Bab 29
Suara Wulan tenang, tanpa amarah, tanpa dendam, bahkan tanpa gelombang emosi, tetapi lebih tajam dari pisau mana pun. Setiap kata jelas menghantam hati Fajar yang sudah hancur.
"Fajar, lihat dirimu sekarang."
"Sungguh menyedihkan, dan juga sangat menggelikan."
Dia berhenti sejenak, bibir merahnya sedikit terangkat, mengucapkan kata-kata paling mematikan.
"Pernah mencintaimu adalah aib terbesar dalam hidupku."
"Dan aku minta." Suaranya tegas tanpa memberi ruang sedikit pun untuk kompromi, "Menghilanglah selamanya dari duniaku."
Setelah itu, dia tak menoleh lagi, dan dengan tenang meraih lengan Ethan, bersandar lembut pada dirinya.
Ethan memeluk pinggangnya, menatap sekilas Fajar yang masih berlutut di salju, seolah seluruh jiwanya baru saja disedot keluar, lalu membawa Wulan menuju rumah kaca hangat dan terang.
Sepanjang waktu itu, Wulan tidak pernah menoleh ke belakang.
Fajar tetap terpaku di tempat, berlutut di salju dingin, seperti patung yang tiba-tiba dikeringkan oleh angin.
Dia ha

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda