Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 1

Pernikahan antara Wulan Wibisana dan Fajar Yandika menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di kalangan elite Kota Arunika. Wulan, putri tertua Keluarga Wibisana, dikenal sebagai gadis yang penuh kebebasan, berjiwa pemberontak, dan memiliki kecantikan yang memikat sekaligus tajam. Sedangkan Fajar Yandika, pewaris Keluarga Yandika, terkenal dengan sikap dingin, disiplin ketat, serta kendali penuh pada kekuasaan keluarganya. Meskipun keduanya seperti dua kutub yang sangat berbeda, mereka tetap hidup bersama dalam ikatan pernikahan selama tiga tahun. Pada tahun pertama mereka, Wulan diwajibkan menghafal dan menaati tiga ribu aturan Keluarga Yandika. Namun setelah menelusuri beberapa halaman, dia langsung merobek buku aturan tebal itu menjadi potongan-potongan kecil di depan para tetua keluarga hingga lembarannya berhamburan di lantai. "Ini sudah era modern, masih mau pakai aturan begini?" katanya dengan tatapan menantang dan penuh pembangkangan. Akibat perbuatannya, Wulan dijatuhi hukuman dengan berlutut di aula leluhur Keluarga Yandika yang lembap dan dingin selama tiga hari tiga malam tanpa henti. Memasuki tahun kedua pernikahan, Keluarga Yandika melarang Wulan, sebagai menantu sulung, pergi ke bar dan berpesta, apalagi berkeliling dunia seperti dulu. Wulan langsung menyalakan Ferrari-nya dan menabrak gerbang besi berat berukir yang menjadi simbol "aturan" rumah tua itu. Raungan mesin menggema ke seluruh kawasan rumah besar Keluarga Yandika. "Kalau kalian mau aku berhenti bersenang-senang, kalian harus langkahi dulu mayatku!" Akibatnya, dia dikurung selama setengah bulan, dan semua alat komunikasinya disita. Tahun ketiga pernikahan, Keluarga Yandika mulai mendesaknya untuk segera punya anak. Ibu Fajar, Athalla Yandika, mengeluarkan ultimatum terakhir, dan Wulan pun dipaksa dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan sebelum program bayi tabung. Peralatan medis yang dingin dan suara dokter yang datar tanpa emosi membuat Wulan merasa mual dan ingin muntah. Begitu perawat mulai menyiapkan obat, dia tiba-tiba membalikkan nampan, menerjang para pengawal, dan berlari keluar dari rumah sakit, lalu langsung mengemudi menuju kantor pusat Grup Yandika. Dia sudah muak. Tiga tahun ini, dia selalu menahan diri dan mencoba berperilaku selayaknya menantu Keluarga Yandika yang patuh. Tapi apa balasannya? Aturan yang dia dapat semakin ketat dan menyesakkan. Dia ingin memberitahu Fajar bahwa aturan konyol ini tidak sanggup dia jalani lagi. Jika Fajar tidak bisa menghentikannya, pernikahan ini harus berakhir meski dia masih menyukai pria itu. Wulan terlahir untuk hidup bebas, bukan menjadi layu dan hancur terperangkap di penjara bernama Keluarga Yandika. Dia menerobos masuk ke lift khusus direktur dan langsung menuju lantai paling atas. Sekretaris Fajar mencoba menghentikannya, tapi satu tatapan tajam dari Wulan membuat wanita itu mundur. Pintu kantor terbuka sedikit, dan dari dalam terdengar suara beberapa pria bercakap dan tertawa. Saat tangan Wulan baru saja menyentuh gagang pintu hendak mendorongnya, dia mendengar namanya disebut. "Fajar, kudengar istrimu akhir-akhir ini makin susah diatur?" Suara itu milik salah satu sahabat lama Fajar, terdengar geli dan mengejek. "Terus terang saja, di seluruh Kota Arunika memang nggak ada yang bisa menandingi kecantikan Wulan. Wajahnya dan tubuhnya luar biasa! Sayangnya dia liar sekali, seperti kuda liar yang nggak bisa dijinakkan." Pria itu terkekeh lalu menambahkan, "Tapi kamu juga aneh. Kamu sendiri kan nggak suka tipe perempuan seperti dia. Kalau begitu, kenapa dulu kamu repot-repot merancang adegan ala pahlawan penyelamat, sampai membuat dia jatuh cinta mati-matian dan rela menikah denganmu?" Di depan pintu, Wulan merasa seperti disambar petir, dan darahnya serasa membeku di seluruh tubuh. Jadi aksi penyelamatan itu ... sudah direncanakan? Tiga tahun lalu, di klub berkuda, kudanya tiba-tiba lepas kendali dan berlari liar ke arah pagar. Saat itu, Fajar muncul bagaikan penyelamat dari langit, meraih tubuhnya dan menariknya ke dalam pelukan. Wulan, yang selama ini bergonta-ganti pasangan dan tak pernah terpaut hati pada siapa pun, seketika jatuh cinta pada seorang pria untuk pertama kalinya. Kemudian, dia menyelidiki Fajar dan tahu bahwa mereka berasal dari dua dunia yang berbeda. Dia selalu penuh energi dan semangat yang menyala, sementara Fajar tetap dingin, tenang, dan menjaga jarak. Dia liar dan menjalani hidup tanpa batas, sementara Fajar adalah sosok serius, disiplin, dan kaku. Dia mencintai kebebasan, sementara Fajar hidup dengan aturan. Meski tahu mereka berasal dari dua dunia yang berbeda, apa pun yang Wulan inginkan harus dia dapatkan. Karena itu, dia yang lebih dulu mendekati Fajar, menggunakan seluruh pesona dan kemampuan yang dia punya, dan akhirnya membuat pria itu setuju untuk menikahinya. Selama ini, dia selalu percaya bahwa itu adalah hasil dari usahanya sendiri, dan takdir yang mempertemukan mereka. Namun ternyata ... semuanya hanya jebakan yang telah Fajar rancang dengan teliti. Kenapa? Untuk apa Fajar melakukan itu? Kemudian terdengar sebuah suara lain yang datar namun mengandung getir, mengungkap alasan sebenarnya. "Masih kurang jelas? Ya tentu saja demi Zoya." Zoya Keruma ... Istri dari Faris Yandika, adik Fajar yang dikenal tidak bisa diandalkan. "Yang benar-benar ada di hati Fajar adalah Zoya. Tapi Zoya berasal dari kalangan sederhana, sedangkan Keluarga Yandika, kamu tahu sendiri, aturan dan martabat mereka nomor satu. Bu Athalla berkali-kali mempersulit hidup Zoya. Fajar nggak tahan melihatnya, jadi dia memutuskan menikahi seseorang yang bisa menarik perhatian dan menanggung semua serangan, supaya hidup Zoya di Keluarga Yandika jadi lebih mudah." "Dan Wulan ... jelas pilihan paling pas. Dia cantik, latar belakang keluarganya kuat, dan yang paling penting, karakternya liar dan berani membuat kehebohan." "Tapi Fajar benar-benar kelewat mencintai Zoya! Kalau aku punya istri secantik dan sehebat Wulan, aku pasti menempel terus dan minta dia kasih aku banyak anak. Tapi lihat Fajar, demi membuat semua tekanan tetap jatuh pada Wulan, dia malah diam-diam melakukan vasektomi! Dia benar-benar menutup seluruh jalan Wulan untuk punya anak! Pengorbanan macam apa itu ... " Di depan pintu, Wulan merasa hawa dingin menjalar cepat dari telapak kaki hingga kepala, membuat seluruh tubuhnya kaku dan mati rasa. Vasektomi? Jadi demi melindungi Zoya, Fajar bukan hanya sengaja menikahinya sebagai tameng, tetapi bahkan rela mengebiri dirinya sendiri, hanya supaya semua tekanan dan kemarahan Keluarga Yandika jatuh ke Wulan? Ini benar-benar konyol dan tak masuk akal. Dada Wulan terasa seperti diremas oleh tangan tak terlihat, begitu sakit hingga dia hampir tak bisa bernapas. Dia menggigit bibir sampai berdarah, namun sama sekali tak menyadarinya. Saat ini, dia hanya ingin mendengar jawaban dari Fajar, walau hanya satu kata penyangkalan pun sudah cukup. Di dalam kantor, keheningan berlangsung beberapa detik. Lalu terdengar suara Fajar yang dingin dan datar. Ucapan Fajar terdengar singkat, rapi, dan tenang seperti biasa, namun tiap kata-katanya bagai paku es beracun yang menghantam dan memecah sisa pertahanan hati Wulan. "Zoya terlalu lembut, dia nggak akan kuat menerima tekanan. Sedangkan Wulan ... dia bisa menahan semuanya." Dia bisa menahan semuanya. Jadi selama ini, Fajar bukannya tak tahu semua perlawanan, rasa sesak, dan luka yang dia rasakan, melainkan karena dia yakin Wulan mampu menanggung semuanya? Jadi menurutnya, Wulan pantas untuk dimanfaatkan, pantas berdiri sendirian menahan kemarahan seluruh keluarga, demi melindungi perempuan lain? Tubuh Wulan gemetar hebat. Dia hampir menerobos masuk dengan amarah yang meledak di dadanya. Namun sebelum dia sempat bergerak, ponsel Fajar mendadak berdering.
Bab Sebelumnya
1/30Bab selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.