Bab 5
"Gadis tengik, bukankah kemarin kamu bilang Ayah menyebalkan?" Maxi berkata kesal tapi juga merasa lucu.
"Nggak akan lagi. Nggak akan pernah lagi. Aku janji!"
Cassandra bersikap sangat manis dan patuh, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, sampai membuat Maxi tertawa terbahak-bahak. "Aku mau lihat kamu bisa patuh berapa hari."
Keributan kecil ini pun berlalu begitu saja.
Keluarga Hasari bertiga menangis dan mengadu setengah hari, tetap tidak ada artinya dibandingkan setetes air mata Cassandra.
Demi persaudaraan, Maxi tidak pernah terpikir untuk mengusir Keluarga Hasari.
Tidak pernah sama sekali.
Cassandra tentu tahu hal itu. Oleh karena itulah, keributan kecil hari ini hanyalah langkah awal untuk menyalakan api.
Dia sengaja membuat Keluarga Hasari marah, marah sampai tidak sabar ingin membunuhnya, marah sampai ambisi liar mereka terbuka di depan umum!
Saat itu tiba, dia akan menguliti topeng munafik mereka satu per satu!
Malam itu, saat Cassandra hendak tidur, Bryan memeluk boneka dan menyelinap ke kamarnya, lalu berbisik pelan, "Kakak, aku sama sekali nggak suka keluarga itu."
Biasanya, setiap kali dia berkata seperti itu, Cassandra akan menenangkan adiknya dengan berkata, "Bagaimanapun juga mereka masih keluarga."
Namun kali ini, Cassandra mengusap kepala adiknya dan berkata lembut, "Tenang, Kakak pasti akan mengusir mereka semua."
Kebencian itu tidak pernah dia lepaskan, juga tidak akan pernah dia lupakan.
Semua utang itu, harus ditagih satu per satu!
...
Keesokan harinya, pagi-pagi Maxi sudah berangkat ke kantor.
Bryan juga diantar sopir ke sekolah.
Adiknya baru berusia delapan tahun, tapi berbakat luar biasa dan sudah loncat beberapa tingkat. Dengan kemampuannya, dia sebenarnya bisa langsung melompati SD, tapi ayahnya tidak ingin memaksakan pertumbuhan, jadi lompat kelasnya tidak terlalu ekstrem. Saat ini dia masih duduk di bangku SD.
Lalu Cassandra ....
Dia seumuran dengan Agatha, bersekolah di akademi elite yang diatur ayahnya, bahkan satu angkatan dan satu kelas.
Saat Cassandra turun, sopir yang menunggu segera membukakan pintu mobil dan berkata dengan hormat, "Nona Besar, sudah waktunya berangkat ke sekolah."
Di dalam mobil, Agatha sudah duduk lebih dulu. Begitu melihat Cassandra, dia tersenyum provokatif.
Mau mengusir keluarga mereka?
Percuma. Paman pasti tidak akan setuju, jadi Agatha sama sekali tidak takut.
Namun tatapan Cassandra tetap tenang, tanpa sedikit pun tanda marah. Seolah yang barusan dia lihat bukan Agatha ... melainkan udara!
Diabaikan sepenuhnya.
Cassandra naik mobil dan mobil pun melaju meninggalkan vila Keluarga Nesmir.
Di sepanjang jalan, Cassandra membolak-balik buku dengan santai, sama sekali tidak menggubris Agatha.
Akhirnya Agatha terpaksa membuka mulut. "Kakak, kamu ...."
Namun Cassandra langsung memotongnya begitu dia membuka mulut. "Sudahlah, nggak perlu main drama kakak-adik palsu. Kamu kira orang lain bodoh sampai nggak bisa melihat trik kecil di kepalamu?"
"Apa maksud Kakak?"
"Agatha, aku menantikan trikmu." Cassandra mengangkat sudut bibirnya, senyumnya dingin. "Jangan mengecewakanku."
Suasana di dalam mobil langsung membeku.
Agatha yang tadinya berakting kasihan cukup lama, akhirnya mulai panik saat menyadari Cassandra serius.
Dia merasa Cassandra seperti berubah total dalam semalam, tidak lagi mudah dipermainkan seperti dulu!
Ke depannya, sepertinya ke depannya tidak akan mudah untuk memanfaatkan dan membodohinya lagi ....
Namun di saat yang sama, Agatha justru merasa lega.
Drama persaudaraan menjijikkan itu sudah dia mainkan setahun penuh! Dia sudah muak!
Kalau benar-benar harus berseteru, belum tentu dia yang kalah!
...
Setengah jam kemudian, Cassandra melangkah masuk ke kelas yang begitu dikenalnya.
Begitu masuk, sebuah poster besar langsung melayang ke arahnya. Di poster itu terpampang jelas adegan dirinya menyatakan cinta pada Faldano!
Diperbesar dan jelas menjadi bahan tertawaan seluruh sekolah.
"Cassandra, bagaimana rasanya? Haha! Lihat gayamu yang seperti anjing penjilat itu. Aku bahkan malu melihatnya!"
"Ya, sudah ditolak berkali-kali, tapi masih menempel hanya karena ada ikatan pernikahan. Ck, ck, ck ...."
"Hei, sebentar lagi Faldano datang. Aku penasaran bagaimana Nona Besar Cassandra akan lanjut menjilatnya, haha!"
Benar, Faldano seumuran dengan Cassandra dan juga satu kelas dengannya.
Cassandra tidak menanggapi satu kata pun. Dia langsung menuju bangkunya dan duduk, lalu membuka buku dengan santai.
Para siswa di sekitarnya merasa aneh.
Biasanya, saat mendengar kata-kata seperti itu, Cassandra akan marah sambil membantah atau langsung menangis. Tidak pernah sekalipun setenang hari ini.
Akhirnya seorang siswa usil maju, merampas buku dari tangan Cassandra lalu melemparkannya ke tempat sampah sambil menantangnya, "Hei Cassandra, kenapa kamu nggak menangis? Kalau kamu menangis, aku akan mengampunimu!"
Cassandra berdiri dengan tenang dan melangkah ke depan siswa itu di bawah tatapan semua orang yang menonton keramaian. "Ambil kembali."
"Cih, barang yang aku buang mana mungkin aku pungut lagi? Konyol."
Sikap sombong dan congkaknya sungguh ... pantas dihajar.
Cassandra tersenyum tipis. Tepat saat semua orang mengira dia akan mengalah, dia langsung melayangkan pukulan ke hidung bocah itu!
Jeritan kesakitan terdengar nyaring. Cassandra kembali menendang lutut bocah itu tanpa berkedip sedikit pun, lalu mencengkeram rambut bocah itu dan menghantamkan kepalanya ke atas meja!
Tindakan keras dan tanpa ampun itu membuat semua orang kaget!
Namun Cassandra tetap tenang dari awal sampai akhir. Bahkan, kata-kata provokatif yang barusan dilontarkan bocah itu, dia kembalikan persis seperti aslinya.
"Menangislah. Kalau kamu menangis, aku akan mengampunimu."
Hidung bocah itu berdarah deras. Dia pun menangis karena kesakitan.
"Aduh ... sakit sekali ... huhu, aku kasihan sekali!"
Setelah merasa pelajarannya cukup, Cassandra pun melepaskan tangannya.
Buku yang sebelumnya dibuang ke tempat sampah, juga telah dikembalikan ke atas mejanya dalam keadaan utuh.
Cassandra kembali ke tempat duduknya dengan tenang, seolah-olah yang barusan memukul orang itu bukan dirinya.
Bisik-bisik di sekeliling terus berlangsung.
Sebagian besar mengatakan kalau Cassandra terpukul hingga kejiwaannya menyimpang.
Beberapa saat kemudian, suasana yang tadinya riuh mendadak sunyi.
Cassandra bosan, jadi menengadahkan kepala dan melihat seorang pemuda masuk dari pintu kelas.
Orang itu ....
Pria yang dulu pernah dia cintai sampai mati-matian, Faldano.
Dia berpakaian kasual yang bersih dan rapi, bertubuh tinggi ramping, berpenampilan menonjol. Dia sangat tampan seolah keluar dari komik. Wajahnya tampan dan keren, sopan juga ceria.
Orang ini pernah menjadi cahaya yang menerangi lubuk hatinya.
Namun cahaya inilah yang pada akhirnya menghancurkan segala miliknya.
Kalau dibilang tidak benci, itu bohong.
Dia membenci Faldano yang dulu memohon padanya, membujuknya untuk menggantikan wanita idamannya masuk penjara. Dia membenci saat keluar dari penjara setelah lima tahun, Faldano menatap dirinya yang penuh luka dengan sombong dan berkata padanya.
Apakah kamu pantas?
Kata-kata itu terukir seperti besi panas di hatinya.
Tidak akan pernah terhapus.
Namun yang paling dia benci adalah dirinya sendiri di masa lalu.
Dirinya yang kehilangan kewarasan dan merendahkan diri.
Siapa yang bisa disalahkan?
Tangan Cassandra perlahan mengepal, lalu kembali mengendur. Tatapannya pun berpindah, menjauh dari Faldano.
Perubahan pada diri Cassandra mungkin tidak disadari orang lain, tapi Faldano tentu bisa merasakannya.
Sejak kemarin setelah Cassandra memakinya di telepon, dia sama sekali tidak menghubunginya lagi.
Perasaan ini membuat Faldano merasa sedikit lega, tapi juga terasa aneh.
Sejak kapan Cassandra menjadi pintar? Tidak lagi terus mengejarnya, malah beralih ke trik tarik-ulur?
Namun barusan, dari sorot mata Cassandra, dia jelas melihat kebencian yang begitu dalam ....