak tahu malu? Kalau ini Cassandra yang dulu, mungkin dia sudah menangis karena marah. Tapi Cassandra sekarang, tetap tersenyum santai dan berkata dengan datar, "Nggak. Kamu saja. Semangat ya, usahakan segera membuat nasi menjadi bubur." Kata-kata itu benar-benar keluar dari hati Cassandra! Semakin cepat pertunangannya dibatalkan, semakin cepat mereka berpisah dan tidak saling berurusan lagi, bukankah itu jauh lebih baik? Ucapan yang terlontar begitu saja itu membuat mata Agatha berkilat sesaat. Dari luar tidak terlihat apa-apa, tapi dia benar-benar menyimpannya di dalam hati. Kalau memang bisa membuat nasi menjadi bubur, memangnya dia masih perlu khawatir tidak bisa masuk ke Keluarga Tanadi? Melihat kedua orang tuanya yang tidak berguna itu kini saling bermusuhan, Agatha merasa sudah waktunya dia melakukan sesuatu demi masa depannya sendiri.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.